Blue Nebula
Kamu sedang menyaksikan sebuah pertunjukan representasi ide. Pembukaan dan refleksi jiwa terhadap as imagined as the globe (notice the site design) and the talking eye with no words.
***
Karena terlalu lelah berenang, pikiranku kembali ke planet bumi. Masih di waktu dan tempat sama yaitu mesin waktu di atap rumahku.
Di sana aku berbaring dengan menyandarkan kepala kepada kedua tangan, menghadap ke angkasa.
Orang yang sudah tiada akan menjadi ide abadi selamanya. Menjadi ide tentang surga, bahwa mereka berada di sana ditemani para malaikat bermata basah. Ada yang berjonggot tebal, ada yang berjenggot tipis, dan ada juga yang tidak berjenggot.
Bangunan di sana dipondasikan dengan pilar-pilar yang tinggi dengan dinding banyak jendela berhordeng putih transparan mempersilahkan cahaya untuk bertamu. Bulu-bulu halus berwarna putih berterbangan di dalam cahaya itu. Sesekali malaikat bermata basah lewat mengibas bulu-bulu. Tersentuh, entitas yang sama.
Tanpa khawatir dengan kehadiran orang tua, Anak-anak berlarian gembira di kebun yang dipenuhi bermacam-macam bunga. Warnanya banyak dan selalu mekar.
Jika malam tiba, kunang-kunang di sana tidak menghindar untuk menjauh karena khawatir akan disakiti oleh kehadiran manusia. Mereka akan terbang mengelilingimu menemanimu berjalan di malam hari.
Mungkin saja salah satu dari kunang-kunang itu merupakan kesadaran seseorang yang memperhatikanmu sepanjang hari. Karena seseorang tersebut tidak bisa hadir untukmu, maka ia mengirim sekeping bagian kesadarannya kepadamu.
Kunang-kunang dengan kamera mikro. Teknologi surga pasti sangatlah maju karena di sana terdapat banyak cahaya kesadaran-kesadaran ide cemerlang yang melayang-layang di langit surga!
Kehebatan surga pasti sangat tidak tertandingi karena di sana berkumpul tokoh-tokoh ambisius, filsuf-filsuf tersohor, dan ilmuwan-ilmuwan ilmu pasti dalam rentang waktu 4000 peradaban manusia. Albert Einstein, Isaac Newton, Napoleon, Thomas Alpha Edison, Plato, Aristoteles, Lao Tzu, Ghandi dan masih banyak lagi.
Tiba-tiba saja aku merasa ada yang tidak beres dengan caraku melihat surga. Proyeksinya memudar seperti televisi yang kehilangan sinyal. Setelah itu bagian dari kesadaranku kembali ke atap rumah menghadap angkasa dan sebagian lagi masih di surga. Kedua mataku tidak lagi berkedip tetapi menyipit dengan lambat. Aku tertidur.
•
Ada yang meronta-ronta.
Meronta-ronta mencoba untuk keluar.
Bukan ronta paksaan.
Asal rontaan itu berasal dari toples kaca mini (Jar) terbalik yang tidak ada tutupnya.
Setelah meronta-ronta beberapa saat ia berhasil mengeluarkan sebagian dirinya dan kemudian seluruhnya.
Ia terbang ke sana ke mari dengan lincah di atas tubuhku.
Berputar-putar sejenak beberapa kali kemudian mendekati wajahku.
Diam lama di sana.
Bukan dalam kondisi penasaran tetapi mengamati.
Kerlap-kerlipnya menyinari wajahku yang sedang tertidur pulas.
Setelah pengamatan sementara kemudian ia masuk ke dalam kepalaku di bagian dahi.
Di dalam sana, di alam bawah sadarku ia menjadi bunga tidur memproyeksikan dirinya sebagai tampilan musikal.
Chester Bennington performing One More Light

No comments:
Post a Comment