Perbedaan usia antara ia dengan Tom terpaut jauh. Hubungan mereka lebih mirip sebagai orangtua dan anak kecil. Bagi Belova, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Tom yang merupakan tempat ia mengadu. Dari hal sepele seperti warna rambut apa yang cocok untuknya di musim semi sampai fenomena filosofis ia adukan kepada Tom. Baginya, pelukan Tom adalah tempat paling nyaman di dunia.
"Sudah beberapa hari... aku perhatikan kamu belum melepaskannya ?" Tanya Tom sambil melirik ke jari manis Belova. Disitu terkait dengan indah batu cincin yang oleh pemberinya didapatkan dari palung terdalam di dunia.
"Aku tidak bisa melepasnya begitu saja... itu terasa tidak benar."
"Kamu butuh cara untuk melepas cincin itu dari jari manismu ?" Tom menimpalinya.
"Maksudku bukan secara harfiah, aku hanya melepasnya pada saat pergi tidur." Belova membalikkan telapak tangannya sehingga sekarang cincin itu terlihat dengan jelas. Kemudian ia menengadah ke langit. Pandangannya tertuju kepada serbukan bintang-bintang di angkasa. Ia merenung sebentar.
"Radiasi kosmik yang kamu maksud mengapa berupa energi aktual ? mengapa bukan sesuatu yang lain?" Renungan filosofisnya mengantarkan Belova pada pertanyaan itu.
"Karena bukan sepenuhnya filsafat melainkan filsafat ilmu pengetahuan."
Filsafat adalah subyektivitasi nalar universal tanpa batas yang bersifat kontinu sedangkan ilmu pengetahuan adalah obyektivitas matematis aktual yang bersifat diskontinu. Aktual dalam ilmu pengetahuan berarti sungguh-sungguh "tahu" contohnya seperti DNA yang merupakan molekul kompleks yang sungguh-sungguh diketahui berdasarkan data-data berdasarkan penelitian ilmiah. Belova tidak sungguh-sungguh tahu bahwa bir di dalam botol yang ia genggam sudah hampir habis. Namun, ia bisa mengetahuinya tanpa melihat atau mengobyektivasi botol tersebut dengan menggunakan "nalar". Meskipun terdapat kekurangan pada Filsafat danji Ilmu Pengetahuan namun, mereka saling membutuhkan.
Kekurangan dari sifat aktual atau kesungguhan yang diskontinu tidak selalu memuaskan. Contohnya seperti Ketika kamu sedang berhadapan dengan formalitas yang mengharuskan untuk mengetahui siapa dirimu, lantas mereka akan mengobjektivikasi kamu dengan menyusun data diri kamu sesuai dengan nama, tempat tanggal lahir, tempat tinggal, status perkawinan, Nomor KTP, Nomor BPJS bla bla bla... dan lain sebagainya.
"Itu sungguh sepele, Belova-ku sayang."
Berbeda dengan filsafat yang melihatmu bukan sebagai obyek melainkan sebagai subyek melalui nalar yang tidak terbatas...
Di mata filsafat kamu adalah evolusi dari ribuan tahun peradaban manusia, maka berjanjilah kamu akan bersikap serta bertingkah laku seperti itu.
Kamu juga adalah bagian dari proses peristiwa yang terjadi bermilyar-milyar tahun yang lalu dan jantung yang berdetak di dalam tubuhmu adalah paralel dari peristiwa kontinuitas berkembangnya alam semesta yang diprediksi akan menyusut lagi.
"Dari contoh yang aku kemukakan barusan apakah kamu bisa menangkap perbedaan antara ilmu pengetahuan dan filsafat ? jika kamu benar-benar mengerti kamu boleh memiliki botol terakhir kita" sambung Tom.
"Ilmu pengetahuan mencari jawaban melalui objektivikasi sehingga pertanyaan tentang "siapa aku" didapatkan dari "luar aku" sedangkan filsafat mencari jawaban melalui subjektivikasi sehingga pertanyaan tentang "siapa aku" didapatkan dari "dalam aku". Apa aku boleh meminta contoh lain ?"
Tom memandang mata Belova kemudian bergumam dalam hati. "Seharusnya filsafat tidak seimut ini."
Waktu. Menurut K Bertens secara obyektif waktu adalah titik-titik yang berada di luar setiap titik di mana titik yang sudah terlewati adalah masa lampau, titik yang sedang dialami adalah masa sekarang sedangkan titik yang belum dilewati adalah masa depan.
Jika kamu berfilosofi menelaah waktu dengan menjadikan dirimu sebagai subyek, kamu akan menyadari bahwa waktu adalah ilusi. Waktu tidak mendahului eksistensi melainkan waktu adalah ide yang dimunculkan atau diciptakan oleh kesadaran. Dahulu sekali, peradaban nomaden menggunakan siang dan malam sebagai pengukur waktu hingga saat ini waktu telah dimatematisasi oleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan angka.
Contoh mudahnya seperti pada saat kamu tengah asyik menonton televisi atau sedang berkumpul dan bercanda bersama teman-temanmu apakah kamu merasakan waktu ? jika ya kehadiranmu masih berada dalam sebuah ilusi.
"Aku akan menjelaskannya melalui contoh yang lebih gamblang lagi agar mudah dimengerti." Tom
Untuk terbebas dari ilusi tentunya kamu harus mengalami peristiwa yang cukup menyenangkan, seru, atau romantis sehingga peristiwa tersebut dapat mengalihkan kesadaranmu dari sebuah ilusi melalui penghayatan filosofis dengan dirimu sebagai subyeknya.
Jika Big bang adalah peristiwa Filosofi tingkat kosmik dan evolusi manusia adalah peristiwa filosofi tingkat peradaban planet maka kita namakan peristiwa ini adalah peristiwa filosofi Belova tingkat Belova :D.
Apakah kamu merasakan waktu pada saat kekasihmu menggandeng tanganmu untuk pertama kalinya ? atau begini saja pada saat kekasihmu menyentuh bibirmu dengan menggunakan bibirnya untuk pertama kalinya apakah kalian berdua merasakan waktu ?
Jika tidak, kamu sedang mengalami peristiwa filosofi... Karena pada saat itu tidak ada yang menjadi obyek melainkan kalian berdua adalah subyektivitas yang melebur menjadi satu ke dalam eksistensi (alam semesta).
No comments:
Post a Comment