Saturday, June 24, 2023

Charlotte and The Forbidden Book

Prince William with her lovely family


Dimensi ruang bercahaya temaram, sedikit berembun, dan berhawa dingin. Burung-burung berkicau diselingi suara-suara lain seperti suara koran (The Telegraph; Surat kabar Inggris berbahasa Indonesia yang hanya beredar untuk kalangan tertentu, diikat menggunakan karet bersama surat kabar lokal) yang dilempar ke dalam pagar ditemani dengan ucapan "Surat kabar pagi!" Atau suara mesin pendingin udara yang disamarkan oleh kesadaran. Semua itu bukan ilusi. Kenapa bukan ? Karena suara-suara itu merupakan bagian primer yang membentuk kesadaran kamu semasa hidup di dunia. Jika ada bagian primer, apakah ada yang disebut suara ilusi? Ada. Ilusi adalah bagian primer yang diterima oleh kesadaran kamu sebagai bagian sekunder karena kamu berpikir bahwa suara yang kamu dengar bukanlah bagian primer. Jika kamu mendengarkan dengan baik, kamu akan menyadari bahwa itu adalah bagian primer meskipun yang kamu dengar adalah bagian sekunder.

What you think you become.

Dengan kekuatan pikiran kamu dapat menciptakan ilusi kamu sendiri, yang awalnya pikiran kamu dikendalikan oleh bagian primer-sekunder sehingga membuat kamu berpikir bahwa semua itu adalah ilusi bagian sekunder, kamu dapat mengambil alih ilusi tersebut sehingga membuatnya menjadi bagian primer.

Pada ruang keluarga terdengar suara televisi menampilkan proyeksi gambar berjalan. Remotenya digenggam lemas oleh Joseph (adik lelaki Anna yang tiba di dunia dengan kecepatan cahaya 7 tahun lebih lama) dengan statistik kesadaran seperempat bangun dan lainnya terlelap. Ia sedang menunggu acara televisi kartun favoritnya yang biasa ia tonton setiap hari di minggu pagi.

Gon (Anjing coklat milik keluarga E.S/Elizabeth Szabo) sedang tertidur pulas di samping Joseph. Ia selalu mengikuti kemanapun Joseph pergi di dalam rumah. Seperti pada minggu pagi ini, Joseph bangun lebih awal untuk menonton televisi dan itu  membuat Gon terjaga dan kemudian mengikuti Joseph berjalan menuju ruang keluarga.

Rupanya bukan hanya kesadaran Joseph yang aktif di rumah ini. Di dapur juga terdapat suara yaitu suara dentingan dari sendok yang menyenggol Piring.

Charlotte sedang melahap sereal crunchnya dengan sedikit terburu-buru, ada sesuatu yang menantinya. Sesendok lagi aaaammm.. ia menyelesaikan  ritual konsumtif paginya diakhiri dengan segelas susu sapi murni dan meninggalkan zat cair berwarna putih di atas bibirnya kemudian tersenyum sendirian. "Aku akan mengetahuinya dan kali ini mama tidak bisa menghalangiku." Bisik Charlotte dalam hati.

Ia beranjak dari meja makan kemudian menaruh kembali kotak susu ke dalam kulkas untuk menjaga rasa agar tetap segar lalu melirik jam digital yang dipajang  di samping kulkas di atas bufet dapur, "5:45." Celotehnya dalam hati sambil mencuci tangan menggunakan air dari keran menyala kemudian menyeka kedua tangan dan mulutnya dengan tisu.

Charlotte berjalan meninggalkan dapur untuk menuju halaman belakang dan saat melewati ruang keluarga, kehadirannya membuat Gon terjaga yang lantas melompat dari sofa dan berlari menghampiri Charlotte karena tertarik.

"Kamu ingin ikut denganku, Gon ?"

Gon menjawab komunikasi Charlotte dengan bahasa tubuh ekor yang meliak-liuk pertanda suasana hati bahagia.

"Baiklah sayang, Ikuti aku dan jangan menimbulkan suara apapun yang dapat membangunkan papa dan mama." Perintah Charlotte kepada kesatria coklatnya.

Kemudian mereka berdua berjalan menuju halaman belakang rumah. Sesampainya di sana, Charlotte membuka pagar besi yang tidak pernah dalam keadaan terkunci. Sedikit rasa dingin menyentuh bagian kulitnya yang paling peka, telapak tangan.

Kini mereka berdua telah melewati garis yurisdiksi keluarga E.S yaitu pagar besi. Dan setelah berjalan beberapa meter meninggalkan rumah ia berkata kepada kesatria coklatnya "Wewenang untuk mendominasi suara telah dicabut dan kau bebas untuk bertindak apapun."

Bukannya mendengarkan ultimatum sang Princess ia malah berlari mengejar kupu-kupu. "Gon, kembali ke sini!" Perintah Charlotte kepada Gon yang tidak menggubrisnya. "Gon!" Ucap Charlotte kembali dan  kemudian Gon kembali menghampirinya dengan ekor masih meliak-liuk.

Rumah keluarga E.S membelakangi artificial forest yang diperuntukkan untuk penduduk sekitar sebagai area joging, makan sore, refreshing dan berbagai macam aktivitas sehat. Dihuni oleh pohon ceri dan beberapa jenis pohon lain. Bibit, akar, atau batang pohon diserumnisasi untuk menghasilkan warna daun berbeda sesuai selera di setiap musim yang berbeda.

Keluarga Elizabeth-Szabo bertetangga dengan baik dengan keluarga Watson yang berbahasa Perancis di setiap hari Minggu. 17 tahun lalu pada saat keluarga Elizabeth-Szabo baru pindah dari Sheffield-Inggris ke lingkungan ini, keluarga Watson mengunjungi mereka dengan membawa sebotol anggur tua Jerman dan roti buaya. Kesan pertama seperti itu tidak baik jika dilupakan.


Illustration by Lennie Arifin


Sesekali Charlotte berpapasan dengan orang dewasa yang sedang melakukan aktivitas lari pagi. Mereka terlihat begitu baik dengan tubuh bugar nan walafiat. Kebanyakan dari-nya menggunakan bluetooth earphone yang dikendalikan oleh Jarvis untuk mengatur durasi waktu joging, keadaan trek beberapa meter di depan, dan musik.

Charlotte telah berjalan sejauh kira-kira 350 meter, ia keluar dari rute joging dan kembali memasuki Properti E.S namun kali ini tanpa garis yurisdiksi. "Selamat Gon, Kita tiba di kabin tanpa diketahui papa dan mama." Namun tujuannya bukanlah kabin tetapi gudang mini yang berdiri hanya beberapa meter di samping kabin.

Mereka berdua menghampiri gudang dan mendapatkannya dalam keadaan digembok. "Aku telah menyiapkannya sejak malam." Ujar Charlotte dalam hati sambil merogoh-rogoh saku celana dan di dalam sana tangannya mendapatkan kunci-kunci yang setiap kepalanya dikaitkan oleh aluminium utama. Ia mengeluarkan mereka dari dalam saku dan memperhatikan kunci-kunci tersebut. "Salah satu dari kalian pasti memiliki gembok ini." Ucap Charlotte sambil melirik gembok.

Kemudian ia mencoba kunci-kunci itu satu persatu mencari apakah ada yang cocok dan setelah mencoba beberapa ia mendengar suara "cekrik" sebagai isyarat bahwa kunci telah terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam gudang.

Udara di dalam sedikit lembab dan meski karisma cahaya pagi berhasil masuk melalui celah kayu dari dinding gudang, itu tidak cukup bagi Charlotte untuk menemukan apa yang ia cari.

"Setelah berabad-abad lamanya kita adalah orang pertama yang merasakan udara di tempat ini." Ambisius Charlotte berkata kepada kesatria coklat. "Oksigen yang kita hirup saat ini telah berumur berabad-abad lamanya tak tersentuh oleh manusia." Lanjut Charlotte lugu.

Pandangannya menuju ke tengah ruangan mencari tali bohlam yang merupakan penerang gudang. Ia menemukannya dan menarik tali tersebut. Kini ia dapat melihat dengan baik dan mulai mencari apa yang ia inginkan.

Isi gudang tersebut adalah barang-barang keperluan aktivitas kabin dan beberapa barang lama tak terpakai yang masih disimpan dengan baik. Mereka disimpan di dalam lemari-lemari kayu terbuka yang menggunakan paku sebagai pengait barang dan papan-papan bertingkat sebagai tempat menaruh barang. Ada juga beberapa papan yang ditempel di dinding gudang untuk menaruh barang utama agar mudah ditemukan.

Charlotte telah menghabiskan waktu sebanyak setengah jam untuk mencari namun ia belum mendapatkan apapun. "Aku belum menemukannya, Gon. Bagaimana denganmu?" Ucap Charlotte sambil terus mencari tanpa melihat ke arah Gon. "Guk guk." Sahut Gon dari sisi lain gudang.

Kini semua lemari dalam setiap inci telah dijelajah oleh kapitan PiChar dan hasilnya nihil. Matanya tertuju pada setiap dinding dan memeriksa papan-papan yang ditempeli oleh paku. Matanya tidak menemukan apapun namun bagi seorang kapitan, apa yang terlihat bisa saja hanya berupa ilusi, melihat saja tidaklah cukup, pergi dan dapatkan apa yang kamu inginkan. kapitan berjalan menuju dinding lain gudang.

Langkah kaki Charlotte tersandung oleh sesuatu di bawah karpet pada saat ia melewati tepat di tengah ruang gudang. "Adaaww! Apa'an tuh?" Sontak kapitan sedikit kaget.

Ia menunduk sebentar untuk memeriksa karpet dengan diameter beberapa puluh cm di lantai kayu gudang lalu berjongkok dengan menaruh sebelah lututnya sebagai penumpu.

kemudian ia menyibak kain karpet untuk menemukan apa yang disembunyikan oleh karpet sang ilusioner. Taa-taaa! ucap kapitan antusias saat ia menemukan gagang besi berkarat yang digerendel pada lantai kayu gudang. "Apa ini?" Tanya Charlotte dalam hati. Ia memeriksa sekitar gagang kayu dan meniup debu-debu yang menyembunyikan celah-celah laci pada lantai gudang.

Telapak tangannya masuk ke dalam gagang besi dan mencoba membuka laci tersebut. "Uuuuhhh.." geram Charlotte berusaha untuk membukanya. Agak berat dan membuat Charlotte untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam gagang besi. Ia mencoba kembali membukanya. "Uuuuhhh..." Charlotte kembali bergeram namun kali ini diikuti suara decit karat gerendel pada setiap celah laci. Praaakk.. laci berhasil terbuka dan dengan lekas Charlotte melongok ke dalam laci. Ia menemukan apa yang ia cari.

Buku.

*****

Di meja makan kayu persis di depan kabin, Charlotte sibuk memeriksa buku sedangkan Gon asyik berlarian ke sana ke mari di sekitar kabin.

Paman Van di perbolehkan untuk menempati kabin beberapa kali dalam seminggu. Van Der Boerhanuddin atau lebih dikenal Van Der Boer oleh teman-temannya namun Charlotte biasa memanggilnya paman Van. Ia adalah mahasiswa sastra yang menggunakan kabin sebagai tempat menulis novel atau juga artikel free lance lokal untuk Royal Family kerajaan Inggris. Terkadang ia juga ditemani oleh kekasihnya bibi Marie (Marie Diana Lavieska) saat menempati kabin. Paman Van merupakan keturunan Indo dan Belanda-Ceko yang merupakan satu dari sekian banyak negara super power. Ia tinggal bersama keluarga yang menyayanginya dengan baik hanya beberapa blok dari rumah keluarga Elizabeth-Szabo.

"Bagaimana cara membukanya?" Bisik Charlotte dalam hati.

*****

Charlotte mengalami kesulitan dalam membuka gembok Buku yang dilarang oleh mamanya itu. Ia mendapatkan gembok dengan sistem Anagram numerik berupa 4 digit angka dari 0 sampai 9. Untuk membuka enkripsi dari 4 digit numerik, ia membutuhkan buku dan pulpen beserta minimal 160 baris angka hanya untuk langkah pertama saja namun, ia tidak memiliki waktu sebanyak itu.

Ia memeriksa seluruh cover buku untuk mencoba mendapatkan clues kemudian membaliknya untuk memeriksa cover dari sisi lain buku. Nihil.

Ia berpikir sejenak. Redup. Kemudian dengan tiba-tiba kesadarannya menjadi terang. "Aha! Bagaimana dengan hari ulang tahunku."

Kriet..krieet..

ia mencari angka-angka yang merupakan tanggal lahirnya di dunia dengan memutar gerigi yang saling berhubungan kausal dengan gerigi-gerigi lain di dalam gembok.

Kriet..krieett.. Kriet..krieet...
Semua angka telah bertemu namun tidak terjadi apa-apa, tidak valid.

"Aku bukan anak kesayangan mama." Charlotte berujar dalam hati.

Redup lagi. Redup, redup, redup.
"Aha!" Charlotte kembali berujar dengan kesadaran bersinar. "Bagaimana dengan ulang tahun Joseph."

Krieett..krieett..
kembali ia memutar gerigi-gerigi yang saling berhubungan kausal itu.

Kriet..krieet.. Krieett..krieet..
Semua angka dalam ulang tahun Joseph telah bertemu. Juga tidak terjadi apa-apa, belum valid.

Namun itu tidak meredupkan kesadaran Charlotte karena kali ini ia terlihat begitu antusias dan yakin bahwa angka-angka tersebut bisa jadi merupakan ulang tahun papanya.

Krieet..krieett..krieett..kriettt..
Gerigi-gerigi kausal saling memutar untuk memberi celah dan mengisi setiap ruang numerik dengan tepat.

Krieet..krieett..kriet..krieett..
Krieet..krieett..kriet..krieett..
Semua angka dalam ulang tahun papanya telah bertemu dan kali ini diikuti dengan suara mikro. Cekrik, tuas gembok terbuka. Absolutly!!!

Terlukis senyum di wajah Charlotte. Ia mencopot gembok yang mengapit cover buku dan menaruhnya di atas meja. Dengan lambat Ia meletakkan satu telapak tangannya di cover buku kemudian berpikir sejenak, "Kenapa mama melarangku membaca buku ini." 

(Ia mulai membuka buku.)

Di halaman depan buku ia mendapatkan satu kata dalam bahasa Inggris dengan huruf sambung monotypa corsiva yaitu Love. Halaman ini lebih tipis dari cover dan lebih tebal dari konten.

(Charlotte membuka halaman selanjutnya.)

Untuk putriku tersayang, Charlotte Elizabeth Szabo.

Kamu tidak diperbolehkan untuk membaca buku ini  sebelum berusia 14 tahun. Jika kamu tidak memenuhi kriteria tersebut, buku ini masih disimpan oleh mama dan kamu tidak diperuntukkan untuk membacanya.
Dan jika kamu telah memenuhi kriteria tersebut, papa berharap banyak hal baik darimu selama hidup di dunia.
Gunakan kekuatanmu untuk tujuan mulia. Lindungi orang-orang terdekatmu seperti sahabat-sahabatmu bukan untuk menyakiti mereka. Dan sering memaafkan kesalahan orang lain.
Apa yang papa tulis di buku ini merupakan pengulangan dari apa yang telah kamu pelajari di sekolah dan kehidupan.

Papamu tersayang,

Thomaschenn Arthur Williams III

(William Szabo)


Illustration by Lennie Arifin









(Charlotte membuka halaman selanjutnya.)

Siapa kamu ?

Itu adalah kalimat pertama yang dibaca oleh Charlotte. Kedua alisnya naik dengan dahi mengerut, ia berpikir sejenak.

"Aku adalah Charlotte."

Jika saat ini kamu berusia 11 tahun, kamu akan menjawab pertanyaanku dengan jawaban berupa nama yaitu aku adalah Charlotte. Aku tanya sekali lagi, siapa kamu ?

Kedua alis Charlotte kembali naik dengan dahi mengerut. Ia kembali berpikir sejenak.

"Aku adalah Charlotte, aku berusia 11 tahun dan aku tinggal bersama orangtua dan saudara-saudari yang menyayangiku."

Aku kembali dapat menebak jawaban dari pertanyaanku. Aku tidak membutuhkan berapa usiamu saat ini dan di mana kamu tinggal karena itu tidak menjelaskan siapa kamu dalam pengertian filosofis. Jawaban filosofis tidak berasal dari luar atau hafalan buku namun berasal dari dalam diri kamu sendiri dan jika kamu bertanya kepadaku tentang siapa aku maka aku akan menjawabnya dengan aku adalah hasil evolusi yang telah terjadi selama berjuta-juta tahun lamanya. Sekarang, aku tanya sekali lagi.

Siapa kamu ?

Charlotte menjawab, "Aku adalah hasil evolusi yang telah terjadi selama berjuta-juta tahun lamanya."

Jangan ulangi atau menduplikat jawaban dariku.

Alis Charlotte kembali naik dengan dahi mengerut dan kali ini ia mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan sedari tadi karena buku ini selalu mengetahui apa yang sedang ia pikirkan mengenai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan.

"Papa? Apakah itu kamu? Apakah buku ini merupakan siaran langsung?" Tanya Charlotte terheran-heran.

Terdengar mesin halus dari kendaraan beroda empat yang berhenti tidak jauh dari tempat Charlotte berada.

Charlotte menoleh untuk melihat mobil tersebut kemudian ia mendapatkan Paman Van turun dari mobil diikuti dengan kekasihnya bibi Diana.

"Paman Van!!" Teriak Charlotte sambil berlari menuju sepupunya dan sesampainya di sana ia memeluk perut paman Van yang berpostur jauh lebih tinggi dari Charlotte.

Paman Van mengangkat Charlotte untuk menggendongnya. "Ya, tuhan! Charlotte seharusnya kamu sedang berada di gereja hari ini. Sedang apa kamu sendirian di sini? Mana papa dan mama ?"

Charlotte berpikir kilat untuk berbohong kemudian ia mendapatkan jawabannya. "Aku joging bersama Gon dan sekalian mampir ke sini."

Dahi Van mengerut. "Joging? Dengan piyama dan sandal kelinci?"

Charlotte tidak menjawab dan ia hanya tersenyum menampilkan gigi-gigi mungilnya.

"Aku khawatir jika paman Wiliam beserta keluarga di rumah juga sedang merasa khawatir karena ketiadaan Charlotte. Kamu ingin ikut denganku mengantarnya ke rumah ?" Tanya Van kepada Diana.

Diana menjawab "Ya, sekalian saja aku juga ikut."

"Gon!" Teriak Charlotte kepada Gon yang masih asyik dengan dunianya.

"Ayo pulang."

Gon berlari menghampiri Charlotte dan melompat ke dalam mobil.

*****

Dari bangku setir, Van membuka dashboard dan mengambil Coklat batang beserta air mineral kemudian memberikannya kepada Charlotte di belakang. "Kamu terlihat lapar, makan ini." Charlotte menerimanya, membuka bungkus cokelat, dan makan.

Beberapa meter di depan mereka akan melewati Kedai Turki. "Kamu ingin kebab ?" Tanya Van kepada Charlotte, "Aku makan di rumah saja." Kemudian Van memutar arah.

******

Mereka telah sampai di kediaman Elizabet-Szabo dan semuanya turun dari mobil. Charlotte hanya berlari masuk ke dalam rumah tanpa menggubris mamanya yang sedang berdiri di halaman. Begitu juga Gon.

"Terimakasih Van telah mengantar Charlotte pulang." Ucap Kat.

"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir jika orang-orang di rumah juga sedang merasa khawatir." Jawab Van kepada kakak kandung dari ibunya.

"Kami mengira ia mengunjungi keluarga Mujiono, karena ia biasa mengunjungi mereka pada hari weekend."

"Oh... Baiklah, aku pamit dulu." Ucap Van kemudian ia memeluk bibinya lalu berjalan menuju mobil, di situ Diana berdiri di samping mobil. Ia tersenyum sebentar kepada bibi Kat kemudian masuk ke dalam mobil. Van dan Diana meninggalkan kediaman E.S dan meluncur menuju kabin.

*****

Di ruang keluarga, Charlotte sedang menonton televisi bersama Anna.

"Berikan remote TV-nya." Ucap Anna

"Siapa kamu ?" Charlotte malah bertanya.

Kedua alis Anna naik namun tanpa dahi mengerut. "Apa maksud pertanyaanmu ?" Anna malah balik bertanya.

Charlotte menjawab, "Itu merupakan pertanyaan kosmik. Aku tanya sekali lagi, siapa kamu ?"

"Ya, tuhan Charlotte. Kamu belum diperbolehkan berpikir seperti itu, pada usiamu saat ini kamu hanya dianjurkan untuk bersenang-senang. Sekarang, berikan remotenya!!" Anna masih ngotot soal remote TV.

"Siapa kamu ?!" Charlotte hanya mengulangi pertanyaan yang sama.

"Mama! Charlotte mulai bicara ngawur! Apakah aku boleh mengambil Kukis kepunya'annya ?!" Teriak Anna

"Tidak boleh!!" Charlotte dengan cepat menjawab.

"Jika begitu berikan remote TV-nya kepadaku !!"

*****

Di luar hujan.
Van dan Diana telah tiba di dalam kabin. Ia melepas mantel kemudian ia juga melepas mantel yang dikenakan oleh Diana dan menaruh mantel milik mereka berdua ke gantungan pakaian di tembok.

Ia menghadap Diana begitu dekat dengan kedua tangannya bertemu di pinggul belakang Diana kemudian mencium bibirnya. "Aku mencintaimu."

Ia berjalan ke arah bufet dapur tempat di mana kulkas mini berada, sedangkan Lavieska menyalakan penghangat ruangan dan berjalan menghampiri Van yang sedang memilih botol minum di dalam kulkas. "Soda atau non ?" Tanya Van dengan kepala di dalam kulkas. "Soda." Diana menjawab.

Van mengambil 2 botol soda dan menyerahkan satu kepada Diana. Mereka berdua berdiri saling berdekatan di dapur  dengan botol soda di tangan dan pinggul belakang menyender bufet.

"Apa yang kamu dapatkan hari ini, Han?" Tanya Diana yang biasa memanggil kekasihnya Van atau Boerhan.

Van meneguk birnya. "Aku mendapatkan hal baru mengenai Royal Family kerajaan Inggris."

"Apa itu ?"

Van menjawab, "Jika kita mengambil Wangsa/Dinasti/Genarasi dari nama keluarga Yang Mulia Paduka Putri Eugenie dan dengan sistematis meng-ekstrak namanya menjadi diagram pohon keluarga yang mendeskripsikan detail generasi dari nenek moyang sampai cicit termuda, ada Betawi di dalamnya."

Illustration by Lennie Arifin

Wednesday, June 14, 2023

First Love of the Universe


Queen Elizabeth II with her lovely husband Prince Phillip


Setelah melewati 3 belokan pertama dengan jarak beberapa puluh meter disetiapnya kini Anna dapat melihat Florist tempat ia biasa menemani neneknya menghabiskan pagi di hari Minggu pada musim semi. Pemilik Florist telah mengenal Nana sejak lama dan mereka berdua memiliki minat dan banyak kesamaan  sehingga meminum teh musim semi serasa seperti diskusi abad pertengahan. Pernah sekali itu Nana begitu antusias mendiskusikan tentang bagaimana bunga matahari mampu beradaptasi di banyak tempat hingga ia melewatkan waktu menikmati strawberry pie sore hari bersama Charlotte. Rasanya hangat mendengarkan Nana membicarakan bunga.

Anna berjalan tepat di depan Florist, melirik ke sana dan mendapati sahabat Nana sedang sibuk didatangi beberapa konsumen.

Kini hanya beberapa blok lagi ia akan tiba di rumah.

"Balik arah."
Sekarang Anna sudah terbiasa dengan kemunculan kekasihnya yang selalu datang tiba-tiba. Misterius.

"Tidak mau, memutar jalan sama dengan menambah jarak tempuh beberapa puluh meter." Jawab Anna.

"Kamu tidak mau bicara selama 30 menit."

Anna sedikit tersentak mendengarnya kemudian ia memelankan langkah kaki dengan mindik-mindik ke belokan sambil memegang tembok pagar rumah yang merupakan bahu jalan. Ia mengintip ke sebelah kanan dan menemukan tetangganya yaitu bibi Pi'un (pikun; sebutan yang berlaku hanya bagi Anna dan kekasihnya) sedang menghabiskan sore indahnya dengan ditemani oleh Dinda, keponakan bibi pi'un yang berusia 18 tahun.
Bibi pi'un sudah tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi namun,  ia akan mengajakmu bicara ngelor ngidul selama setengah jam bahkan lebih sambil menggenggam tanganmu dan menangis jika kamu melepasnya. Anna tidak tahan dengan kerapuhan itu ditambah ia juga terlihat lelah karena banyak berpikir di kelas hari ini.

"Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?"

"Jarak pandang kameranya 7 meter berdimensi."

Anna berbalik arah untuk memutar jalan mendengarkan perkataan kekasihnya.

"Kapan kamu pulang ?" Tanya Anna.

"Tidak tahu"

Kemudian muncul keheningan diantara mereka berdua. Yang terdengar hanya suara langkah sepatu Anna dan desit skateboard 15 meter di depan.

Alis Anna mengernyit "Apa yang terjadi ?" Bisik Anna pelan, terdapat sedikit kesedihan di dalamnya.

"Tidak ada."

"Lantas, kenapa kamu pergi tanpa bertemu denganku sebelumnya?" Tanya Anna lagi dengan alis masih mengernyit.

"Aku tidak tahu jika akan pergi selama ini."

Keheningan kembali menghampiri mereka berdua.
Deziiitt..deziiitt.. prak!
Skateboard Kean mempraktikan Grint and flip di depan. Bocah 9 tahun itu terlihat piawai mempraktikannya.

"Sampai kapan kita seperti ini? Kamu telah pergi selama berbulan-bulan..." Alisnya masih mengernyit dengan sedikit menunduk menghadap jalan. Sepi.

Beberapa langkah lagi Anna akan tiba di rumah. Kotak pos keluarga Szabo sudah terlihat di depan. Ia melirik jari manisnya untuk memeriksa apakah kekasihnya masih berada di situ. "Terima kasih untuk perjalanannya, sayang."

"Aku pulang." Sambung Anna.

***

Setelah melepaskan handuk dari kepala, Anna duduk di tepi tempat tidur di kamarnya. tangan kanannya memegang hair dryer dan tangan kirinya sibuk menggerai-gerai rambutnya yang masih basah. Ia baru selesai mandi.

Cuaca di luar begitu baik. Sore yang indah bersinar pirang menyentuh kulit putih Anna yang ditumbuhi bulu-bulu tipis yang juga berwarna pirang. Namun, hari yang indah tidak membuat Onyx kucing mungil Anna untuk bermain di luar.

Onyx berjalan mondar-mandir ke sana kemari karena gembira atas kehadiran Anna. Ia naik ke atas tempat tidur, jingkrak-jingkrak sebentar kemudian hinggap di kepala Anna yang masih sedikit basah. Anna melepas Onyx dari kepalanya lalu menaruhnya di tempat tidur. Onyx jingkrak-jingkrak lagi dan kembali hinggap di kepala Anna. "Astaga Onyx tidak bisakah kamu mencintai aku hanya untuk hari ini saja." Ucap Anna sedikit jengkel sambil kembali menaruh kucing mungilnya di atas tempat tidur. Onyx menuruti perkataan Anna, mengeong-ngeong pelan menghadap Anna kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju sudut ruangan ke tempat tidur mungil pribadinya.

Rambut Anna sudah mengering namun ia masih menggerai-gerai rambutnya dengan kedua tangan sambil berjalan ke arah jendela.

Anna melongok keluar mendapati angin kecil menyeka lembut wajahnya. Di hadapannya daun-daun berguguran, jatuh dengan pelan dan indah disoroti oleh cahaya sore yang pirang. Ia menoleh ke kebun halaman rumahnya dan mendapati Nana sedang mencium Bunga Tulip.

***

"Sesekali cintailah dirimu dengan mengelilingi beberapa keindahan." Ucap Nana yang sedang sibuk menyemprot bunga menggunakan potter aluminium mini di tangannya.

Dengan usia yang sudah berlanjut, Nana mengisi kasih hidupnya dengan aktivitas-aktivitas yang menghadirkan rasa sayang dan jenaka seperti menyiram bunga, mendengarkan piano (di samping jendela jika sedang hujan), menonton televisi bersama Charlotte (adik perempuan Anna yang masih duduk di sekolah dasar), menghabiskan sore dengan Pie Strawberry, minum teh konfesional atau teh musim semi jika sedang musim semi dan masih banyak lagi.

Nana telah hidup begitu lama dan melalui begitu banyak hal sehingga ia mudah mengerti perasaan orang lain. Anna sangat membutuhkannya. Meski berusia lanjut, Nana masih sangat mengenal organisme tumbuhan apalagi cucu-cucu tersayangnya.

Cara berjalan Nana masih terlihat segar dan keren 🤘

"Mengenai cinta pertama alam semesta, apakah Nana dapat menjelaskannya kembali namun dengan cara yang lebih sederhana tanpa kesinambungan ?" Anna menyambung perkataan Nana dengan subyek berbeda sambil menyemprot bunga mengikuti Nana.

"Kenapa kamu menanyakan kembali hal itu ? Kalian putus hubungan ?"

"Ah.. tidak, aku hanya ingin lebih mengerti." Jawab Anna sedikit menyembunyikan sesuatu di nada bicaranya.

Sambil terus menyemprot dan sesekali mencium untuk menikmati keindahan bunga-bunga yang menghadirkan rasa sayang itu Nana menjelaskan.

"Sewaktu planet bumi masih dalam keadaan primordial, radiasi kosmik (......) Siapa nama mantan kekasihmu ?" Tanya Nana sebelum menjelaskan lebih lanjut.

"Nana... Sudah kubilang kami masih sepasang kekasih, namanya Oliandri." Jawab Anna jenaka "masa Nana lupa ?" Anna melanjutkan dengan dahi mengerut.

"Jika kalian masih berpacaran berarti Oli bukan radiasi kosmik. Baiklah, anggap saja radiasi kosmik ini adalah lelaki lain atau mantan kekasihmu."

"Tapi Oli adalah kekasih pertamaku, tidak ada lelaki lainnya." Anna ketus

"Yah, anggap saja radiasi kosmik ini adalah mantan kekasihmu meskipun tidak ada yang lainnya."

"Baiklah." Anna masih ketus

"Pada saat itu, Atmosfer horizon primor...dial (root) planet bumi jauh berbeda dengan masa kini. Radiasi kosmik (mantan kekasihmu mu) masih dapat menyentuh horizon (kamu) primordial bumi, radiasi kosmik disebut sebagai lelaki karena ia bersifat aktif meradiasi horizon primordial.
Momentum itupun melahirkan molekul kompleks (DNA dalam sains modern) yang memberi peranan teramat penting dalam kehidupan organisme.
Perjalanan cinta sejati antara kosmik dan langit horizon tidak hanya sampai disitu. Molekul kompleks yang dilahirkan oleh sepasang kekasih itu jatuh ke kedalaman samudera.
Ia berevolusi menjadi organisme bersel satu dan memulai tahap awal kehidupan organisme.
Kemudian radiasi  kosmik (mantan kekasihmu) tidak bisa lagi menyentuh horizon (kamu)."

"Kenapa ?" Tanya Anna. Matanya sedikit basah karena rasa ingin tahu.

"Karena ia (Radiasi kosmik) telah diblokir oleh foto...sintesis dari tumbuhan." Nana melanjutkan dengan tangan masih sibuk menyemprot bunga.

Sekerjap Anna menghentikan aktivitasnya dengan kepala sedikit berpikir sementara Nana masih sibuk menyemprot dan mencium bunga yang baru disadari Anna.

"Bunga-bunga ini memiliki peran teramat penting terhadap cinta pertama alam semesta." Bisik Anna dalam hati.

"Kisah cinta yang brilian." Tiba-tiba muncul suara misterius diantara mereka berdua.

Sejenak Nana juga sontak menghentikan kesibukannya lalu menoleh ke arah Anna yang juga sedang menoleh ke arah Nana.

"Apa kamu mendengarnya ?" Tanya Nana dengan nada sedikit menyelidik

"Tidak.. aku tidak mendengar apa-apa." Jawab Anna mencoba menyembunyikan sesuatu dari Nana yang kemudian melanjutkan kesibukannya.

"Mendengarkan penjelasan Nana mengenai awal kehidupan membuatku menyayangi anda." Suara misterius itu datang lagi.

Sontak Nana kembali menghentikan aktivitasnya dan kali ini ia merasa yakin bahwa ia benar-benar mendengarnya.

"Siapa itu ?" Selidik Nana kepada Anna. "Kali ini aku yakin bukan hanya aku yang mendengarnya."

"Dia...dia..." Anna terdengar gugup untuk mengatakannya karena ia khawatir Nana akan jatuh pingsan jika mengatakan kebenaran bahwa cincin yang sedang ia kenakan terhubung dengan kehadiran kekasihnya.

"Dia...Dia... Adalah... Malaikat..." Gagap Anna "Dia dapat melihat kita tapi kita tidak dapat melihat dia." Sambung Anna kali ini dengan nada cukup meyakinkan.

"Apa maksudmu? Malaikat?" Nana terlihat bingung dan heran.

"Eh... Tidak. Dia adalah kekasihku dan ia sedang berada Inggris!" Jawab Anna yakin dan cepat.

......................... (Anna dan Nana)

Sejenak keduanya (Nana dan Anna) saling memandang dengan wajah bingung (Nana) dan tersenyum (Anna) tanpa mengucapkan sepatah kata.
.....................
Akhirnya Nana yang kembali memulai percakapan.

"Malaikat ? Inggris ? Kalian anak muda terkadang membuatku merasa lelah karena heran." Ucap Nana dengan tangan memegang dahi sambil berjalan pelan meninggalkan Anna.

"Nana mau ke mana ?"

"Mau minum teh." Nana menjawab tanpa menoleh ke belakang.

"Ingin aku temani menuju ruang minum teh ?" Sambung Anna menawarkan dirinya.

"Tidak perlu, sayang. Itu hanya 3 anak tangga." Kali ini juga tanpa menoleh ke belakang

"Ingin aku temani sambil bermain piano ?" Anna kembali menawarkan dirinya namun kali ini Nana tidak menjawabnya, ia hanya berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Sore yang indah dengan cahaya pirang.