Tuesday, August 18, 2020

Weak Sense


Kamu hanya menaruh perhatian dan berpikir pada hal yang terlihat indah?

Tidak, aku bukan tipe superficial. Jika aku orang yang begitu, itu sama saja dengan aku kurang mengenal dunia ide. Aku juga menaruh perhatian dan memikirkan hal yang terlihat jelek :p

Kebanyakan orang yang lebih suka hidup di dunia materi menggunakan metode mengindrai kemudian berpikir. Mereka berpikir bahwa tahap awal mereka lahir di dunia adalah dengan menggunakan indera mereka.

Kamu adalah seorang bayi yang baru saja dilahirkan. Pengalaman pertama kamu di dunia adalah indera. Indera pendengar, pengalaman pertamu kamu di dunia adalah mendengar kondisi suasana rumah sakit, puskesmas, di rumah sendiri, atau dukun dll. Indera pembau, pengalaman pertama kamu di dunia adalah dengan mencium aroma kondisi suasana tempat kamu dilahirkan. Dan dengan ketiga indera lainnya.

Meskipun indera kamu belum cukup kuat namun itulah pengalaman pertama kamu hidup di dunia, bukan berpikir. Kerjaan kamu sebagai seorang bayi yang baru saja dilahirkan adalah menangis, tidur, menangis, tidur, tak ada waktu bagimu untuk berpikir hingga nanti saatnya tiba fase bayi melihat untuk berpikir.

• Fase bayi melihat untuk berpikir

Hari ini adalah hari pertama kamu melihat untuk berpikir. Hari ini adalah hari pertama dunia menyentuh pikiranmu.

Sebagai contoh, hari ini adalah hari pertama kamu melihat wajah ayahmu dengan menggunakan pikiranmu. Cara kamu melihatnya adalah dengan cara ketidaktahuan yang begitu hebat. Kamu seperti sedang melihat alien luar angkasa bertubuh besar yang mengeluarkan suara bip bip bip nang ning ning nang ning nung. Ketidaktahuan kamu akan visual ayah kandungmu diserap oleh indera yang kemudian merangsang pikiran abstraksimu untuk terus berpikir tanpa jeda. Karena Kondisi pikiranmu masih sangat muda dan tunas sehingga kamu merespon ketidaktahuan itu dengan menggunakan emosi hati. Senyum pertama pada bayi di fase melihat untuk berpikir adalah senyum murni dari hati, tanpa alasan.

• Fase berpikir untuk melihat

Pada saat ini kamu bukan lagi seorang bayi. Kamu adalah : 

Anak kecil yang sudah cukup dewasa
Remaja
Orang tua

Pada fase ini kamu tidak hanya melihat untuk berpikir namun juga sebaliknya, kamu berpikir untuk melihat.

Kamu sedang melihat sebatang pohon. Pada saat melihatnya kamu tidak lagi berpikir bahwa itu adalah sebatang pohon. Pikiranmu sudah mengetahui bahwa itu adalah sebatang pohon karena sosok visual sebatang pohon sudah terekam di dalam pikiranmu. Kali ini kamu berpikir untuk melihat sebatang pohon. Kamu berpikir apa yang dapat kulakukan kepada sebatang pohon itu. Akhirnya muncul ide di dalam pikiranmu untuk membuat ayunan anak-anak.

°

Jika kamu benar-benar menyimak apa yang sudah aku pikirkan di atas tadi, apa inti yang kamu dapatkan dari-nya?

Dunia materi adalah melihat untuk berpikir sedangkan, dunia ide adalah berpikir untuk melihat.

Tidak hanya sampai disitu, pengembangan dan pendewasaan diri masih terus berlanjut pada fase berpikir untuk melihat.

Peradaban manusia seperti seni budaya, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya adalah bagian yang dihasilkan dari dunia ide.

Estetika akan keindahan juga merupakan bagian dari dunia ide. Suara indah yang ditimbulkan dari sebuah siulan membuat manusia dari dunia ide untuk berpikir menciptakan seruling.

Kamu sedang mendengarkan musik Jazz. Lantunan nada yang diserap oleh indera kemudian dikenal atau diketahui oleh otak sebagai entitas yang indah sehingga membuatmu menangis dengan alasan karena kamu sudah memasuki fase berpikir untuk melihat.

Kali ini aku akan memberikan contoh indera penglihatan. Pemandangan indah di gunung adalah sebuah estetika. Keayuban dan ketidaksengajaan pembentukan visual yang diserap oleh indera penglihatanmu lalu dikirim ke otak dan kemudian menimbulkan perasaan indah adalah sebuah kejadian berpikir untuk melihat karena otakmu sudah mengenal obyek-obyek yang mendukung penampakan indah tersebut. Obyek-obyek itu bisa seperti pepohonan, sungai, sinar matahari, burung dll.

Fase kualitas pengembangan dan pendewasaan diri manusia tidak hanya sampai di situ. Perasaan indah (esteteka) juga bisa timbul dari obyek yang tidak indah jika pikiranmu mampu melihatnya.

Sebagai contoh, aku bisa menangis karena melihat karang-karang jelek berwarna cokelat yang berjongkokkan di dalam laut. Kenapa aku menangis? Karena pikiranku sedang melihat sebuah kondisi purba bawah air yang terbentuk alami dalam waktu 500 tahun.

"Semuanya memiliki keindahan namun tidak semua orang melihatnya"
(Andy Warhol)

Jadi kesimpulan lain dari pikiran hari ini adalah :

Dunia materi adalah segala hal yang kita lihat di dunia seperti pohon, burung, matahari, air dsb.

Dunia ide adalah buah pikiran yang kita pikirkan sehingga menghasilkan sebuah ide atau banyak ide seperti karya seni, ilmu pengetahuan, gagasan, opini (bukan seratus persen ide murni karena sifatnya bukan menggagas) dsb.



Sunday, August 16, 2020

Weak Sense

Blue Nebula

Nah, Jika kita berpikir (sudut pandang) bahwa kedua binar yang menonjol ini sebagai wanita, kamu mungkin berpikir bahwa kamu sedang menyaksikan ajang pertunjukan keindahan visual organis wanita namun, tidak bagiku.

Kamu sedang menyaksikan sebuah pertunjukan representasi ide. Pembukaan dan refleksi jiwa terhadap as imagined as the globe (notice the site design) and the talking eye with no words.

***

Karena terlalu lelah berenang, pikiranku kembali ke planet bumi. Masih di waktu dan tempat sama yaitu mesin waktu di atap rumahku.

Di sana aku berbaring dengan menyandarkan kepala kepada kedua tangan, menghadap ke angkasa.

Orang yang sudah tiada akan menjadi ide abadi selamanya. Menjadi ide tentang surga, bahwa mereka berada di sana ditemani para malaikat bermata basah. Ada yang berjonggot tebal, ada yang berjenggot tipis, dan ada juga yang tidak berjenggot.

Bangunan di sana dipondasikan dengan pilar-pilar yang tinggi dengan dinding banyak jendela berhordeng putih transparan mempersilahkan cahaya untuk bertamu. Bulu-bulu halus berwarna putih  berterbangan di dalam cahaya itu. Sesekali malaikat bermata basah lewat mengibas bulu-bulu. Tersentuh, entitas yang sama.

Tanpa khawatir dengan kehadiran orang tua, Anak-anak berlarian gembira di kebun yang dipenuhi bermacam-macam bunga. Warnanya banyak dan selalu mekar.

Jika malam tiba, kunang-kunang di sana tidak menghindar untuk menjauh karena khawatir akan disakiti oleh kehadiran manusia. Mereka akan terbang mengelilingimu menemanimu berjalan di malam hari.

Mungkin saja salah satu dari kunang-kunang itu merupakan kesadaran seseorang yang memperhatikanmu sepanjang hari. Karena seseorang tersebut tidak bisa hadir untukmu, maka ia mengirim sekeping bagian kesadarannya kepadamu.

Kunang-kunang dengan kamera mikro. Teknologi surga pasti sangatlah maju karena di sana terdapat banyak cahaya kesadaran-kesadaran ide cemerlang yang melayang-layang di langit surga! 

Kehebatan surga pasti sangat tidak tertandingi karena di sana berkumpul tokoh-tokoh ambisius, filsuf-filsuf tersohor, dan ilmuwan-ilmuwan ilmu pasti dalam rentang waktu 4000 peradaban manusia. Albert Einstein, Isaac Newton, Napoleon, Thomas Alpha Edison, Plato, Aristoteles, Lao Tzu, Ghandi dan masih banyak lagi.

Tiba-tiba saja aku merasa ada yang tidak beres dengan caraku melihat surga. Proyeksinya memudar seperti televisi yang kehilangan sinyal. Setelah itu bagian dari kesadaranku kembali ke atap rumah menghadap angkasa dan sebagian lagi masih di surga. Kedua mataku tidak lagi berkedip tetapi menyipit dengan lambat. Aku tertidur.


Ada yang meronta-ronta.
Meronta-ronta mencoba untuk keluar.
Bukan ronta paksaan. 
Asal rontaan itu berasal dari toples kaca mini (Jar) terbalik yang tidak ada tutupnya. 
Setelah meronta-ronta beberapa saat ia berhasil mengeluarkan sebagian dirinya dan kemudian seluruhnya.
Ia terbang ke sana ke mari dengan lincah di atas tubuhku.
Berputar-putar sejenak beberapa kali kemudian mendekati wajahku.
Diam lama di sana.
Bukan dalam kondisi penasaran tetapi mengamati.
Kerlap-kerlipnya menyinari wajahku yang sedang tertidur pulas.
Setelah pengamatan sementara kemudian ia masuk ke dalam kepalaku di bagian dahi.
Di dalam sana, di alam bawah sadarku ia menjadi bunga tidur memproyeksikan dirinya sebagai tampilan musikal.

Chester Bennington performing One More Light














Saturday, August 15, 2020

Weak Sense (Skeleton Heart)

Ukirannya terlihat agak pudar sehingga sulit untuk dibaca. Apa ini akibat radiasi kosmik atau sesuatu yang lain?

Di mana kamu menemukan ini?

Selagi kau sedang asyk berpikir, aku menemukannya dengan kondisi lebih saling berdekatan dari binar-binar lainnya, bahkan menempel. Aku penasaran kenapa tidak terjadi momentum binar cahaya ketika mereka saling bersentuhan. Lantas akupun tidak hanya membuat mereka bersentuhan, namun melebur mereka menjadi satu.

Kowalski Van Jare... Sampai sini ukirannya sudah tidak terbaca, merah.

Pasangannya berwarna biru pekat, merefleksikan kedalaman dan kesuraman pada mata. Binar ini terlihat sedih. Di situ terukir Tete... Teter... Sulit dibaca, abstraksi yang menyebalkan.

Untuk saat ini, mereka adalah binar yang paling menonjol. Aku yang pertama kali menemukannya, apakah aku boleh menganggap kehadirannya untukku dan memilikinya?

Tidak boleh, kita sudah mengambil tiga binar cahaya. Itu sudah cukup banyak untuk dimiliki. Sifat ingin memiliki adalah benih keserakahan, itu bukan caraku dalam melihat sebuah keindahan.

Sebagai contoh, kita anggap saja entitas keindahan dalam soal ini adalah wanita. Caraku melihat wanita tidak hanya melalui sudut pandang visual organis. Jika kamu hanya memiliki sudut pandang ini, lambat laun ketertarikanmu padanya akan memudar karena segalanya yang bersifat organis akan menua dan visual tersebut akan membuatmu tidak tertarik lagi.

Aku juga melihat mereka sebagai sebuah ide. Entitas yang merangsang indera dan pikiranku sehingga memberi aku alasan untuk berpikir. Dan jika seandainya kebetulan kamu mendapatkan wanita ideal yang juga melihatmu sebagai ide, kalian akan menciptakan dan mengeksplorasi dunia ide bersama-sama, menambah banyak kesadaran baru bersama-sama serta berevolusi bersama-sama. Koneksi pasangan ideal seperti ini bersifat abadi karena dunia ide berbeda dengan dunia materi. Visual organis yang diserap oleh indera kita dalam dunia materi akan menua dan menjadi tidak menarik, keindahan dalam dunia materi hanya bersifat sementara. Berbeda dengan dunia ide. Keindahan dalam dunia ide tidak menua namun berevolusi. Abadi dan selamanya.

Sebagai contoh,
Ribuan tahun yang lalu manusia membutuhkan sebuah ide untuk menyeberangi sungai, Maka dari itu ditemukanlah ide untuk membuat perahu parit sederhana berbentuk kotak tanpa atap. Lambat laun ide tentang membuat perahu parit berevolusi menjadi ide membuat kapal pesiar. Dan sampai saat ini ide tersebut tidak akan pudar karena tidak mungkin manusia menyeberangi samudera dengan cara berenang. Abadi dan selamanya. 

Begitu pula ide cinta dalam dunia ide. Dalam dunia ide, cinta bersifat abadi dan selamanya. Cinta dalam dunia ide mencintai segala kekurangan dan kelebihanmu. Cinta dalam dunia ide tidak mencintai kamu sebagai bukan kamu, melainkan mencintai kamu sebagai kamu. Cinta dalam dunia ide tidak hanya melihatmu sebagai subyek visual, cinta dalam dunia ide melihatmu sebagai cinta karena dalam dunia dunia ide kalian berdua adalah dua entitas yang sama, yaitu cinta.

Lambat laun cinta dalam dunia ide berevolusi. Cinta dalam dunia ide menyadari bahwa cinta tidak cukup jika hanya mencintai. Cinta dalam dunia ide harus merefleksikan ide cintanya menjadi kenyataan melalui tindakan yang mengandung afeksi. Bagus saja tidak cukup, cinta dalam dunia idepun berusaha untuk menjadi hebat. Hebat saja tidak cukup, cinta dalam dunia idepun berusaha untuk menjadi bagus.

Cinta dalam dunia ide adalah cinta yang mudah mati karena cinta dalam dunia ide begitu rapuh. Cinta dalam dunia ide mudah sekali untuk tenggelam karena cinta dalam dunia ide adalah perenang payah yang rela menyeberangi samudera. Hidup cinta dalam dunia ide berlangsung abadi dan selamanya begitu juga dengan kematiannya, karena cinta dalam dunia ide hanya terjadi sekali.

Kematiannya yang abadi tidak berarti membuat cinta dalam dunia ide kehilangan eksistensinya. Kematian membuat Ia berevolusi menjadi entitas yang pekat dan gelap. Yang awalnya hidup seni cinta dalam dunia ide bersifat cair dan hangat kini kandungan itu berubah menjadi dingin dan beku, meneriakkan (scream) kematiannya melalui seni kandungan tersebut.

Skeleton heart emo love - The evolution of the dying idea of love.

Thursday, August 13, 2020

Weak Sense

Lagi, tiba-tiba saja inderaku menangkap sesuatu. Aku merasakan kehadiran seseorang di tempat ini namun bukan ia yang merupakan sesuatu yang lain dalam diriku.

Tidak, ini bukan hanya seorang. Aku merasakan kehadiran beberapa orang di tempat ini. Tidak, ini bukan hanya beberapa. Ini adalah keramaian.

Situs ini masih terlihat begitu alami. Tidak mungkin sudah dilihat oleh banyak mata.

Aku mempertajam indera dan pikiranku. Fokus, meraba-raba dalam gelap mecari alasan dari mana datangnya perasaan ini. Perasaan akan kehadiran orang lain.

Namun sejauh mata memandang aku hanya melihat aku. Akupun menaruh perhatian pada kelompok cahaya berwarna-warni di hadapanku. Apakah perasaan ini datang dari mereka? Apakah mereka adalah entitas yang memiliki kesadaran seperti kita? Kenapa mereka saling berdekatan? Berbeda dengan bintang-bintang yang saling menaruh jarak dengan bintang lainnya.

Bagaimana jika mereka (kelompok cahaya berwarna-warni) benar-benar memiliki kesadaran seperti kita? Dan alasan mereka saling berdekatan dikarenakan mereka tidak hanya selalu memikirkan diri mereka sendiri?

Seperti aku. Pikiranku jauh pergi ke angkasa namun pikiranku tidak menutup diri kepada orang di planet bumi. Aku tidak hanya memikirkan aku.

Perhatianku masih tertuju pada mereka. Aku kembali menyentuhnya kemudian ia meleleh lagi dan kembali lagi. Kusentuh lagi kemudian ia meleleh lagi dan kembali lagi. Aku kembali menyentuhnya dan berharap akan terjadi sesuatu yang lain namun hasilnya tetap sama, meleleh lagi dan kembali lagi. Kali ini aku sentil, meleleh lagi dan kembali lagi. Aku cubit, meleleh lagi dan kembali lagi. Aku belai, meleleh lagi dan kembali lagi. Aku cium, meleleh lagi dan kembali lagi.

Banyak cara telah kucoba namun hasilnya tetap sama.

Hey, cahaya! Apa kau tidak memiliki respon yang lain? Kau hanya meleleh dan kembali setiap kali kusentuh! Sekarang sudah bukan zaman abad pertengahan yang kental dengan romantisme! Atau jangan jangan kalian masih hidup di zaman itu?!!

Terbesit di dalam benakku tentang apa yang akan terjadi jika aku membuat mereka saling bersentuhan. Aku sedikit khawatir, mereka memang tidak terlihat berbahaya namun siapa yang tahu tentang apa yang akan terjadi terhadap reaksi kimia jika cahaya berwarna ini saling bersentuhan. Mungkin saja akan terjadi ledakan big bang mini buatan. Atau munculnya lubang hitam. Atau mungkin saja hanya meleleh.

Setelah menimbang-nimbang dalam hati akhirnya aku lebih memilih rasa penasaran dibandingkan rasa khawatir.

Kini ada dua binar cahaya menerangi ke dua genggam tanganku. Lelehannya sungguh terasa mengalir di atas kulitku..:'(

Di genggam tangan kiriku binarnya berwarna merah dan di genggam tangan kananku binarnya berwarna putih.

Dengan pelan kudekatkan kedua genggam tanganku sehingga kedua cahaya ini saling bertemu. Sinarnya membesar. Kini bukan hanya genggam tanganku, namun seluruh tubuhku disinari oleh-nya. Kali ini bersuhu. Terasa hangat. Rasanya seperti berpelukan tanpa pakaian. Kemudian dalam selang beberapa waktu, sinarnya kembali ke ukurannya yang semula. Namun, dengan keadaan sedikit berbeda. Ada sebuah nama terukir pada masing-masing cahaya. Terukir epik dengan huruf sambung.

Yang merah bertuliskan Albert Einstein dan yang putih bertuliskan Thomas Alpha Edison. 

Lagi, inderaku terbius dengan apa yang sedang terjadi.

Mereka (cahaya berwarna-warni) semua adalah kesadaran.

Aku bukan pikiran pertama yang menyelam ke dalam sini. 100 tahun yang lalu Albert Einstein telah berada di tempat ini, di situs purba ini. Dan masih banyak sekali kesadaran bersinar di tempat ini. Tidak akan sempat untukku mecari tahu tentang siapa saja mereka semua.

Aku mengambil dua binar cahaya. Kali ini berwarna biru dan kuning.

Yang kuning bernama Lao Tzu, yang biru bernama Napoleon. Tunggu, aku melihat pesan pendek pada binar berwarna biru. Di situ tertulis, Anak kecil tidak boleh berada di sini. Apa maksud pesan tersebut? Mungkin ia khawatir dengan kecerobohan pikiran anak kecil yang dapat merusak situs purba ini.

Selagi memperhatikan kelompok cahaya, aku menemukan beberapa binar cahaya berbeda di antara mereka. Binar-binar cahaya ini tidak terlihat seperti binar kesadaran berakal namun, lebih terlihat seperti binar cahaya kesadaran berseni. Aku mengambil dua binar cahaya di antara mereka.

Binar cahaya yang ku genggam dengan menggunakan tangan kananku terlihat masih sangat muda. Caranya bersinar terlihat berbeda, ia berkerlip lebih cepat. Semakin diperhatikan semakin terlihat konyol. Setelah membuat mereka saling bertemu, aku mendapatkan dua ukir nama. Yang konyol bernama Marcus dan yang lainnya bernama Mickey.

Kembali ku melihat perbedaan di antara mereka. Sepertinya terdapat bermacam-macam jenis binar cahaya di antara mereka. Kali ini aku mendapatkan binar cahaya yang agak redup. Aku berasumsi bahwa binar-binar ini adalah termasuk binar cahaya kesadaran yang tersadar melalui perantara. Cahaya kesadaran yang bersinar karena dibersinarkan. Sedikit demi sedikit mereka disinari oleh perantara tersebut sehingga menjadi binar cahaya kesadaran mandiri. Perantara tersebut bisa merupakan sebuah buku, musik, Sekolah dll. Perantara yang mampu merangsang indera dan pikiran mereka. Jumlah mereka ada banyak sekali. Aku mengambil dua binar cahaya di antara mereka.

Setelah mempertemukan dua binar cahaya tersebut. Aku mendapatkan dua ukir nama.

Fauzi dan Atmojo.

Kowalski.








Tuesday, August 11, 2020

Weak Sense

Wandering soul

Mereka tidak menyadari keberadaanku. Mereka tidak menyadari bahwa ada yang berbeda dariku yang saat ini merupakan salah satu dari mereka. Aku terlihat sungguh sama namun caraku bergerak sangat berbeda. Aku merasa kaku mengepak-epakan sirip dan meliak-liuk ekor selagi berenang ke sana-sini. Berbeda sekali dengan mereka. Sikap mereka masih primitif, bersifat sosial dan tidak terlihat agresif.

Aku tidak melihat aktivitas konsumtif pada mereka. Mereka bukan termasuk organisme seperti kita yang membutuhkan aktivitas itu. Segala hal yang telah kita lihat dan pelajari di planet bumi hanyalah bagian yang sangat kecil dari alam semesta.

Bakteri bukanlah satu-satunya tanda kehidupan.

Segalanya yang bergerak adalah tanda kehidupan. Alam semesta adalah gerakan. Alam semesta adalah kehidupan. Rotasi bumi adalah kehidupan. Jantung yang bergerak untuk berdetak adalah kehidupan.

Bagaimana dengan benda langit lainnya yang juga memiliki gerakan namun hingga kini diyakini tidak memiliki tanda kehidupan?

(Aku menjawab pertanyaannya tanpa menyadari kehadiran ia yang merupakan sesuatu yang lain dalam diriku, ada di sini. Memperhatikanku sejak tadi. ikut berpikir.)

Bukan tidak namun, belum atau mungkin tidak.

Benda langit yang lain tidak (mungkin belum) memiliki tanda kehidupan dikarenakan mereka tidak (mungkin belum) mengalami terjadinya ketidaksengajaan kombinasi bermacam-macam substansi yang memungkinkan terjadinya (bukan tercipta, karena tercipta adalah definisi dari ketiadaan menjadi ada) kehidupan biologis.

Kehidupan biologis merupakan salah satu kejadian mikro dari apa yang sedang terjadi dengan alam semesta.

Sudut kesadaran:
Apa yang sedang terjadi... 

Jika kamu memperhatikan dengan seksama tentang apa yang sedang aku pikirkan sebelumnya. Maka kamu akan mengerti bahwa yang sedang kupikirkan saat ini bukan kehidupan berdasarkan biologi namun kehidupan berdasarkan segalanya.

Sebelumnya kamu memotong pikiranku yang berpikir bahwa alam semesta adalah kehidupan karena alam semesta memiliki gerakan. Hingga saat ini gerak kembang big bang masih terus berlanjut dan diyakini bahwa suatu saat nanti alam semesta akan mengempis menjadi kecil lagi lalu mengembang dan mengempis lagi. Seperti jantung yang berdetak.

Bintang jatuh di langit merupakan sebuah kehidupan. Ia masih mencari-cari dan menunggu raga (wadah) mana yang akan ia hinggapi. Mungkin ia akan menjadi sebatang pohon, atau menjadi mata air, bisa juga menjadi cicitmu nanti.



Seperti rusa yang ragu-ragu untuk menyeberang sungai yang dipenuhi oleh buaya, akhirnya aku memutuskan untuk menyelam. Begini rasanya berenang.

Aku masih belum terbiasa menjadi alien. Aku masih kaku. Jika saja sirip ini adalah tangan dan ekor ini adalah kaki, mungkin saat ini aku sudah tenggelam.

Aku sudah menyelam cukup dalam namun aku tidak melihat adanya perbedaan. Segalanya masih terlihat sama. Akupun menyelam semakin dalam. Meladeni jiwaku yang rindu akan asal usulnya. Rindu akan bagaimana rupa tempat jiwa ini berasal sebelum hinggap di dalam ragaku. Apakah di sana terdapat jiwa-jiwa lain. Apakah hanya aku.

Selagi sibuk berpikir, inderaku menangkap sesuatu.

Terdapat perbedaan di kejauhan sana. Jarak kerlap-kerlip cahaya dengan kerlap-kerlip cahaya lainnya lebih saling berdekatan. Mereka berwarna-warni. Saling menyinari antara warna satu dengan warna lainnya.

Setelah bergegas mempercepat ayunan siripku akhirnya aku sampai di tempat perbedaan itu berada. Berenang sejauh ini membuat jiwaku begitu haus.

Tempat ini merupakan kondisi purba yang telah berusia sekitar 14,7 milyar tahun. Aku (pikiranku) tidak boleh ceroboh dan sembarangan terhadap tempat ini. Butuh waktu ratusan juta tahun untuk kesembuhan alami jikalau aku melakukan kesalahan dan merusak tempat ini, itu tidak cukup tua.

Aku memperhatikan mereka. Cara mereka bersinar begitu anggun. Berbeda warna dan saling menyinari.

Dengan sangat berhati-hati aku mencoba menyentuh mereka. Mencari tahu apakah mereka merupakan entitas yang sama dengan raga alien yang raganya aku hinggapi saat ini.

Sama.

Cahayanya meleleh ketika kusentuh. Sangat rapuh seperti lilin yang mencair namun tidak bersuhu. Dan ketika sentuhanku terlepas lelehan itu kembali ke tempatnya semula. Caranya meleleh dan kembali sangat lambat, anggun.

Pikiranku meraba-raba apakah mereka merupakan sebuah keadaan pasif atau bagian dari sebuah proses kejadian seperti kejadian mikro yang terjadi pada planet bumi yaitu kehidupan biologis.

Jikalau mereka merupakan sebuah bagian dari sebuah proses kejadian maka akan terjadi sebuah hal besar di tempat ini. Aku berdoa semoga bukan kehidupan biologis. Aku mengharapkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang memiliki kesadaran seperti kita namun bukan keadaan organis. Pastinya akan terjadi sesuatu yang indah di sini karena mereka terlihat begitu cantik dan imut sehingga membuatku sangat ingin memilikinya. Seandainya saat ini aku memiliki toples kaca, aku akan membawa satu, dua, atau tiga dari mereka untuk kubawa pulang ke rumah.

Sudut kesadaran:
Apa yang akan terjadi.

Itu adalah sifat merusak! Jika banyak orang sepertimu maka tidak hanya situs ini, situs-situs lainnya di angkasa akan membutuhkan pertumbuhan alami! 

Apa salahnya memiliki satu, dua, atau tiga artefak jika jumlahnya ada berjuta-juta di angkasa.

Lagi, tiba-tiba saja inderaku menangkap sesuatu. Aku merasakan kehadiran seseorang di tempat ini namun bukan ia yang merupakan sesuatu yang lain dalam diriku.

Tidak, ini bukan hanya seorang. Aku merasakan kehadiran beberapa orang di tempat ini. Tidak, ini bukan hanya beberapa. Ini adalah keramaian.

Situs ini masih terlihat begitu alami. Tidak mungkin sudah dilihat oleh banyak mata. 

Aku bukan jiwa pertama yang datang ke tempat ini.
Aku bukan jiwa pertama yang menyentuh sinarmu (kataku dalam hati kepada cahaya yang sebelumnya kusentuh.)

Chris Martin English singer, songwriter, musician, record producer, and philanthropist. He is the lead singer and co-founder of the rock band Coldplay.

Saturday, August 8, 2020

Weak Sense

 Orang dewasa melihat dunia ini sebagai tempat biasa dengan semestinya karena memang indera dan pikiran mereka sudah matang dan dewasa, mereka sudah biasa dengan dunia ini karena ya memang mereka sudah dewasa. Sedangkan anak kecil melihat dunia ini dengan penuh rasa ingin tahu, Ketidaktahuan yang ingin selalu mengetahui menjadikan mereka sebagai makhluk yang berhasrat. Bayangkan seorang anak yang hasrat ingin tahunya tidak pernah matang dan dewasa, ia akan menjadi anak dengan pikirian berusia seratus tahun di dalam kepalanya.

***

Alien-alien transparan berenang bersama bintang-bintang. Mereka meliak-liuk ke sana kemari di dalam kelompok. Ukuran mereka sangat besar sehingga membuat planet-planet di sekelilingnya terlihat seperti plankton-plankton. Sesekali mereka bertabrakan dengan komet dan planet-planet namun, tubuh mereka menembusnya karena entitas atom yang membentuk alien merupakan berbeda dengan entitas atom yang membentuk planet bumi, salah satunya.

Tata surya ini adalah samudera yang dalam.

Aku penasaran dengan apa yang akan aku temukan jika aku menjadi alien. Lantas, akupun menaruh kesadaranku di dalam alien. Kini aku melihat dunia melalui mata alien.

Eksplorasi tata surya di mulai.

Aku berenang bersama bintang-bintang.
Hal pertama yang ditangkap oleh inderaku adalah rasa, rasa takjub. Bukan, ini lebih dari sekedar kekaguman. Ini adalah perasaan ilahi. Sungguh beruntung menjadi alien.

Aku merasa sangat indah. Tidak, mereka (bintang-bintang) yang membuat aku terlihat indah. "Hey, bintang lihatlah mataku tentang betapa indahnya kalian!

Sejauh mata memandang adalah kegelapan total yang bersinar. Kerlap-kerlipnya begitu membius semua inderaku.

Untuk sejenak, akupun tersadar.

"Baru kusadari jika asal usul kita berasal dari substansi seindah ini. Kita berasal dari keindahan."

Sudah cukup perasaan takjubnya. Banyak yang harus kupikirkan. Sebelumnya aku telah menyebut tentang kegelapan total, maka akupun beramsumsi bahwa tata surya tempat tinggal kita sekarang ini berada dalam kedalaman zona afotik. Semakin gelap maka semakin dalam.

Ingin sekali aku berenang naik untuk mengetahui apa yang ada di atas sana. Namun aku ragu apakah aku (pikiran) akan mencapainya karena itu terlihat jauh sekali.

Ingin sekali aku berenang turun untuk mengetahui apa yang ada di dalam sana. Namun aku khawatir jikalau aku (jiwa) tenggelam dan tidak bisa kembali ke planet bumi.

***

Untuk saat ini kondisi organis manusia seperti seekor ikan keluar kolam yang meronta-ronta di daratan jika berada di ruang angkasa. 

Namun, aku melihat harapan pada waktu ratusan atau ribuan tahun mendatang.

Aku melihat evolusi. Aku berasumsi ini bukan puncaknya karena segalanya bersifat simultan.

Untuk anak-anak kita dan para keturunannya nanti.

Aku melihat para brilian. 

Aku melihat technology dan terobosan baru terus menerus.

Atmosfer tidak lagi menjadi kendala. Mereka menemukan mesin yang mampu mengkonvert radiasi kosmik dan kehampaan menjadi oksigen buatan.

Mereka memipihkan ruang dimensi, menarik jarak ratusan cahaya menjadi sangat dekat sehingga waktu tidak lagi menjadi perkara.

***

Persona penulisanmu berubah-ubah wujud, apa kau memiliki kepribadian ganda? 

Aku tidak memiliki kepribadian ganda, aku bertransformasi. Terkadang aku adalah gadis cantik yang membutuhkan emosi. terkadang aku adalah pikiran yang berenang di samudera galaksi. Terkadang aku adalah kesadaran yang rindu akan asal usulnya, rindu akan darimana aku berasal.

Aku rindu menjadi angin berhembus di antara dedaunan. Aku rindu menjadi cahaya buram di dalam lautan. Aku rindu menjadi embun pagi di hutan belantara. Aku merindukan aku.

Bukannya aku tidak bisa melihatmu. Aku lelah dengan ketidakwarasanmu. Kau terlalu terlarut dalam kesedihan sehingga membuatmu terlihat seperti seseorang yang tidak memiliki jiwa.

Saat seseorang berada dalam titik terdalam. Mata, hati, dan jiwanya terpejam. Ia tidak melihat apapun. Ia hanya melihat kesedihan. Ia hanya tenggelam.

***

Nalurinya mengatakan bahwa sore ini adalah saatnya para zebra menyebrang sungai. Ia bersama kelompok kecilnya menunggu di sana. Menunggu gemuruh dentakan langkah-langkah kaki herbivora sampai waktu yang ditunggupun tiba.

Zebra pertama masuk ke dalam air untuk menyebrang, zebra kedua, ketiga dan seterusnya. 

Meski para zebra sudah mulai menyeberang. Ia masih menunggu di sana. Belum bergeming dari tempatnya. Memperhatikan para zebra satu persatu. Memilah-milah mana mangsa yang paling potensial. Karena ia adalah seekor buaya muda yang masih membutuhkan banyak pengalaman untuk berburu.

Setelah membiarkan lewat banyak zebra, akhirnya ia mendapatkan satu calon anak zebra potensial yang berjalan terpincang-pincang di seberang sisi sungai lainnya. Kakinya cedera dan ia ragu-ragu untuk masuk ke dalam air. 

Naluri si buaya mengatakan bahwa kondisi psikologis zebra itu adalah pilihan yang tepat. Ia berenang mendekati garis penyebrangan calon mangsanya. 

Setelah mempertimbang-timbang untuk masuk ke dalam air atau tidak, akhirnya ia memutuskan masuk ke dalam air untuk menyeberang.

Anak zebra pincang itu berenang dengan satu kaki cedera. Perlahan-lahan daratan tempat ia melompat sebelumnya mulai menjauh. Ia tidak menyadari bahwa ia sedang mendekati maut. Nalurinya hanya berkata untuk menyeberang.

Buaya muda yang telah mengawasinya sejak tadi masih terus menunggu di garis penyebrangan. Ia menunggu untuk anak zebra cedera itu yang sedang mendekati nya.

Dekat, dekat, dan semakin dekat, sampai akhirnya tubuh anak zebra cedera itu menyentuh moncong buaya muda.

Lahapan pertama, gagal.
Meski cedera, anak zebra masih memiliki kepiawaian untuk menghindari lahapan buaya muda.

Lahapan kedua, gagal.

Lahapan ketiga, gagal.

Sampai akhirnya anak zebra cedera itu berhasil meraih daratan untuk menyeberang.

Itu adalah kloter terakhir dari transmigrasi zebra musim ini. Tidak ada cukup waktu untuk menunggu musimdepan, karena buaya muda itu akan mati kelaparan jika harus menunggu selama itu.

Yang lebih menyedihkan lagi yaitu bahkan tidak hanya dia (buaya muda) yang bertampang melas saat ini, namun buaya-buaya tua dan muda lainnya juga merasakan hal sama. Berpengalaman(dalam berburu) atau tidak berpengalaman. 

Sampai akhirnya muncul beberapa manusia yang datang untuk memberikan daging cuma-cuma kepada kelompok buaya tersebut. 

Mereka ada di sana tidak hanya memerhatikan adegan intens penyebrangan kelompok zebra melewati kelompok buaya. Namun juga mengatur segalanya. 

Buaya adalah salah satu contoh hewan yang evolusinya masih kurang sempurna. Tubuh dan caranya bergerak masih kurang efektif untuk berburu. Ia sangat berbahaya ketika mulutnya menganga namun kurang saat tertutup.

Jikalau manusia tidak turut mengambil andil dalam kehidupan liar buaya, mungkin buaya sudah punah karena kelaparan.

"Terima kasih manusia untuk kepeduliannya"

- Buaya


Zeb Hogan
Host of NatGeoWild Monsterfish
And Research Biologist


Friday, August 7, 2020

Weak Sense

Malam yang dingin dengan langit cerah adalah saat yang tepat untuk melihat ke belakang, ke atas jauh sana di mana ketidaksengajaan rancangan abstrak terbentang megah dengan cara yang sederhana. Sungguh mencolok mata sehingga membuat kesadaran-kesadaran muda di bawahnya menjadi haus, menerka-nerka, meraba-raba mencoba meyingkap apa yang ada di balik kabut kesadaran mereka. Ketidaksengajaan terdekat berada pada 4,4 tahun yang lalu dengan garis sepanjang 7 KM, sampai saat ini definisi dari dua angka tersebut masih yang paling dekat.

"Aku tidak memerlukan mesin waktu untuk pergi ke masa lalu karena atap rumahku telah menyediakan fasilitas itu."

Sudut kesadaran :
Aku menyadari bahwa aku tidak hanya ingin mengetahui, aku juga menyadari bahwa aku selalu ingin menyadari sebanyak-banyaknya dan karena itu aku menyadari bahwa aku lebih dari sekedar keinginan, aku adalah hasrat.
Aku sangat memabukkan jika terlihat dan dirasakan, terutama jika disadari... karena aku adalah hasrat yang akan terus tumbuh di dalam dirimu, diawali dengan sentuhan lembut, meraba-raba di atas kulitmu, menyerap masuk ke dalam tubuhmu, dan akan terus tumbuh berkembang dengan ganas dan sangat cepat sampai kebijaksanaan menyadarkanmu. Merupakan hal yang baik jika "tidak selalu" memiliki hasrat berlebih karena itu bisa membuatmu kehilangan apa yang telah kamu miiliki.

Kesadaran menangkap banyak hal namun tidak semua kesadaran menyadarinya, apa kamu menyadari berapa usia kamu sekarang? Belum ada yang tahu berapa tepatnya umur alam semesta, jika ada maka itu bukan ilmu pasti, belum. Namun ilusi tersebut akan mengempis jika disandingkan dengan pernyataan bahwa alam semesta selalu ada.

Indera juga menangkap banyak hal namun tidak semua indera dapat mencernanya secara otomatis. Bayangkan kamu adalah zombie yang bergerak lambat mencari daging segar serta lemak pantat yang lezat mantap di jalan besar sebuah kota. Mobil-mobil usang berserakan jejer acak di jalan tersebut dan kamu tidak menyadari bahwa ada beberapa manusia yang mengendap-endap bersembunyi di balik mobil-mobil, berusaha menyintas jalan dengan sangat berhati-hati dan akhirnya merekapun berhasil lolos tanpa sepengetahuanmu.

Apa yang baru saja terjadi? Mengapa kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi?mengapa kamu tidak menyadari keberadaan manusia sehingga mereka berhasil lolos?
Mengapa kamu tidak menyadarinya?

:'(

Karena kamu adalah zombie, hasrat berlebihanmu yang ganas akan daging segar telah melemahkan inderamu sehingga kamu tidak menyadari apa yang bisa kamu miliki pada saat beberapa manusia mencoba untuk menyintas.

Kamu adalah tipikal orang dewasa, kamu tidak suka berfantasi. Maka dari itu kamu lebih membutuhkan contoh riil dari aktivitas penangkapan indera. Baiklah, saya akan mengganti persona penulisan saya.

Kamu sedang berjalan di pinggir danau, di seberang danau tersebut terdapat sebuah bangunan tua yang berdiri tegak. Tepat dari sudut pandangmu saat itu terlihat jelas bangunan tua beserta refleksi bayangannya pada permukaan danau.

Apa yang otomatis tercerna dalam pikiranmu? Apa yang kamu sadari saat itu? 

Kamu sedang menyaksikan refleksi entitas, sudut tertinggi bangunan tua tersebut adalah entitas yang sama dengan sudut terendah refleksi bangunan tua pada permukaan danau, As above so below.

Di zaman modern seperti sekarang, bagi saya pikiran seperti ini sudah cukup kuno karena kita tidak dapat selalu membandingkan segala hal yang dicerna oleh indera, seperti :

3+3= "6" adalah entitas yang sama dengan entitas 4+2= "6"

"Air" yang dikeluarkan oleh mata adalah entitas yang sama dengan "Air" Di lautan

"Jenggot" Pada lelaki dewasa merupakan entitas yang sama dengan "Jenggot" Pada singa.

Meski terdengar kuno dan tidak relevan, namun contoh pencernaan indera yang saya sebutkan di atas merupakan sebuah ide universal. Universality akan alam semesta merupakan hal yang tidak relevan, kamu akan mendapati bahwa oksigen yang kamu hirup saat ini adalah entitas yang sama dengan oksigen yang dihirup di belahan benua bumi lainnya. Substansi dari dimensi galaxi tempat tinggal kita saat ini merupakan entitas yang sama dengan substansi dimensi galaxi yang lainnya. Begitu juga dengan 6, air, dan jenggot.

Ide tentang indera disebut sudah kuno karena ide ini telah hidup sejak zaman Socrates dan masih digunakan hingga saat ini. Sumbangsih beliau pada dunia ide masih terpakai meski sudah berusia ribuan tahun. Staff National Geographic memanfaatkan indera mereka untuk menyatakan bahwa kucing perumahan yang berada di sekeliling kita adalah keluarga yang sama dengan singa di sabana. Hanya dengan indera penglihatan saja anak kecilpun dapat menyatakan itu bahwa cara berjalan, menyergap, dan menatap dari kucing adalah sama dengan singa.

Sudut kesadaran:
Apakah kamu pernah menyadari perbedaan cara melihat dari anak kecil dan orang dewasa? 
Orang dewasa melihat dunia ini sebagai tempat biasa dengan semestinya karena memang indera dan pikiran mereka sudah matang dan dewasa, mereka sudah biasa dengan dunia ini karena ya memang mereka sudah dewasa. Sedangkan anak kecil melihat dunia ini dengan penuh rasa ingin tahu, Ketidaktahuan yang ingin selalu mengetahui menjadikan mereka sebagai makhluk yang berhasrat. Apa yang tidak diketahui harus dijelajahi dan bahkan indera mereka akan terangsang oleh hal kecil remeh temeh seperti bintang di langit, bayangan di danau, 3+3 dll.

Bintang di langit yang cerah.

Aku menyadari persamaan bintang di langit dengan plankton di lautan. Ketidakrelevanan ini merupakan universalitas karena alam semesta bukan merupakan ilmu pasti (terlepas dari pernyataan bahwa alam semesta selalu ada)

Jika tepat saat ini ada bocah berumur kecil duduk bersamaku, aku akan bercerita kepadanya tentang bintang di langit melalui fiksi ilmiah. Namun aku tidak akan membeberkan jika terdapat kandungan fiksi di dalamnya karena itu akan melunturkan hasratnya sebagai penjelajah ketidaktahuan jika dia sampai menyadari bahwa tanpa imajinasi, dunia ini tidak begitu menarik. aku akan berkata kepadanya bahwa ini adalah ilmu pasti.

Pertama-tama aku akan memperlihatkan kepadanya sebuah video alien bawah laut yang meliuk-liuk indah bersama plankton-plankton di sekelilingnya. Setelah itu aku akan memperlihatkan video bintang di langit. Kedua video itu sudah keperlihatkan dan aku menunggu apakah indera bocah ini menangkap sesuatu, jika tidak aku akan membuat ia sadar.

Bagaimana jika... 

Bagaimana jika di angkasa luar sana benar-benar terdapat hewan-hewan transparan yang berenang indah bersama bintang-bintang? Namun kita tidak dapat melihatnya, apakah kita beramsumsi bahwa kita adalah kesadaran yang sempurna? Apakah kita beramsumsi bahwa kita adalah organisme yang sempurrna? Apakah kita yakin bahwa kondisi organis kita saat ini adalah puncak evolusi?

Bagaimana jika di dalam kandungan mata kita tidak terdapat susbstansi yang memungkinkan kita untuk melihat substansi yang terkandung pada hewan-hewan transparan dilangit? Aku dapat melihat pintu karena di dalam mataku terkandung substansi yang terkandung pada pintu, aku dapat melihat bulan karena di mataku terkandung substansi yang terkandung pada bulan.