Orang dewasa melihat dunia ini sebagai tempat biasa dengan semestinya karena memang indera dan pikiran mereka sudah matang dan dewasa, mereka sudah biasa dengan dunia ini karena ya memang mereka sudah dewasa. Sedangkan anak kecil melihat dunia ini dengan penuh rasa ingin tahu, Ketidaktahuan yang ingin selalu mengetahui menjadikan mereka sebagai makhluk yang berhasrat. Bayangkan seorang anak yang hasrat ingin tahunya tidak pernah matang dan dewasa, ia akan menjadi anak dengan pikirian berusia seratus tahun di dalam kepalanya.
***
Alien-alien transparan berenang bersama bintang-bintang. Mereka meliak-liuk ke sana kemari di dalam kelompok. Ukuran mereka sangat besar sehingga membuat planet-planet di sekelilingnya terlihat seperti plankton-plankton. Sesekali mereka bertabrakan dengan komet dan planet-planet namun, tubuh mereka menembusnya karena entitas atom yang membentuk alien merupakan berbeda dengan entitas atom yang membentuk planet bumi, salah satunya.
Tata surya ini adalah samudera yang dalam.
Aku penasaran dengan apa yang akan aku temukan jika aku menjadi alien. Lantas, akupun menaruh kesadaranku di dalam alien. Kini aku melihat dunia melalui mata alien.
Eksplorasi tata surya di mulai.
Aku berenang bersama bintang-bintang.
Hal pertama yang ditangkap oleh inderaku adalah rasa, rasa takjub. Bukan, ini lebih dari sekedar kekaguman. Ini adalah perasaan ilahi. Sungguh beruntung menjadi alien.
Aku merasa sangat indah. Tidak, mereka (bintang-bintang) yang membuat aku terlihat indah. "Hey, bintang lihatlah mataku tentang betapa indahnya kalian!
Sejauh mata memandang adalah kegelapan total yang bersinar. Kerlap-kerlipnya begitu membius semua inderaku.
Untuk sejenak, akupun tersadar.
"Baru kusadari jika asal usul kita berasal dari substansi seindah ini. Kita berasal dari keindahan."
Sudah cukup perasaan takjubnya. Banyak yang harus kupikirkan. Sebelumnya aku telah menyebut tentang kegelapan total, maka akupun beramsumsi bahwa tata surya tempat tinggal kita sekarang ini berada dalam kedalaman zona afotik. Semakin gelap maka semakin dalam.
Ingin sekali aku berenang naik untuk mengetahui apa yang ada di atas sana. Namun aku ragu apakah aku (pikiran) akan mencapainya karena itu terlihat jauh sekali.
Ingin sekali aku berenang turun untuk mengetahui apa yang ada di dalam sana. Namun aku khawatir jikalau aku (jiwa) tenggelam dan tidak bisa kembali ke planet bumi.
***
Untuk saat ini kondisi organis manusia seperti seekor ikan keluar kolam yang meronta-ronta di daratan jika berada di ruang angkasa.
Namun, aku melihat harapan pada waktu ratusan atau ribuan tahun mendatang.
Aku melihat evolusi. Aku berasumsi ini bukan puncaknya karena segalanya bersifat simultan.
Untuk anak-anak kita dan para keturunannya nanti.
Aku melihat para brilian.
Aku melihat technology dan terobosan baru terus menerus.
Atmosfer tidak lagi menjadi kendala. Mereka menemukan mesin yang mampu mengkonvert radiasi kosmik dan kehampaan menjadi oksigen buatan.
Mereka memipihkan ruang dimensi, menarik jarak ratusan cahaya menjadi sangat dekat sehingga waktu tidak lagi menjadi perkara.
***
Persona penulisanmu berubah-ubah wujud, apa kau memiliki kepribadian ganda?
Aku tidak memiliki kepribadian ganda, aku bertransformasi. Terkadang aku adalah gadis cantik yang membutuhkan emosi. terkadang aku adalah pikiran yang berenang di samudera galaksi. Terkadang aku adalah kesadaran yang rindu akan asal usulnya, rindu akan darimana aku berasal.
Aku rindu menjadi angin berhembus di antara dedaunan. Aku rindu menjadi cahaya buram di dalam lautan. Aku rindu menjadi embun pagi di hutan belantara. Aku merindukan aku.
Bukannya aku tidak bisa melihatmu. Aku lelah dengan ketidakwarasanmu. Kau terlalu terlarut dalam kesedihan sehingga membuatmu terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki jiwa.
Saat seseorang berada dalam titik terdalam. Mata, hati, dan jiwanya terpejam. Ia tidak melihat apapun. Ia hanya melihat kesedihan. Ia hanya tenggelam.
***
Nalurinya mengatakan bahwa sore ini adalah saatnya para zebra menyebrang sungai. Ia bersama kelompok kecilnya menunggu di sana. Menunggu gemuruh dentakan langkah-langkah kaki herbivora sampai waktu yang ditunggupun tiba.
Zebra pertama masuk ke dalam air untuk menyebrang, zebra kedua, ketiga dan seterusnya.
Meski para zebra sudah mulai menyeberang. Ia masih menunggu di sana. Belum bergeming dari tempatnya. Memperhatikan para zebra satu persatu. Memilah-milah mana mangsa yang paling potensial. Karena ia adalah seekor buaya muda yang masih membutuhkan banyak pengalaman untuk berburu.
Setelah membiarkan lewat banyak zebra, akhirnya ia mendapatkan satu calon anak zebra potensial yang berjalan terpincang-pincang di seberang sisi sungai lainnya. Kakinya cedera dan ia ragu-ragu untuk masuk ke dalam air.
Naluri si buaya mengatakan bahwa kondisi psikologis zebra itu adalah pilihan yang tepat. Ia berenang mendekati garis penyebrangan calon mangsanya.
Setelah mempertimbang-timbang untuk masuk ke dalam air atau tidak, akhirnya ia memutuskan masuk ke dalam air untuk menyeberang.
Anak zebra pincang itu berenang dengan satu kaki cedera. Perlahan-lahan daratan tempat ia melompat sebelumnya mulai menjauh. Ia tidak menyadari bahwa ia sedang mendekati maut. Nalurinya hanya berkata untuk menyeberang.
Buaya muda yang telah mengawasinya sejak tadi masih terus menunggu di garis penyebrangan. Ia menunggu untuk anak zebra cedera itu yang sedang mendekati nya.
Dekat, dekat, dan semakin dekat, sampai akhirnya tubuh anak zebra cedera itu menyentuh moncong buaya muda.
Lahapan pertama, gagal.
Meski cedera, anak zebra masih memiliki kepiawaian untuk menghindari lahapan buaya muda.
Lahapan kedua, gagal.
Lahapan ketiga, gagal.
Sampai akhirnya anak zebra cedera itu berhasil meraih daratan untuk menyeberang.
Itu adalah kloter terakhir dari transmigrasi zebra musim ini. Tidak ada cukup waktu untuk menunggu musimdepan, karena buaya muda itu akan mati kelaparan jika harus menunggu selama itu.
Yang lebih menyedihkan lagi yaitu bahkan tidak hanya dia (buaya muda) yang bertampang melas saat ini, namun buaya-buaya tua dan muda lainnya juga merasakan hal sama. Berpengalaman(dalam berburu) atau tidak berpengalaman.
Sampai akhirnya muncul beberapa manusia yang datang untuk memberikan daging cuma-cuma kepada kelompok buaya tersebut.
Mereka ada di sana tidak hanya memerhatikan adegan intens penyebrangan kelompok zebra melewati kelompok buaya. Namun juga mengatur segalanya.
Buaya adalah salah satu contoh hewan yang evolusinya masih kurang sempurna. Tubuh dan caranya bergerak masih kurang efektif untuk berburu. Ia sangat berbahaya ketika mulutnya menganga namun kurang saat tertutup.
Jikalau manusia tidak turut mengambil andil dalam kehidupan liar buaya, mungkin buaya sudah punah karena kelaparan.
"Terima kasih manusia untuk kepeduliannya"
- Buaya
Zeb Hogan
Host of NatGeoWild Monsterfish
And Research Biologist

No comments:
Post a Comment