 |
| Prince George of Wales with her lovely father |
Beberapa bulan lalu, tengah malam.
Private road di lingkungan perumahan Berger Scott Estate terlihat sepi tanpa aktivitas manusia. Daun-daun dari pepohonan menari bebas dihembus oleh dingin angin semilir tanpa penonton. Lampu jalan bergaya Eropa klasik menerangi pemandangan itu, tertangkap basah oleh CCTV yang menggeleng-geleng pelan untuk mendapatkan inci pada setiap sudut. Lensanya menemukan 4 jantung berdetak bersuhu panas dengan jarak beberapa puluh meter di ujung jalan. Gear hologram berotasi beriringan dengan zooming dan mendapatkan visual Joseph, Allen, Edi, dan George sedang mengendarai sepeda mereka masing-masing.
Seperti biasa, pada malam hari mereka menyelinap keluar dari rumah tanpa sepengetahuan orangtua untuk berkumpul bersama.
Mereka terhenti karena ban dari sepeda Joseph kempis dan membutuhkan angin. Joseph sedang memompanya dengan menggunakan pompa mini yang selalu ia bawa bersama sepeda, pompa mininya ditempel pada batang sepeda.
 |
| Prince Louis (Picture Illustration by Lennie Arifin) |
"Malam ini kita tidak mendapatkan kejadian seru." Ucap George, kedua tangannya masuk ke dalam kantong sweater karena udara dingin.
"Apa yang kamu harapkan ? Menemukan telur dinosaurus di arificial forest ?" Allen menyambung.
"Apapun yang membuat inderaku bertanya-tanya, pokoknya apa saja yang belum pernah kita alami."Jawab George. "Kita bisa mendapatkannya dengan cara bermain bersama orang dewasa, mereka menawarkan banyak hal seru di luar indera kita yang masih anak-anak." George melanjuti.
"Contohnya ?" Edi bertanya.
"Efek gitar yang digunakan oleh Mike (kakak kandung George). Sebelumnya aku hanya bermain gitar akustik tanpa mengetahui bahwa listrik dapat mengubah suara gitar menjadi sangat ker...." Sekerjap George tidak dapat melanjutkan kata-kata karena inderanya terpaku oleh pemandangan langit yang menyihir pandangan matanya untuk keluar dari ilusi waktu karena terpesona.
Edi dan Allen mendapatkan George sehingga membuat mereka berpaling untuk mengikuti arah pandangan mata George yang menuju langit di atas mereka. Kini bukan hanya George yang terpaku, namun juga Edi dan Allen.
Sebuah obyek yang terbakar atmosfer bergerak lambat menuju mereka. Terlihat lambat karena jarak yang sangat jauh. Ia meninggalkan asap residu di belakangnya dan semakin lama obyek tersebut terlihat semakin besar dan cepat karena jarak semakin dekat.
600 m...
500 m...
400 m...
300 m...
200 m...
100 m...
Kini obyek terbakar tersebut terlihat sangat terang sehingga membuat George, Allen, dan Edi menutup wajah dengan telapak tangan karena silau. Mereka menggunakan celah dari jemari untuk tetap melihat.
50 m...
Tiba-tiba, api yang membakar obyek tersebut lenyap ketika jaraknya mendekati daratan dan membuat George, Allen, Edi, dan Joseph (ia mulai menyadarinya ketika dikelilingi oleh cahaya) leluasa untuk memandangnya. Obyek itu tidak meninggalkan radiasi apapun di sekelilingnya bahkan tekanan udara oleh kecepatan tinggi yang dapat memecahkan kaca jendela juga sama sekali tidak. Hanya asap residu di belakangnya.
Kini obyek tersebut terpampang jelas di hadapan mereka, meluncur melewati tampang 4 orang anak yang terpesona karena indera mereka sedang mendapati kejadian dari hal baru yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Waktu seakan berhenti namun kehidupan terus berlanjut karena mereka keluar dari ilusinya. Mereka semua terpelongo dengan mulut menganga. Permen karet di mulut Edi meluncur keluar, nangkring sebentar di bibir bagian bawah karena lengket kemudian jatuh ke jalan.
Obyek di hadapan mereka menyerupai katedral gotik atau lebih mirip dengan kolner dom terbalik yang didominasi oleh warna biru tua. Melesat cepat menuju bukit yang terletak di seberang artificial forest. Jatuh di sana tanpa suara seakan dilapisi oleh materi dari substansi tak kasat mata.
"Kita kedatangan tamu dari Mars." Edi berucap masih dengan tampang terpesona
Tanpa membalas perkataan Edi, mereka semua tancap gowes menuju bukit dengan menggunakan sepeda masing-masing. Kecuali Joseph, ia belum selesai berurusan dengan ban kempis. Sedikit lagi.
"Apa kau melihatnya?! Itu adalah hal terkeren yang pernah kusaksikan langsung dari mata kepalaku sendiri !!" Allen berucap dengan penuh semangat sambil mengendarai sepeda dengan kebut kepada Edi dan George yang juga mengebut.
"Malam ini kita akan menjadi orang yang pertama mendapatkannya!" Sambung George antusias.
Mereka memasuki artificial forest tanpa melalui jalur joging yang diterangi oleh lampu jalan untuk memotong jalan dan kini tanpa percakapan. Semuanya fokus pada jalan di depan yang hanya sedikit diterangi lampu dari kepala sepeda dan kecepatan gowes mereka tidak berkurang karena rasa antusias.
Mereka keluar dari artificial forest dan jalan mulai sedikit menanjak. Jalanannya tanah berkerikil selebar 1,5 meter, diapit oleh rerumputan, menghadirkan pemandangan sejauh mata memandang di depan.
Sesampai di titik tertinggi bukit, mereka berhenti sebentar untuk bernafas pelan. Memandang ke dataran di bawah dan menemukan Kolner Dom terbalik di sana, ukurannya sedikit lebih kecil, berasap karena suhu dari panas atmosfer, sisi kanan dan kirinya mengeluarkan kedipan cahaya berwarna biru yang semakin melemah karena kehabisan daya.
"Ayo turun" ucap George meluncur turun setelah nafasnya kembali normal lalu kemudian diikuti oleh Edi dan Allen.
Mereka bertiga menuruni bukit menggunakan sepeda dengan sangat berhati-hati karena dataran jalan yang tidak rata dan lebih terjal daripada saat mendaki.
George menekan rem setelah mendekati jarak 30 meter dari pesawat antariksa kemudian diikuti oleh Edi dan Allen. Ia beranjak dari sepeda lalu meletakkannya di tanah kemudian berjalan ke depan, berjongkok dan menggunakan telunjuknya untuk mencolek cairan aneh yang melebur pada permukaan tanah.
"Bukan oli dan lengket, kita tidak bisa mendekat lebih jauh menggunakan sepeda." Ucap George kepada sahabatnya di belakang sambil memandang tanah yang permukaannya terkontaminasi oleh substansi tak diketahui. Pandangan matanya menelusuri asal datangnya aliran zat cair tersebut dan mendapatkannya merembes keluar dari bagian pesawat antariksa. Hanya menetes, mungkin sebelumnya deras.
"Tidak dalam, kita dapat melanjutkannya dengan berjalan kaki." Lanjut George berbalik badan dan mendapatkan kedua sahabatnya sedang saling memandang satu sama lain mengisyaratkan ketidaksetujuan karena terlihat berbahaya untuk mendekat lebih jauh.
George memandang mereka sebentar. "Aku akan mendekatinya sendirian." Ucap George berbalik arah kemudian meletakan kakinya dengan hati-hati ke permukaan tanah yang telah terkontaminasi dan berjalan perlahan menuju pesawat antariksa.
"George!" Panggil Allen, namun George hanya terus berjalan.
"Cairan aneh ini bahkan tidak sampai ke mata kakiku." Bisik George dalam hati sambil terus berjalan perlahan.
"Rasanya dingin berjalan di dalam cairan ini" George berbisik dalam hati. "Apakah ini bahan bakar atau materi lainnya aku tidak tahu pasti, yang kutahu malam ini atau besok, NASA akan mempublikasikan cairan yang pertama kali kusentuh ini sebagai sumber daya terlangka di planet bumi.
George telah berjalan cukup jauhl dan kini permukaan tanah di hadapannya tidak terkontaminasi. Ia mengangkat sebelah kakinya ke permukaan tanah tak terkontaminasi dengan perasaan lega kemudian mengangkat sebelah kakinya lagi.
Sekarang ia berada sangat dekat dengan pesawat antariksa yang hanya berjarak satu meter dari tempatnya berdiri. Dengan seksama Ia memperhatikan permukaan pesawat bertekstur gotik yang setiap beberapa detik mengeluarkan percikan listrik berwarna biru seakan memberi kesan "Dilarang datang mendekat."
"Apa itu ? daya atau lapisan pelindung ?" Bisik George penasaran dalam hati.
Cekiiitt... (Suara rem yang menempel pada ban belakang sepeda Joseph.)
"Di mana George?" Tanya Joseph kepada sahabatnya yang menjawab dengan memalingkan pandangan mereka ke arah pesawat antariksa untuk menunjukannya kepada Joseph.
"Kalian membiarkannya pergi sendiri ?" Tanya Joseph dengan ekspresi wajah sedikit kaget sambil meletakan sepeda di tanah dan berlari menuju pesawat antariksa tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya.
Ia terhenti karena melihat permukaan tanah di hadapannya dalam kondisi tidak biasa lalu kembali memberikan pandanganya kepada George.
"George, tunggu!! Terlalu berbahaya, jangan bertindak apapun tanpaku!" Teriak Joseph kepada George.
George tidak berbalik badan untuk mendengarkan perkataan Joseph dan ia menyentuh pesawat antariksa dengan menggunakan jari telunjuknya karena rasa ingin tahu.
George bahkan belum sempat menyentuhnya namun percikan berwarna biru pada permukaan pesawat bereaksi terhadap tindakan George dan membuatnya tak sadarkan diri kemudian jatuh ke tanah.
Joseph melihat kejadian itu lalu berteriak, "Tidak! George!!" Ia sedikit mengeluarkan air mata dan berlari menghampiri George tanpa memikirkan permukaan tanah yang terkontaminasi kemudian diikuti oleh Edi dan Allen di belakangnya.
Sesampainya di dekat pesawat, Joseph menaruh George yang berpostur tubuh lebih kecil di pangkuan lengannya. Ia menampar pelan sebelah pipi sebanyak 3 kali berharap dapat menyadarkannya namun tindakannya tidak membuahkan hasil, kemudian ia menaruh sebelah telinganya ke atas dada George dan mendapatkan jantung sahabatnya masih berdetak.
"Masih hidup" Ucap Joseph lega kepada Edi dan Allen. Mereka bertiga mengeluarkan air mata.
*****
Saat ini, Jam 9 pagi.
Anna membuka mata. Pandangannya mendapatkan daun-daun berguguran di luar jendela. Ia mengucek kedua mata kemudian menaruh bahu tangan di dahinya. "Aku merasa baik dan sehat." Anna berbisik dalam hati. Ia mendapatkan telepon genggam miliknya sedang berkedap-kedip di atas meja belajar kemudian beranjak dari tempat tidur dan berjalan menghampirinya sambil menguap tidak sopan ala remaja (karena sedang sendirian) dan meregangkan kedua tangan.
New Message
From : Andri
To : Anna Szabo
Jangan berteriak di malam hari, itu tidak sopan. Aku mengerti kamu menunggu pesan teks dariku (No context my chemical romance).
Langit di sini dalam waktu twilight/senja.
Selamat pagi, aku mencintaimu.
*****
Sore yang permai di taman Berger Scott Estate.
Joseph melempar bola ke atas ranjang. Dung! lemparannya membentur pinggir ranjang dan bolanya kembali memantul ke arah Joseph. Dung dung dung! Ia memantul bola ke lantai lapangan sebanyak beberapa kali kemudian kembali melemparnya ke atas ranjang. Dung! Namun hasilnya masih tetap sama seperti sebelumnya.
 |
| Prince Louis (picture Illustration by Lennie Arifin) |
Sementara Allen sedang sibuk bersama laptop untuk memilah-milah barang yang harus tersedia dalam waktu dekat ini di pinggir lapangan. Teknologinya tidak boleh terlalu tinggi namun spesifikasinya harus sesuai dengan seleksi. Tanpa sengaja Ia mendapatkan artikel mengenai chip keluaran terbaru dari AVG yang menciptakan intelegensi artifisial dengan kemampuan ide murni. Robot yang tidak hanya memberikan informasi atau merefleksi ide manusia (ide buatan). Disebut ide murni karena pengetahuan yang ia miliki bukan hanya berasal dari program komputer di dalam dirinya namun juga berdasarkan pengalaman hidupnya di dunia.
Selagi asyik meluncur di internet, pandangannya teralihkan oleh Watson dan MarĂa yang berjalan melewati taman. Allen berucap kepada Joseph "Hey, lihat! Ada kupu-kupu masuk ke jaring kita, apakah aku harus mengganggunya ?" Cukup keras sampai terdengar oleh Watson dan Maria. "Terserah." Jawab Joseph, flush! Lemparan bola Joseph masuk dengan mulus ke dalam ranjang.
Allen mengambil permen karet yang sudah tidak terasa dari dalam mulutnya kemudian melemparnya ke arah Watson. Pluk! Hinggap dan menempel di rambut merah Watson yang spontan bereaksi kaget campur jijik kemudian menangis.
"Hahaha kamu harus memotongnya untuk pergi ke sekolah besok." Ucap Allen sambil tertawa.
Watson berjalan meninggalkan taman dengan kepala menyender di pelukan maria, sahabatnya. "Kenapa kamu selalu memikirkan kehadiran kami ?! Pikirkan dirimu sendiri!" Maria berucap dengan nada jutek namun Allen terlihat tidak mendengarkannya, ia kembali sibuk bersama internet.
Tidak jauh dari taman, Watson dan Maria berpapasan dengan Edi yang menggunakan sepeda. Mereka saling memandang namun Edi terlihat cuek mendapatkan Watson sedang bersedih dan kembali memalingkan wajah ke jalan.
Setelah menunggu dan mendapatkan kehadiran Edi, mereka langsung tancap gowes menuju garasi rumah paman Ben yang berjarak tidak jauh dari rumah utama. Hanya beberapa belas meter di belakangnya, artificial forest. Mereka biasa beraktivitas musik di tempat itu jika tidak dapat menemukannya di taman.
Dari jauh, mereka mendapatkan Paman Brad sedang berbincang bersama rekan bisnisnya melalui pesawat telepon di pinggir garasi. Paman Brad adalah seorang mahasiswa bisnis dan merupakan pemilik Kedai Turki yang menyediakan Kebab dan berbagai macam hidangan makanan khas Timur Tengah. Satu persatu Edi, Allen, dan Joseph berjalan melewati Paman Brad yang sedang berbincang di pesawat telepon dan satu persatu belakang kepala mereka bertiga diklepak oleh Paman Brad yang masih sibuk berbincang di pesawat telepon. "Adaaaww! Itu tidak lucu Brad!" Ucap Joseph terpental selangkah (hanya Joseph yang memanggil paman Ben dkk hanya dengan menggunakan nama; George memanggil Mike hanya dengan menggunakan nama karena ia adalah kakak kandungnya namun ia memanggil sahabat-sahabat Mike dengan menggunakan paman). Paman Brad tertawa kecil sendirian seperti anak kecil.
Joseph, Edi, dan Allen mendapatkan bandmates asal Berger Scott Estate dalam kondisi komplit di garasi. "Paman Ben!" Ucap Allen antusias sambil menghampirinya sementara Joseph menghampiri Mike dan Edi terlihat sibuk mengobrol dengan Rob yang sedang duduk bersama drum kesayangannya.
"Apakah aku bisa mendapatkan
Node MCU WIFI ESP-32S
Motor Driver L298N
4WD Smart Robot Car Kit
4 DC Motor
4 Wheel
Breadboard 400-Tie
2 Battery 1800mah Battery
Battery Box
Jumper Wire 20cm 20 pcs
Hot Glue Gun
2 Glue Sticks
1 Switch
dalam waktu dekat ?"
"Malam ini juga bisa." Jawab Paman Ben.