Friday, February 11, 2022

Ada, Kesadaran, dan Eksistensi

Dalam konteks ini yaitu peristiwa filosofi Belova tingkat Belova hanya terjadi sekali seumur hidup karena kesadaranmu mengenai fenomena filosofi tersebut telah berubah melalui pengalaman subyektivitas. Kamu tidak akan merasakan hal yang sama pada saat kamu ciuman untuk yang kedua kalinya. Selanjutnya bukan merupakan peristiwa filosofi melainkan kebutuhan biologis dan hormon setiap orang berbeda-beda ada yang penuh gairah dan ada juga yang feminim.
Nah, contoh peristiwa filosofi di atas merupakan peristiwa filosofi melalui sudut pandang empirisme yaitu fenomena yg disubyektivikasi melalui pengalaman praksis.

"Berbagai macam peristiwa filosofi yang telah dan akan kamu temukan nantinya akan menjadi fragmen-fragmen yang membentuk hermenutika akan kesadaranmu terhadap eksistensi."

"Apa maksudmu ?" Tanya Belova.

Tom menjawab, "Makna".

Saat ini kamu sedang eksis duduk berdua bersama saya. Kita berdua juga turut ditemani oleh eksistensi botol bir di masing-masing genggaman tangan kita, ada juga eksistensi denting piano yang melengkapi estetika langit malam yang diisi banyak bintang. Barusan sekali kita melihat seekor kucing melintas jalan menunjukan keberadaannya. Sesekali kita merasakan keberadaan angin yang menghembus semilir pelan.

"Eksistensi" adalah keberadaan namun hanya dengan menjadi "ada" saja tidaklah cukup Belova-ku yang manis 🙂 . Keberadaan dari ada membutuhkan kesadaran untuk menyadari bahwa dirinya ada. Kesadaran ini adalah kualitas dari ada untuk berinteraksi terhadap eksistensi.

Sebelum adanya kesadaran, dunia ini adalah Eksistensi (keberadaan) bagi Kehampaan (ketiadaan). Planet-planet, asteroid, angin, nukleus, protein, api, matahari, udara dll, mereka semua ada namun tak satupun dari mereka menyadari akan keberadaanya masing-masing.

Kemudian untuk pertama kalinya di dalam kehidupan barulah datang evolusi pertama oleh manusia yang membuat alam semesta menyadari dirinya sendiri. Langkah pertama evolusi adalah kesadaran dan mereka atau kesadaran-kesadaran ini adalah cikal bakal cahaya (ide) yang lambat laun memberikan makna terhadap kehampaan.

"Berarti kesadaran itu adalah bagian dari kehidupan yang begitu penting karena dari-nya (kesadaran) kita dapat menyadari kehidupan itu sendiri dan seandainya kesadaran terbentuk pada saat mutasi biologis tahap awal pada manusia tentunya kita dapat sedikit menyadari dari mana kita berasal!" Sambung Belova.

Tom merasa geli mendengar pernyataan Belova. "Pemikiran yang bagus sekali Belova namun, seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya."

Kesadaran adalah kualitas dan di dalam kualitas terdapat tingkat-tingkat di mana tingkat-tingkat tersebut bisa dicapai melalui evolusi untuk mencapai kualitas tertentu. Jadi, tidak semua orang memiliki kualitas (kesadaran) yang "sama." Kamu juga bisa meningkatkan kesadaran dengan cara belajar atau berinteraksi dengan eksistensi. Kualitas kesadaran manusia menyadari bahwa dengan menunggang seekor keledai akan menghemat energi mereka dalam menempuh perjalanan jarak jauh. Berbeda dengan kualitas kesadaran orang-orang dari Spanyol, mereka yang terlebih dahulu memperkenalkan budaya berkuda di dalam peradaban manusia.

Sebagai contoh biar aku update sedikit kesadaran kamu malam ini. Kamu mungkin belum menyadari bahwa langit berbintang yang kamu pandangi sedari tadi sampai saat ini merupakan "angkasa purba". Mengapa begitu, Belova ? Cara kerja mata kita dalam melihat segala sesuatu adalah dengan menggunakan kecepatan cahaya. Pada saat mata kamu tertuju pada bintang dengan jarak tempuh 3000 tahun cahaya maka kesimpulannya mata kamu menangkap obyek (bintang) dalam kondisi 3000 tahun yang lalu. Tanpa disadari olehmu Belova, kamu adalah arkeolog langit! 🙂

Aku hanya bisa melihatmu (bintang) di masa lalu, kamu (bintang) begitu jauh... 

Dan untuk mengemukakan pernyataan Belova mengenai kesadaran manusia tentang dari mana kita berasal, dibutuhkan evolusi yang sangat panjang bagi kesadaran untuk menyadari hal itu. Dimulai dari ledakan dahsyat big bang sampai detik ini, kesadaran ekslusif alam semesta masih berusia sangat muda atau masih berusia tunas. Kesadaran ekslusif manusia baru berusia 7000 tahun atau 5000 tahun jika dihitung semenjak sebelum kelahiran Yesus Kristus. Kesadaran yang masih sangat muda ini bermula di India.

"Dari sini aku beranggapan bahwa kamu telah mengerti apa yang dimaksud dengan ada, kesadaran, dan eksistensi." 🙂 Tom.

Belova membalas "Masih ada yang ingin kutanyakan. Jika keberadaan makna didahului oleh keberadaan kesadaran maka, yang dimaksud dengan makna adalah produk yang dihasilkan oleh interaksi antara kesadaran dengan eksistensi ?"

Makna.
Tidak cukup jika hanya bermodalkan ada saja untuk menghasilkan makna di dalam kehidupan. Makna dapat dilahirkan oleh ada yang memiliki kesadaran namun, tidak semua kesadaran dapat melahirkan makna absolut karena kesadaran (kualitas) setiap orang tidak sama dan dalam peristiwa filosofi tidak semua kesadaran dapat melakukannya.

Alarm di jam tangan Tom menyala pada saat jarum jam menunjuk pada jam 9 kurang 15 menit dan itu menandakan bahwa ia harus mengakhiri ritual pasca makan malam kecil mereka di atap rumah Tom. Besok adalah hari senin, Tom adalah seorang seniman dan hari senin bagi Tom berbeda artinya dengan hari senin bagi Belova yang seorang mahasiswa.

"Sudah hampir jam 9, kamu harus segera pulang untuk menghadiri kuliah besok."

"Tapi aku masih ingin bersamamu...:'(" Belova merengek.

Tom sudah terbiasa dengan sikap Belova yang menggemaskan, Belova adalah anak yang manja."Terlambat tidur akan membuatmu kekurangan suplai oksigen untuk menghadiri kelas besok."

"Baiklah" Belova menerima nasihat Tom namun eksperesi wajahnya masih cembetut. Sejak kecil Belova selalu ingin berlama-lama dengan Tom jika mereka sedang bersama. Ia sangat menyukai orang Inggris. Tom adalah orang Inggris.

Belova beranjak dari tempat duduknya begitu juga dengan Tom. Kemudian mereka berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai bawah. Terdengar samar suara televisi di tengah perjalanan mereka pada saat menuruni anak tangga dan sesampainya di ruang keluarga, mereka mendapatkan sesorang sedang menonton televisi. Ia adalah Nyonya Christin, Istri Tom. Wanita yang telah menemani setengah atau bahkan hampir seluruh hidup Tom di dunia.

Terbesit filsafat pasca makan malam di dalam benak Belova pada saat ia melihat istri Tom. Belova berbisik dalam hati "Tom dan Nyonya Christin adalah dua kesadaran yang telah berinteraksi selama hampir dalam seluruh hidup mereka, pastinya mereka berdua telah melewati begitu banyak peristiwa filosofi." Seandainya saja Tom dapat membaca pikiran Belova yang menggemaskan. 

Secara Antropologi, berikut adalah ciri fisik Nyonya Christin jika diukir dengan kata-kata :

Rambutnya berwarna pirang
Warna kulitnya berwarna cokelat keemasan dengan bulu tipis keemasan di kedua lengannya
Bermata biru
Memiliki berat dan ukuran tubuh yang ideal. 

Belova tidak melihat kehadiran paman Ben bersama Nyonya Christin di ruang keluarga maka ia berasumsi bahwa paman Ben berada di Kamar tidur sejak pukul 8 malam tadi. Paman Ben berparas sejuk, dagunya ditumbuhi janggut tebal, memiliki mata yang tidak terlu besar dan tidak terlalu kecil, berbulu dada dan berhidung mancung. Maksud antropologiku adalah orang Arab. 

"Selamat malam Nyonya Christin." Belova menyapa dengan nada hangat kepada Nyonya Christin yang kemudian beranjak dari sofa lalu kemudian berjalan melangkah mengikuti Belova dan Tom menuju pintu depan."Selamat malam Belova." Balas Nyonya Christin juga dengan nada hangat kemudian ia menyambung lagi, "Kau yakin tidak ingin bermalam di sini ? sudah lama sekali sejak terakhir kali kau menginap di rumah kami." Nyonya Christin tersenyum.

Sambil berjalan Belova menyambung obrolan Nyonya Christin "Ya, saat itu aku berusia 10 tahun dan tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Tom"

"Itu adalah saat-saat yang menggemaskan." Sambung Nyonya Christin.

Sesampainya di pintu depan mereka berdiri di situ sebentar. Tom menyambung "Jika kau ingin tahu sampai saat ini ia masih bersikap seperti itu." Kemudian mereka bertiga tertawa kecil dan hangat. 

Setelah memeluk Tom dan kemudian memeluk Nyonya Christin, sekali lagi Belova mengucapkan selamat malam. "Selamat malam keluarga Matthew, terima kasih untuk kebaikan makan malamnya besok saya akan kembali lagi." kemudian mereka bertiga tertawa lagi, kecil dan hangat.

Sambil berjalan meninggalkan kediaman keluarga Matthew dan sebelum menghilang dari pandangan Tom, Belova menengok ke belakang dan mendapati Tom dan Nyonya Christin masih berdiri di pintu depan melihat ke arah Belova. Nyonya Christin memeluk sebelah lengan Tom.

Belova mengangkat tangannya yang menggenggam botol Heineken kemudian ia berteriak kecil. "Terima kasih untuk botol terakhir ini, minggu depan aku akan menggantinya dengan anggur yang lebih tua."

Tom dan Nyonya Christin tersenyum.


























Thursday, February 3, 2022

Peristiwa Filosofi

Tanpa melihat botol yang menempel di bibirnya, Belova dapat menalar bahwa air di dalam botol yang ia genggam sudah hampir habis. Ditemani oleh bir dalam cuaca dingin di ruang terbuka atap losmen dengan langit berbintang sejauh mata memandang pada malam hari adalah keadaan yang cocok untuk berfilsafat. Ditambah dengan kehadiran Tom, sosok yang ia kagumi sejak kecil. Entah mengapa kehadirannya  membuat ia merasa baik. Terdapat semacam energi pada diri Tom dan berdekatan dengannya membuat Belova merasa teriluminasi. Jika kamu tipe yang cuek dan kurang peka dalam bernalar, kamu tidak mudah untuk membedakan setiap energi dari orang-orang yang berada di sekitarmu. Belova bukan orang semacam itu.

Perbedaan usia antara ia dengan Tom terpaut jauh. Hubungan mereka lebih mirip sebagai orangtua dan anak kecil. Bagi Belova, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Tom yang merupakan tempat ia mengadu. Dari hal sepele seperti warna rambut apa yang cocok untuknya di musim semi sampai fenomena filosofis ia adukan kepada Tom. Baginya, pelukan Tom adalah tempat paling nyaman di dunia.

"Sudah beberapa hari... aku perhatikan kamu belum melepaskannya ?" Tanya Tom sambil melirik ke jari manis Belova. Disitu terkait dengan indah batu cincin yang oleh pemberinya didapatkan dari palung terdalam di dunia.

"Aku tidak bisa melepasnya begitu saja... itu terasa tidak benar."

"Kamu butuh cara untuk melepas cincin itu dari jari manismu ?" Tom menimpalinya.

"Maksudku bukan secara harfiah, aku hanya melepasnya pada saat pergi tidur." Belova membalikkan telapak tangannya sehingga sekarang cincin itu terlihat dengan jelas. Kemudian ia menengadah ke langit. Pandangannya tertuju kepada serbukan bintang-bintang di angkasa. Ia merenung sebentar.

"Radiasi kosmik yang kamu maksud mengapa berupa energi aktual ? mengapa bukan sesuatu yang lain?" Renungan filosofisnya mengantarkan Belova pada pertanyaan itu.

"Karena bukan sepenuhnya filsafat melainkan filsafat ilmu pengetahuan."

Filsafat adalah subyektivitasi nalar universal tanpa batas yang bersifat kontinu sedangkan ilmu pengetahuan adalah obyektivitas matematis aktual yang bersifat diskontinu. Aktual dalam ilmu pengetahuan berarti sungguh-sungguh "tahu" contohnya seperti DNA yang merupakan molekul kompleks yang sungguh-sungguh diketahui berdasarkan data-data berdasarkan penelitian ilmiah. Belova tidak sungguh-sungguh tahu bahwa bir di dalam botol yang ia genggam sudah hampir habis. Namun, ia bisa mengetahuinya tanpa melihat atau mengobyektivasi botol tersebut dengan menggunakan "nalar". Meskipun terdapat kekurangan pada Filsafat danji  Ilmu Pengetahuan namun, mereka saling membutuhkan.

Kekurangan dari sifat aktual atau kesungguhan yang diskontinu tidak selalu memuaskan. Contohnya seperti Ketika kamu sedang berhadapan dengan formalitas yang mengharuskan untuk mengetahui siapa dirimu, lantas mereka akan mengobjektivikasi kamu dengan menyusun data diri kamu sesuai dengan nama, tempat tanggal lahir, tempat tinggal, status perkawinan, Nomor KTP, Nomor BPJS bla bla bla... dan lain sebagainya.

"Itu sungguh sepele, Belova-ku sayang."

Berbeda dengan filsafat yang melihatmu bukan sebagai obyek melainkan sebagai subyek melalui nalar yang tidak terbatas...
Di mata filsafat kamu adalah evolusi dari ribuan tahun peradaban manusia, maka berjanjilah kamu akan bersikap serta bertingkah laku seperti itu.
Kamu juga adalah bagian dari proses peristiwa yang terjadi bermilyar-milyar tahun yang lalu dan jantung yang berdetak di dalam tubuhmu adalah paralel dari peristiwa kontinuitas berkembangnya alam semesta yang diprediksi akan menyusut lagi.

"Dari contoh yang aku kemukakan barusan apakah kamu bisa menangkap perbedaan antara ilmu pengetahuan dan filsafat ? jika kamu benar-benar mengerti kamu boleh memiliki botol terakhir kita" sambung Tom.

"Ilmu pengetahuan mencari jawaban melalui objektivikasi sehingga pertanyaan tentang "siapa aku" didapatkan dari "luar aku" sedangkan filsafat mencari jawaban melalui subjektivikasi sehingga pertanyaan tentang "siapa aku" didapatkan dari "dalam aku". Apa aku boleh meminta contoh lain ?"

Tom memandang mata Belova kemudian bergumam dalam hati. "Seharusnya filsafat tidak seimut ini."

Waktu. Menurut K Bertens secara obyektif waktu adalah titik-titik yang berada di luar setiap titik di mana titik yang sudah terlewati adalah masa lampau, titik yang sedang dialami adalah masa sekarang sedangkan titik yang belum dilewati adalah masa depan.
Jika kamu berfilosofi menelaah waktu dengan menjadikan dirimu sebagai subyek, kamu akan menyadari bahwa waktu adalah ilusi. Waktu tidak mendahului eksistensi melainkan waktu adalah ide yang dimunculkan atau diciptakan oleh kesadaran. Dahulu sekali, peradaban nomaden menggunakan siang dan malam sebagai pengukur waktu hingga saat ini waktu telah dimatematisasi oleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan angka. 
Contoh mudahnya seperti pada saat kamu tengah asyik menonton televisi atau sedang berkumpul dan bercanda bersama teman-temanmu apakah kamu merasakan waktu ? jika ya kehadiranmu masih berada dalam sebuah ilusi.

"Aku akan menjelaskannya melalui contoh yang lebih gamblang lagi agar mudah dimengerti." Tom

Untuk terbebas dari ilusi tentunya kamu harus mengalami peristiwa yang cukup menyenangkan, seru, atau romantis sehingga peristiwa tersebut dapat mengalihkan kesadaranmu dari sebuah ilusi melalui penghayatan filosofis dengan dirimu sebagai subyeknya.

Jika Big bang adalah peristiwa Filosofi tingkat kosmik dan evolusi manusia adalah peristiwa filosofi tingkat peradaban planet maka kita namakan peristiwa ini adalah peristiwa filosofi Belova tingkat Belova :D.
Apakah kamu merasakan waktu pada saat kekasihmu menggandeng tanganmu untuk pertama kalinya ? atau begini saja pada saat kekasihmu menyentuh bibirmu dengan menggunakan bibirnya untuk pertama kalinya apakah kalian berdua merasakan waktu ? 
Jika tidak, kamu sedang mengalami peristiwa filosofi... Karena pada saat itu tidak ada yang menjadi obyek melainkan kalian berdua adalah subyektivitas yang melebur menjadi satu ke dalam eksistensi (alam semesta).