Thursday, August 13, 2020

Weak Sense

Lagi, tiba-tiba saja inderaku menangkap sesuatu. Aku merasakan kehadiran seseorang di tempat ini namun bukan ia yang merupakan sesuatu yang lain dalam diriku.

Tidak, ini bukan hanya seorang. Aku merasakan kehadiran beberapa orang di tempat ini. Tidak, ini bukan hanya beberapa. Ini adalah keramaian.

Situs ini masih terlihat begitu alami. Tidak mungkin sudah dilihat oleh banyak mata.

Aku mempertajam indera dan pikiranku. Fokus, meraba-raba dalam gelap mecari alasan dari mana datangnya perasaan ini. Perasaan akan kehadiran orang lain.

Namun sejauh mata memandang aku hanya melihat aku. Akupun menaruh perhatian pada kelompok cahaya berwarna-warni di hadapanku. Apakah perasaan ini datang dari mereka? Apakah mereka adalah entitas yang memiliki kesadaran seperti kita? Kenapa mereka saling berdekatan? Berbeda dengan bintang-bintang yang saling menaruh jarak dengan bintang lainnya.

Bagaimana jika mereka (kelompok cahaya berwarna-warni) benar-benar memiliki kesadaran seperti kita? Dan alasan mereka saling berdekatan dikarenakan mereka tidak hanya selalu memikirkan diri mereka sendiri?

Seperti aku. Pikiranku jauh pergi ke angkasa namun pikiranku tidak menutup diri kepada orang di planet bumi. Aku tidak hanya memikirkan aku.

Perhatianku masih tertuju pada mereka. Aku kembali menyentuhnya kemudian ia meleleh lagi dan kembali lagi. Kusentuh lagi kemudian ia meleleh lagi dan kembali lagi. Aku kembali menyentuhnya dan berharap akan terjadi sesuatu yang lain namun hasilnya tetap sama, meleleh lagi dan kembali lagi. Kali ini aku sentil, meleleh lagi dan kembali lagi. Aku cubit, meleleh lagi dan kembali lagi. Aku belai, meleleh lagi dan kembali lagi. Aku cium, meleleh lagi dan kembali lagi.

Banyak cara telah kucoba namun hasilnya tetap sama.

Hey, cahaya! Apa kau tidak memiliki respon yang lain? Kau hanya meleleh dan kembali setiap kali kusentuh! Sekarang sudah bukan zaman abad pertengahan yang kental dengan romantisme! Atau jangan jangan kalian masih hidup di zaman itu?!!

Terbesit di dalam benakku tentang apa yang akan terjadi jika aku membuat mereka saling bersentuhan. Aku sedikit khawatir, mereka memang tidak terlihat berbahaya namun siapa yang tahu tentang apa yang akan terjadi terhadap reaksi kimia jika cahaya berwarna ini saling bersentuhan. Mungkin saja akan terjadi ledakan big bang mini buatan. Atau munculnya lubang hitam. Atau mungkin saja hanya meleleh.

Setelah menimbang-nimbang dalam hati akhirnya aku lebih memilih rasa penasaran dibandingkan rasa khawatir.

Kini ada dua binar cahaya menerangi ke dua genggam tanganku. Lelehannya sungguh terasa mengalir di atas kulitku..:'(

Di genggam tangan kiriku binarnya berwarna merah dan di genggam tangan kananku binarnya berwarna putih.

Dengan pelan kudekatkan kedua genggam tanganku sehingga kedua cahaya ini saling bertemu. Sinarnya membesar. Kini bukan hanya genggam tanganku, namun seluruh tubuhku disinari oleh-nya. Kali ini bersuhu. Terasa hangat. Rasanya seperti berpelukan tanpa pakaian. Kemudian dalam selang beberapa waktu, sinarnya kembali ke ukurannya yang semula. Namun, dengan keadaan sedikit berbeda. Ada sebuah nama terukir pada masing-masing cahaya. Terukir epik dengan huruf sambung.

Yang merah bertuliskan Albert Einstein dan yang putih bertuliskan Thomas Alpha Edison. 

Lagi, inderaku terbius dengan apa yang sedang terjadi.

Mereka (cahaya berwarna-warni) semua adalah kesadaran.

Aku bukan pikiran pertama yang menyelam ke dalam sini. 100 tahun yang lalu Albert Einstein telah berada di tempat ini, di situs purba ini. Dan masih banyak sekali kesadaran bersinar di tempat ini. Tidak akan sempat untukku mecari tahu tentang siapa saja mereka semua.

Aku mengambil dua binar cahaya. Kali ini berwarna biru dan kuning.

Yang kuning bernama Lao Tzu, yang biru bernama Napoleon. Tunggu, aku melihat pesan pendek pada binar berwarna biru. Di situ tertulis, Anak kecil tidak boleh berada di sini. Apa maksud pesan tersebut? Mungkin ia khawatir dengan kecerobohan pikiran anak kecil yang dapat merusak situs purba ini.

Selagi memperhatikan kelompok cahaya, aku menemukan beberapa binar cahaya berbeda di antara mereka. Binar-binar cahaya ini tidak terlihat seperti binar kesadaran berakal namun, lebih terlihat seperti binar cahaya kesadaran berseni. Aku mengambil dua binar cahaya di antara mereka.

Binar cahaya yang ku genggam dengan menggunakan tangan kananku terlihat masih sangat muda. Caranya bersinar terlihat berbeda, ia berkerlip lebih cepat. Semakin diperhatikan semakin terlihat konyol. Setelah membuat mereka saling bertemu, aku mendapatkan dua ukir nama. Yang konyol bernama Marcus dan yang lainnya bernama Mickey.

Kembali ku melihat perbedaan di antara mereka. Sepertinya terdapat bermacam-macam jenis binar cahaya di antara mereka. Kali ini aku mendapatkan binar cahaya yang agak redup. Aku berasumsi bahwa binar-binar ini adalah termasuk binar cahaya kesadaran yang tersadar melalui perantara. Cahaya kesadaran yang bersinar karena dibersinarkan. Sedikit demi sedikit mereka disinari oleh perantara tersebut sehingga menjadi binar cahaya kesadaran mandiri. Perantara tersebut bisa merupakan sebuah buku, musik, Sekolah dll. Perantara yang mampu merangsang indera dan pikiran mereka. Jumlah mereka ada banyak sekali. Aku mengambil dua binar cahaya di antara mereka.

Setelah mempertemukan dua binar cahaya tersebut. Aku mendapatkan dua ukir nama.

Fauzi dan Atmojo.

Kowalski.








No comments:

Post a Comment