| Queen Elizabeth II with her lovely husband Prince Phillip |
Setelah melewati 3 belokan pertama dengan jarak beberapa puluh meter disetiapnya kini Anna dapat melihat Florist tempat ia biasa menemani neneknya menghabiskan pagi di hari Minggu pada musim semi. Pemilik Florist telah mengenal Nana sejak lama dan mereka berdua memiliki minat dan banyak kesamaan sehingga meminum teh musim semi serasa seperti diskusi abad pertengahan. Pernah sekali itu Nana begitu antusias mendiskusikan tentang bagaimana bunga matahari mampu beradaptasi di banyak tempat hingga ia melewatkan waktu menikmati strawberry pie sore hari bersama Charlotte. Rasanya hangat mendengarkan Nana membicarakan bunga.
Anna berjalan tepat di depan Florist, melirik ke sana dan mendapati sahabat Nana sedang sibuk didatangi beberapa konsumen.
Kini hanya beberapa blok lagi ia akan tiba di rumah.
"Balik arah."
Sekarang Anna sudah terbiasa dengan kemunculan kekasihnya yang selalu datang tiba-tiba. Misterius.
"Tidak mau, memutar jalan sama dengan menambah jarak tempuh beberapa puluh meter." Jawab Anna.
"Kamu tidak mau bicara selama 30 menit."
Anna sedikit tersentak mendengarnya kemudian ia memelankan langkah kaki dengan mindik-mindik ke belokan sambil memegang tembok pagar rumah yang merupakan bahu jalan. Ia mengintip ke sebelah kanan dan menemukan tetangganya yaitu bibi Pi'un (pikun; sebutan yang berlaku hanya bagi Anna dan kekasihnya) sedang menghabiskan sore indahnya dengan ditemani oleh Dinda, keponakan bibi pi'un yang berusia 18 tahun.
Bibi pi'un sudah tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi namun, ia akan mengajakmu bicara ngelor ngidul selama setengah jam bahkan lebih sambil menggenggam tanganmu dan menangis jika kamu melepasnya. Anna tidak tahan dengan kerapuhan itu ditambah ia juga terlihat lelah karena banyak berpikir di kelas hari ini.
"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"
"Jarak pandang kameranya 7 meter berdimensi."
Anna berbalik arah untuk memutar jalan mendengarkan perkataan kekasihnya.
"Kapan kamu pulang ?" Tanya Anna.
"Tidak tahu"
Kemudian muncul keheningan diantara mereka berdua. Yang terdengar hanya suara langkah sepatu Anna dan desit skateboard 15 meter di depan.
Alis Anna mengernyit "Apa yang terjadi ?" Bisik Anna pelan, terdapat sedikit kesedihan di dalamnya.
"Tidak ada."
"Lantas, kenapa kamu pergi tanpa bertemu denganku sebelumnya?" Tanya Anna lagi dengan alis masih mengernyit.
"Aku tidak tahu jika akan pergi selama ini."
Keheningan kembali menghampiri mereka berdua.
Deziiitt..deziiitt.. prak!
Skateboard Kean mempraktikan Grint and flip di depan. Bocah 9 tahun itu terlihat piawai mempraktikannya.
"Sampai kapan kita seperti ini? Kamu telah pergi selama berbulan-bulan..." Alisnya masih mengernyit dengan sedikit menunduk menghadap jalan. Sepi.
Beberapa langkah lagi Anna akan tiba di rumah. Kotak pos keluarga Szabo sudah terlihat di depan. Ia melirik jari manisnya untuk memeriksa apakah kekasihnya masih berada di situ. "Terima kasih untuk perjalanannya, sayang."
"Aku pulang." Sambung Anna.
***
Setelah melepaskan handuk dari kepala, Anna duduk di tepi tempat tidur di kamarnya. tangan kanannya memegang hair dryer dan tangan kirinya sibuk menggerai-gerai rambutnya yang masih basah. Ia baru selesai mandi.
Cuaca di luar begitu baik. Sore yang indah bersinar pirang menyentuh kulit putih Anna yang ditumbuhi bulu-bulu tipis yang juga berwarna pirang. Namun, hari yang indah tidak membuat Onyx kucing mungil Anna untuk bermain di luar.
Onyx berjalan mondar-mandir ke sana kemari karena gembira atas kehadiran Anna. Ia naik ke atas tempat tidur, jingkrak-jingkrak sebentar kemudian hinggap di kepala Anna yang masih sedikit basah. Anna melepas Onyx dari kepalanya lalu menaruhnya di tempat tidur. Onyx jingkrak-jingkrak lagi dan kembali hinggap di kepala Anna. "Astaga Onyx tidak bisakah kamu mencintai aku hanya untuk hari ini saja." Ucap Anna sedikit jengkel sambil kembali menaruh kucing mungilnya di atas tempat tidur. Onyx menuruti perkataan Anna, mengeong-ngeong pelan menghadap Anna kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju sudut ruangan ke tempat tidur mungil pribadinya.
Rambut Anna sudah mengering namun ia masih menggerai-gerai rambutnya dengan kedua tangan sambil berjalan ke arah jendela.
Anna melongok keluar mendapati angin kecil menyeka lembut wajahnya. Di hadapannya daun-daun berguguran, jatuh dengan pelan dan indah disoroti oleh cahaya sore yang pirang. Ia menoleh ke kebun halaman rumahnya dan mendapati Nana sedang mencium Bunga Tulip.
***
"Sesekali cintailah dirimu dengan mengelilingi beberapa keindahan." Ucap Nana yang sedang sibuk menyemprot bunga menggunakan potter aluminium mini di tangannya.
Dengan usia yang sudah berlanjut, Nana mengisi kasih hidupnya dengan aktivitas-aktivitas yang menghadirkan rasa sayang dan jenaka seperti menyiram bunga, mendengarkan piano (di samping jendela jika sedang hujan), menonton televisi bersama Charlotte (adik perempuan Anna yang masih duduk di sekolah dasar), menghabiskan sore dengan Pie Strawberry, minum teh konfesional atau teh musim semi jika sedang musim semi dan masih banyak lagi.
Nana telah hidup begitu lama dan melalui begitu banyak hal sehingga ia mudah mengerti perasaan orang lain. Anna sangat membutuhkannya. Meski berusia lanjut, Nana masih sangat mengenal organisme tumbuhan apalagi cucu-cucu tersayangnya.
Cara berjalan Nana masih terlihat segar dan keren 🤘
"Mengenai cinta pertama alam semesta, apakah Nana dapat menjelaskannya kembali namun dengan cara yang lebih sederhana tanpa kesinambungan ?" Anna menyambung perkataan Nana dengan subyek berbeda sambil menyemprot bunga mengikuti Nana.
"Kenapa kamu menanyakan kembali hal itu ? Kalian putus hubungan ?"
"Ah.. tidak, aku hanya ingin lebih mengerti." Jawab Anna sedikit menyembunyikan sesuatu di nada bicaranya.
Sambil terus menyemprot dan sesekali mencium untuk menikmati keindahan bunga-bunga yang menghadirkan rasa sayang itu Nana menjelaskan.
"Sewaktu planet bumi masih dalam keadaan primordial, radiasi kosmik (......) Siapa nama mantan kekasihmu ?" Tanya Nana sebelum menjelaskan lebih lanjut.
"Nana... Sudah kubilang kami masih sepasang kekasih, namanya Oliandri." Jawab Anna jenaka "masa Nana lupa ?" Anna melanjutkan dengan dahi mengerut.
"Jika kalian masih berpacaran berarti Oli bukan radiasi kosmik. Baiklah, anggap saja radiasi kosmik ini adalah lelaki lain atau mantan kekasihmu."
"Tapi Oli adalah kekasih pertamaku, tidak ada lelaki lainnya." Anna ketus
"Yah, anggap saja radiasi kosmik ini adalah mantan kekasihmu meskipun tidak ada yang lainnya."
"Baiklah." Anna masih ketus
"Pada saat itu, Atmosfer horizon primor...dial (root) planet bumi jauh berbeda dengan masa kini. Radiasi kosmik (mantan kekasihmu mu) masih dapat menyentuh horizon (kamu) primordial bumi, radiasi kosmik disebut sebagai lelaki karena ia bersifat aktif meradiasi horizon primordial.
Momentum itupun melahirkan molekul kompleks (DNA dalam sains modern) yang memberi peranan teramat penting dalam kehidupan organisme.
Perjalanan cinta sejati antara kosmik dan langit horizon tidak hanya sampai disitu. Molekul kompleks yang dilahirkan oleh sepasang kekasih itu jatuh ke kedalaman samudera.
Ia berevolusi menjadi organisme bersel satu dan memulai tahap awal kehidupan organisme.
Kemudian radiasi kosmik (mantan kekasihmu) tidak bisa lagi menyentuh horizon (kamu)."
"Kenapa ?" Tanya Anna. Matanya sedikit basah karena rasa ingin tahu.
"Karena ia (Radiasi kosmik) telah diblokir oleh foto...sintesis dari tumbuhan." Nana melanjutkan dengan tangan masih sibuk menyemprot bunga.
Sekerjap Anna menghentikan aktivitasnya dengan kepala sedikit berpikir sementara Nana masih sibuk menyemprot dan mencium bunga yang baru disadari Anna.
"Bunga-bunga ini memiliki peran teramat penting terhadap cinta pertama alam semesta." Bisik Anna dalam hati.
"Kisah cinta yang brilian." Tiba-tiba muncul suara misterius diantara mereka berdua.
Sejenak Nana juga sontak menghentikan kesibukannya lalu menoleh ke arah Anna yang juga sedang menoleh ke arah Nana.
"Apa kamu mendengarnya ?" Tanya Nana dengan nada sedikit menyelidik
"Tidak.. aku tidak mendengar apa-apa." Jawab Anna mencoba menyembunyikan sesuatu dari Nana yang kemudian melanjutkan kesibukannya.
"Mendengarkan penjelasan Nana mengenai awal kehidupan membuatku menyayangi anda." Suara misterius itu datang lagi.
Sontak Nana kembali menghentikan aktivitasnya dan kali ini ia merasa yakin bahwa ia benar-benar mendengarnya.
"Siapa itu ?" Selidik Nana kepada Anna. "Kali ini aku yakin bukan hanya aku yang mendengarnya."
"Dia...dia..." Anna terdengar gugup untuk mengatakannya karena ia khawatir Nana akan jatuh pingsan jika mengatakan kebenaran bahwa cincin yang sedang ia kenakan terhubung dengan kehadiran kekasihnya.
"Dia...Dia... Adalah... Malaikat..." Gagap Anna "Dia dapat melihat kita tapi kita tidak dapat melihat dia." Sambung Anna kali ini dengan nada cukup meyakinkan.
"Apa maksudmu? Malaikat?" Nana terlihat bingung dan heran.
"Eh... Tidak. Dia adalah kekasihku dan ia sedang berada Inggris!" Jawab Anna yakin dan cepat.
......................... (Anna dan Nana)
Sejenak keduanya (Nana dan Anna) saling memandang dengan wajah bingung (Nana) dan tersenyum (Anna) tanpa mengucapkan sepatah kata.
.....................
Akhirnya Nana yang kembali memulai percakapan.
"Malaikat ? Inggris ? Kalian anak muda terkadang membuatku merasa lelah karena heran." Ucap Nana dengan tangan memegang dahi sambil berjalan pelan meninggalkan Anna.
"Nana mau ke mana ?"
"Mau minum teh." Nana menjawab tanpa menoleh ke belakang.
"Ingin aku temani menuju ruang minum teh ?" Sambung Anna menawarkan dirinya.
"Tidak perlu, sayang. Itu hanya 3 anak tangga." Kali ini juga tanpa menoleh ke belakang
"Ingin aku temani sambil bermain piano ?" Anna kembali menawarkan dirinya namun kali ini Nana tidak menjawabnya, ia hanya berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Sore yang indah dengan cahaya pirang.
.jpeg)
No comments:
Post a Comment