![]() |
| Prince William with her lovely family |
Dimensi ruang bercahaya temaram, sedikit berembun, dan berhawa dingin. Burung-burung berkicau diselingi suara-suara lain seperti suara koran (The Telegraph; Surat kabar Inggris berbahasa Indonesia yang hanya beredar untuk kalangan tertentu, diikat menggunakan karet bersama surat kabar lokal) yang dilempar ke dalam pagar ditemani dengan ucapan "Surat kabar pagi!" Atau suara mesin pendingin udara yang disamarkan oleh kesadaran. Semua itu bukan ilusi. Kenapa bukan ? Karena suara-suara itu merupakan bagian primer yang membentuk kesadaran kamu semasa hidup di dunia. Jika ada bagian primer, apakah ada yang disebut suara ilusi? Ada. Ilusi adalah bagian primer yang diterima oleh kesadaran kamu sebagai bagian sekunder karena kamu berpikir bahwa suara yang kamu dengar bukanlah bagian primer. Jika kamu mendengarkan dengan baik, kamu akan menyadari bahwa itu adalah bagian primer meskipun yang kamu dengar adalah bagian sekunder.
What you think you become.
Dengan kekuatan pikiran kamu dapat menciptakan ilusi kamu sendiri, yang awalnya pikiran kamu dikendalikan oleh bagian primer-sekunder sehingga membuat kamu berpikir bahwa semua itu adalah ilusi bagian sekunder, kamu dapat mengambil alih ilusi tersebut sehingga membuatnya menjadi bagian primer.
Pada ruang keluarga terdengar suara televisi menampilkan proyeksi gambar berjalan. Remotenya digenggam lemas oleh Joseph (adik lelaki Anna yang tiba di dunia dengan kecepatan cahaya 7 tahun lebih lama) dengan statistik kesadaran seperempat bangun dan lainnya terlelap. Ia sedang menunggu acara televisi kartun favoritnya yang biasa ia tonton setiap hari di minggu pagi.
Gon (Anjing coklat milik keluarga E.S/Elizabeth Szabo) sedang tertidur pulas di samping Joseph. Ia selalu mengikuti kemanapun Joseph pergi di dalam rumah. Seperti pada minggu pagi ini, Joseph bangun lebih awal untuk menonton televisi dan itu membuat Gon terjaga dan kemudian mengikuti Joseph berjalan menuju ruang keluarga.
Rupanya bukan hanya kesadaran Joseph yang aktif di rumah ini. Di dapur juga terdapat suara yaitu suara dentingan dari sendok yang menyenggol Piring.
Charlotte sedang melahap sereal crunchnya dengan sedikit terburu-buru, ada sesuatu yang menantinya. Sesendok lagi aaaammm.. ia menyelesaikan ritual konsumtif paginya diakhiri dengan segelas susu sapi murni dan meninggalkan zat cair berwarna putih di atas bibirnya kemudian tersenyum sendirian. "Aku akan mengetahuinya dan kali ini mama tidak bisa menghalangiku." Bisik Charlotte dalam hati.
Ia beranjak dari meja makan kemudian menaruh kembali kotak susu ke dalam kulkas untuk menjaga rasa agar tetap segar lalu melirik jam digital yang dipajang di samping kulkas di atas bufet dapur, "5:45." Celotehnya dalam hati sambil mencuci tangan menggunakan air dari keran menyala kemudian menyeka kedua tangan dan mulutnya dengan tisu.
Charlotte berjalan meninggalkan dapur untuk menuju halaman belakang dan saat melewati ruang keluarga, kehadirannya membuat Gon terjaga yang lantas melompat dari sofa dan berlari menghampiri Charlotte karena tertarik.
"Kamu ingin ikut denganku, Gon ?"
Gon menjawab komunikasi Charlotte dengan bahasa tubuh ekor yang meliak-liuk pertanda suasana hati bahagia.
"Baiklah sayang, Ikuti aku dan jangan menimbulkan suara apapun yang dapat membangunkan papa dan mama." Perintah Charlotte kepada kesatria coklatnya.
Kemudian mereka berdua berjalan menuju halaman belakang rumah. Sesampainya di sana, Charlotte membuka pagar besi yang tidak pernah dalam keadaan terkunci. Sedikit rasa dingin menyentuh bagian kulitnya yang paling peka, telapak tangan.
Kini mereka berdua telah melewati garis yurisdiksi keluarga E.S yaitu pagar besi. Dan setelah berjalan beberapa meter meninggalkan rumah ia berkata kepada kesatria coklatnya "Wewenang untuk mendominasi suara telah dicabut dan kau bebas untuk bertindak apapun."
Bukannya mendengarkan ultimatum sang Princess ia malah berlari mengejar kupu-kupu. "Gon, kembali ke sini!" Perintah Charlotte kepada Gon yang tidak menggubrisnya. "Gon!" Ucap Charlotte kembali dan kemudian Gon kembali menghampirinya dengan ekor masih meliak-liuk.
Rumah keluarga E.S membelakangi artificial forest yang diperuntukkan untuk penduduk sekitar sebagai area joging, makan sore, refreshing dan berbagai macam aktivitas sehat. Dihuni oleh pohon ceri dan beberapa jenis pohon lain. Bibit, akar, atau batang pohon diserumnisasi untuk menghasilkan warna daun berbeda sesuai selera di setiap musim yang berbeda.
Keluarga Elizabeth-Szabo bertetangga dengan baik dengan keluarga Watson yang berbahasa Perancis di setiap hari Minggu. 17 tahun lalu pada saat keluarga Elizabeth-Szabo baru pindah dari Sheffield-Inggris ke lingkungan ini, keluarga Watson mengunjungi mereka dengan membawa sebotol anggur tua Jerman dan roti buaya. Kesan pertama seperti itu tidak baik jika dilupakan.
![]() |
| Illustration by Lennie Arifin |
Sesekali Charlotte berpapasan dengan orang dewasa yang sedang melakukan aktivitas lari pagi. Mereka terlihat begitu baik dengan tubuh bugar nan walafiat. Kebanyakan dari-nya menggunakan bluetooth earphone yang dikendalikan oleh Jarvis untuk mengatur durasi waktu joging, keadaan trek beberapa meter di depan, dan musik.
Charlotte telah berjalan sejauh kira-kira 350 meter, ia keluar dari rute joging dan kembali memasuki Properti E.S namun kali ini tanpa garis yurisdiksi. "Selamat Gon, Kita tiba di kabin tanpa diketahui papa dan mama." Namun tujuannya bukanlah kabin tetapi gudang mini yang berdiri hanya beberapa meter di samping kabin.
Mereka berdua menghampiri gudang dan mendapatkannya dalam keadaan digembok. "Aku telah menyiapkannya sejak malam." Ujar Charlotte dalam hati sambil merogoh-rogoh saku celana dan di dalam sana tangannya mendapatkan kunci-kunci yang setiap kepalanya dikaitkan oleh aluminium utama. Ia mengeluarkan mereka dari dalam saku dan memperhatikan kunci-kunci tersebut. "Salah satu dari kalian pasti memiliki gembok ini." Ucap Charlotte sambil melirik gembok.
Kemudian ia mencoba kunci-kunci itu satu persatu mencari apakah ada yang cocok dan setelah mencoba beberapa ia mendengar suara "cekrik" sebagai isyarat bahwa kunci telah terbuka. Mereka berdua masuk ke dalam gudang.
Udara di dalam sedikit lembab dan meski karisma cahaya pagi berhasil masuk melalui celah kayu dari dinding gudang, itu tidak cukup bagi Charlotte untuk menemukan apa yang ia cari.
"Setelah berabad-abad lamanya kita adalah orang pertama yang merasakan udara di tempat ini." Ambisius Charlotte berkata kepada kesatria coklat. "Oksigen yang kita hirup saat ini telah berumur berabad-abad lamanya tak tersentuh oleh manusia." Lanjut Charlotte lugu.
Pandangannya menuju ke tengah ruangan mencari tali bohlam yang merupakan penerang gudang. Ia menemukannya dan menarik tali tersebut. Kini ia dapat melihat dengan baik dan mulai mencari apa yang ia inginkan.
Isi gudang tersebut adalah barang-barang keperluan aktivitas kabin dan beberapa barang lama tak terpakai yang masih disimpan dengan baik. Mereka disimpan di dalam lemari-lemari kayu terbuka yang menggunakan paku sebagai pengait barang dan papan-papan bertingkat sebagai tempat menaruh barang. Ada juga beberapa papan yang ditempel di dinding gudang untuk menaruh barang utama agar mudah ditemukan.
Charlotte telah menghabiskan waktu sebanyak setengah jam untuk mencari namun ia belum mendapatkan apapun. "Aku belum menemukannya, Gon. Bagaimana denganmu?" Ucap Charlotte sambil terus mencari tanpa melihat ke arah Gon. "Guk guk." Sahut Gon dari sisi lain gudang.
Kini semua lemari dalam setiap inci telah dijelajah oleh kapitan PiChar dan hasilnya nihil. Matanya tertuju pada setiap dinding dan memeriksa papan-papan yang ditempeli oleh paku. Matanya tidak menemukan apapun namun bagi seorang kapitan, apa yang terlihat bisa saja hanya berupa ilusi, melihat saja tidaklah cukup, pergi dan dapatkan apa yang kamu inginkan. kapitan berjalan menuju dinding lain gudang.
Langkah kaki Charlotte tersandung oleh sesuatu di bawah karpet pada saat ia melewati tepat di tengah ruang gudang. "Adaaww! Apa'an tuh?" Sontak kapitan sedikit kaget.
Ia menunduk sebentar untuk memeriksa karpet dengan diameter beberapa puluh cm di lantai kayu gudang lalu berjongkok dengan menaruh sebelah lututnya sebagai penumpu.
kemudian ia menyibak kain karpet untuk menemukan apa yang disembunyikan oleh karpet sang ilusioner. Taa-taaa! ucap kapitan antusias saat ia menemukan gagang besi berkarat yang digerendel pada lantai kayu gudang. "Apa ini?" Tanya Charlotte dalam hati. Ia memeriksa sekitar gagang kayu dan meniup debu-debu yang menyembunyikan celah-celah laci pada lantai gudang.
Telapak tangannya masuk ke dalam gagang besi dan mencoba membuka laci tersebut. "Uuuuhhh.." geram Charlotte berusaha untuk membukanya. Agak berat dan membuat Charlotte untuk memasukkan kedua tangannya ke dalam gagang besi. Ia mencoba kembali membukanya. "Uuuuhhh..." Charlotte kembali bergeram namun kali ini diikuti suara decit karat gerendel pada setiap celah laci. Praaakk.. laci berhasil terbuka dan dengan lekas Charlotte melongok ke dalam laci. Ia menemukan apa yang ia cari.
Buku.
*****
Di meja makan kayu persis di depan kabin, Charlotte sibuk memeriksa buku sedangkan Gon asyik berlarian ke sana ke mari di sekitar kabin.
Paman Van di perbolehkan untuk menempati kabin beberapa kali dalam seminggu. Van Der Boerhanuddin atau lebih dikenal Van Der Boer oleh teman-temannya namun Charlotte biasa memanggilnya paman Van. Ia adalah mahasiswa sastra yang menggunakan kabin sebagai tempat menulis novel atau juga artikel free lance lokal untuk Royal Family kerajaan Inggris. Terkadang ia juga ditemani oleh kekasihnya bibi Marie (Marie Diana Lavieska) saat menempati kabin. Paman Van merupakan keturunan Indo dan Belanda-Ceko yang merupakan satu dari sekian banyak negara super power. Ia tinggal bersama keluarga yang menyayanginya dengan baik hanya beberapa blok dari rumah keluarga Elizabeth-Szabo.
"Bagaimana cara membukanya?" Bisik Charlotte dalam hati.
*****
Charlotte mengalami kesulitan dalam membuka gembok Buku yang dilarang oleh mamanya itu. Ia mendapatkan gembok dengan sistem Anagram numerik berupa 4 digit angka dari 0 sampai 9. Untuk membuka enkripsi dari 4 digit numerik, ia membutuhkan buku dan pulpen beserta minimal 160 baris angka hanya untuk langkah pertama saja namun, ia tidak memiliki waktu sebanyak itu.
Ia memeriksa seluruh cover buku untuk mencoba mendapatkan clues kemudian membaliknya untuk memeriksa cover dari sisi lain buku. Nihil.
Ia berpikir sejenak. Redup. Kemudian dengan tiba-tiba kesadarannya menjadi terang. "Aha! Bagaimana dengan hari ulang tahunku."
Kriet..krieet..
ia mencari angka-angka yang merupakan tanggal lahirnya di dunia dengan memutar gerigi yang saling berhubungan kausal dengan gerigi-gerigi lain di dalam gembok.
Kriet..krieett.. Kriet..krieet...
Semua angka telah bertemu namun tidak terjadi apa-apa, tidak valid.
"Aku bukan anak kesayangan mama." Charlotte berujar dalam hati.
Redup lagi. Redup, redup, redup.
"Aha!" Charlotte kembali berujar dengan kesadaran bersinar. "Bagaimana dengan ulang tahun Joseph."
Krieett..krieett..
kembali ia memutar gerigi-gerigi yang saling berhubungan kausal itu.
Kriet..krieet.. Krieett..krieet..
Semua angka dalam ulang tahun Joseph telah bertemu. Juga tidak terjadi apa-apa, belum valid.
Namun itu tidak meredupkan kesadaran Charlotte karena kali ini ia terlihat begitu antusias dan yakin bahwa angka-angka tersebut bisa jadi merupakan ulang tahun papanya.
Krieet..krieett..krieett..kriettt..
Gerigi-gerigi kausal saling memutar untuk memberi celah dan mengisi setiap ruang numerik dengan tepat.
Krieet..krieett..kriet..krieett..
Krieet..krieett..kriet..krieett..
Semua angka dalam ulang tahun papanya telah bertemu dan kali ini diikuti dengan suara mikro. Cekrik, tuas gembok terbuka. Absolutly!!!
Terlukis senyum di wajah Charlotte. Ia mencopot gembok yang mengapit cover buku dan menaruhnya di atas meja. Dengan lambat Ia meletakkan satu telapak tangannya di cover buku kemudian berpikir sejenak, "Kenapa mama melarangku membaca buku ini."
(Ia mulai membuka buku.)
Di halaman depan buku ia mendapatkan satu kata dalam bahasa Inggris dengan huruf sambung monotypa corsiva yaitu Love. Halaman ini lebih tipis dari cover dan lebih tebal dari konten.
(Charlotte membuka halaman selanjutnya.)
Untuk putriku tersayang, Charlotte Elizabeth Szabo.
Kamu tidak diperbolehkan untuk membaca buku ini sebelum berusia 14 tahun. Jika kamu tidak memenuhi kriteria tersebut, buku ini masih disimpan oleh mama dan kamu tidak diperuntukkan untuk membacanya.
Dan jika kamu telah memenuhi kriteria tersebut, papa berharap banyak hal baik darimu selama hidup di dunia.
Gunakan kekuatanmu untuk tujuan mulia. Lindungi orang-orang terdekatmu seperti sahabat-sahabatmu bukan untuk menyakiti mereka. Dan sering memaafkan kesalahan orang lain.
Apa yang papa tulis di buku ini merupakan pengulangan dari apa yang telah kamu pelajari di sekolah dan kehidupan.
Papamu tersayang,
Thomaschenn Arthur Williams III
(William Szabo)
![]() |
| Illustration by Lennie Arifin |
(Charlotte membuka halaman selanjutnya.)
Siapa kamu ?
Itu adalah kalimat pertama yang dibaca oleh Charlotte. Kedua alisnya naik dengan dahi mengerut, ia berpikir sejenak.
"Aku adalah Charlotte."
Jika saat ini kamu berusia 11 tahun, kamu akan menjawab pertanyaanku dengan jawaban berupa nama yaitu aku adalah Charlotte. Aku tanya sekali lagi, siapa kamu ?
Kedua alis Charlotte kembali naik dengan dahi mengerut. Ia kembali berpikir sejenak.
"Aku adalah Charlotte, aku berusia 11 tahun dan aku tinggal bersama orangtua dan saudara-saudari yang menyayangiku."
Aku kembali dapat menebak jawaban dari pertanyaanku. Aku tidak membutuhkan berapa usiamu saat ini dan di mana kamu tinggal karena itu tidak menjelaskan siapa kamu dalam pengertian filosofis. Jawaban filosofis tidak berasal dari luar atau hafalan buku namun berasal dari dalam diri kamu sendiri dan jika kamu bertanya kepadaku tentang siapa aku maka aku akan menjawabnya dengan aku adalah hasil evolusi yang telah terjadi selama berjuta-juta tahun lamanya. Sekarang, aku tanya sekali lagi.
Siapa kamu ?
Charlotte menjawab, "Aku adalah hasil evolusi yang telah terjadi selama berjuta-juta tahun lamanya."
Jangan ulangi atau menduplikat jawaban dariku.
Alis Charlotte kembali naik dengan dahi mengerut dan kali ini ia mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan sedari tadi karena buku ini selalu mengetahui apa yang sedang ia pikirkan mengenai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan.
"Papa? Apakah itu kamu? Apakah buku ini merupakan siaran langsung?" Tanya Charlotte terheran-heran.
Terdengar mesin halus dari kendaraan beroda empat yang berhenti tidak jauh dari tempat Charlotte berada.
Charlotte menoleh untuk melihat mobil tersebut kemudian ia mendapatkan Paman Van turun dari mobil diikuti dengan kekasihnya bibi Diana.
"Paman Van!!" Teriak Charlotte sambil berlari menuju sepupunya dan sesampainya di sana ia memeluk perut paman Van yang berpostur jauh lebih tinggi dari Charlotte.
Paman Van mengangkat Charlotte untuk menggendongnya. "Ya, tuhan! Charlotte seharusnya kamu sedang berada di gereja hari ini. Sedang apa kamu sendirian di sini? Mana papa dan mama ?"
Charlotte berpikir kilat untuk berbohong kemudian ia mendapatkan jawabannya. "Aku joging bersama Gon dan sekalian mampir ke sini."
Dahi Van mengerut. "Joging? Dengan piyama dan sandal kelinci?"
Charlotte tidak menjawab dan ia hanya tersenyum menampilkan gigi-gigi mungilnya.
"Aku khawatir jika paman Wiliam beserta keluarga di rumah juga sedang merasa khawatir karena ketiadaan Charlotte. Kamu ingin ikut denganku mengantarnya ke rumah ?" Tanya Van kepada Diana.
Diana menjawab "Ya, sekalian saja aku juga ikut."
"Gon!" Teriak Charlotte kepada Gon yang masih asyik dengan dunianya.
"Ayo pulang."
Gon berlari menghampiri Charlotte dan melompat ke dalam mobil.
*****
Dari bangku setir, Van membuka dashboard dan mengambil Coklat batang beserta air mineral kemudian memberikannya kepada Charlotte di belakang. "Kamu terlihat lapar, makan ini." Charlotte menerimanya, membuka bungkus cokelat, dan makan.
Beberapa meter di depan mereka akan melewati Kedai Turki. "Kamu ingin kebab ?" Tanya Van kepada Charlotte, "Aku makan di rumah saja." Kemudian Van memutar arah.
******
Mereka telah sampai di kediaman Elizabet-Szabo dan semuanya turun dari mobil. Charlotte hanya berlari masuk ke dalam rumah tanpa menggubris mamanya yang sedang berdiri di halaman. Begitu juga Gon.
"Terimakasih Van telah mengantar Charlotte pulang." Ucap Kat.
"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir jika orang-orang di rumah juga sedang merasa khawatir." Jawab Van kepada kakak kandung dari ibunya.
"Kami mengira ia mengunjungi keluarga Mujiono, karena ia biasa mengunjungi mereka pada hari weekend."
"Oh... Baiklah, aku pamit dulu." Ucap Van kemudian ia memeluk bibinya lalu berjalan menuju mobil, di situ Diana berdiri di samping mobil. Ia tersenyum sebentar kepada bibi Kat kemudian masuk ke dalam mobil. Van dan Diana meninggalkan kediaman E.S dan meluncur menuju kabin.
*****
Di ruang keluarga, Charlotte sedang menonton televisi bersama Anna.
"Berikan remote TV-nya." Ucap Anna
"Siapa kamu ?" Charlotte malah bertanya.
Kedua alis Anna naik namun tanpa dahi mengerut. "Apa maksud pertanyaanmu ?" Anna malah balik bertanya.
Charlotte menjawab, "Itu merupakan pertanyaan kosmik. Aku tanya sekali lagi, siapa kamu ?"
"Ya, tuhan Charlotte. Kamu belum diperbolehkan berpikir seperti itu, pada usiamu saat ini kamu hanya dianjurkan untuk bersenang-senang. Sekarang, berikan remotenya!!" Anna masih ngotot soal remote TV.
"Siapa kamu ?!" Charlotte hanya mengulangi pertanyaan yang sama.
"Mama! Charlotte mulai bicara ngawur! Apakah aku boleh mengambil Kukis kepunya'annya ?!" Teriak Anna
"Tidak boleh!!" Charlotte dengan cepat menjawab.
"Jika begitu berikan remote TV-nya kepadaku !!"
*****
Di luar hujan.
Van dan Diana telah tiba di dalam kabin. Ia melepas mantel kemudian ia juga melepas mantel yang dikenakan oleh Diana dan menaruh mantel milik mereka berdua ke gantungan pakaian di tembok.
Ia menghadap Diana begitu dekat dengan kedua tangannya bertemu di pinggul belakang Diana kemudian mencium bibirnya. "Aku mencintaimu."
Ia berjalan ke arah bufet dapur tempat di mana kulkas mini berada, sedangkan Lavieska menyalakan penghangat ruangan dan berjalan menghampiri Van yang sedang memilih botol minum di dalam kulkas. "Soda atau non ?" Tanya Van dengan kepala di dalam kulkas. "Soda." Diana menjawab.
Van mengambil 2 botol soda dan menyerahkan satu kepada Diana. Mereka berdua berdiri saling berdekatan di dapur dengan botol soda di tangan dan pinggul belakang menyender bufet.
"Apa yang kamu dapatkan hari ini, Han?" Tanya Diana yang biasa memanggil kekasihnya Van atau Boerhan.
Van meneguk birnya. "Aku mendapatkan hal baru mengenai Royal Family kerajaan Inggris."
"Apa itu ?"
Van menjawab, "Jika kita mengambil Wangsa/Dinasti/Genarasi dari nama keluarga Yang Mulia Paduka Putri Eugenie dan dengan sistematis meng-ekstrak namanya menjadi diagram pohon keluarga yang mendeskripsikan detail generasi dari nenek moyang sampai cicit termuda, ada Betawi di dalamnya."
![]() |
| Illustration by Lennie Arifin |
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)