Thursday, May 18, 2023

Immortal Memory To The Queen

Queen Elizabeth II dikelilingi oleh keindahan 

Beyond Concentration, terlepas dari ilusi waktu dan melebur ke dalam keabadian. Matanya sedikit basah dengan kening mengkerut karena memikirkan pertanyaan dari Sigmund Freud yang menjadi soal ujian filsafatnya di hari yang indah ini. Di luar kelas begitu sepi, hanya beberapa mahasiswa dan staf universitas yang sesekali kedapatan berjalan di koridor.

"Ke mana perginya pikiran, ketika ia (pikiran) terlupakan ?"
Begitu pertanyaannya.

Itu adalah soal pertama setelah Anna mengisi identitas pada lembar jawaban yang ia dapatkan. Ia mengisi Nomor induk mahasiswa dengan nomor-nomor, hari dan tanggal, nama lengkap (Anna Szabo), dan mata ujian hari ini (Filsafat).

Ia merasa belum pernah dihadapi pertanyaan semacam itu semasa mempelajari filsafat. Namun, ia menyadari bahwa filsafat bukanlah pelajaran yang disadari hanya dengan teori formal atau metode praksis, melainkan juga melalui nalar masing-masing individu dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya untuk filsafat, standard universitas juga menerapkan soal-soal di luar metode praksis dengan harapan mahasiswa dapat mengembangkan pemahaman secara mandiri.

Karena terlepas dari ilusi, ia tidak menyadari bahwa sudah cukup lama ia meninggalkan lembar jawaban yang masih kosong dan polos tanpa jawaban dari pena di tangan kanannya. Tangannya mulus, berwarna putih pirang disinari oleh cahaya pagi yang menembus kaca jendela ruang kelas. Jari manisnya dihiasi oleh batu cincin yang diambil dari palung terdalam di dunia. Hadiah dari kekasihnya.

Sekarang ia memegang dahinya yang mengernyit karena cemas akan berpikir keras namun tidak menghasilkan apapun selain lembar jawaban yang masih saja kosong.

Sebersat-bersit Ia melirik batu cincin di jemarinya dengan harapan kekasihnya dapat membantu menjawab pertanyaan yang menurutnya agak menyebalkan.

"Jangan bengong"

Di tengah kegelisahannya tiba-tiba ia mendengar suara anak lelaki misterius yang tidak diketahui darimana asalnya.

Hari Ini merupakan hari ujian formal namun atitut Anna terlihat berbeda dengan yang lainnya. Ia celingak-celinguk memandang sekitar menyelidiki dari mana datangnya suara barusan.

"Jangan celingak-celinguk"

Ia kembali mendengar suara lelaki misterius itu namun sekarang ia merasa agak yakin bahwa suara tersebut berasal dari tempat yang tidak jauh dari meja tempat ia duduk, bahkan sangat dekat.

Khawatir disangka gila karena bicara sendiri, Anna berbisik pelan kepada dirinya sendiri, "Siapa kamu ?"

"Aku adalah kekasihmu."

Anna sedikit kaget karena tidak menyadari bahwa suara anak lelaki itu sangat mirip dengan suara kekasihnya.

"Sayang, sedang apa kamu di sini ? kenapa kita dapat berkomunikasi ? Bukankah kamu sedang sibuk dengan urusanmu hari ini?" Anna kembali berbisik pelan sekaligus merasa aneh karena kehadiran kekasihnya di hari ujian formal universitas. 

"Aku memasang alat pelacak pada batu cincin yang kuberikan kepadamu." Jawab kekasihnya.

Mendengar itu membuat Anna terlihat sedikit kesal karena merasa privasinya dilanggar oleh kekasihnya sendiri. Anna adalah perempuan yang sedikit independen.

"Ini tidak sopan, meskipun kita saling mencintai namun privasi adalah keharusan!' bisik Anna pelan dengan sedikit kegusaran pada nadanya. "Baiklah, kita akan bahas ini di rumah nanti karena kebetulan aku sedang membutuhkanmu untuk menjawab soal ujian yang menyebalkan ini."

"Aku tahu, di pelacak juga terdapat kamera."

Anna kembali terlihat gusar namun tidak mengindahkannya. "Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan ini ?" Sebelum kekasihnya menjawab, Anna mendekatkan batu cincin ke sebelah telinga agar tidak terdengar oleh yang lain.

Kemana perginya pikiran ketika ia (pikiran) terlupakan?
- Sigmund Freud

Di dunia materi tidak ada yang benar-benar hilang dari ada menjadi ketiadaan atau kehampaan. Substansi yang sebelumnya ada tidak berasal dari kondisi ketiadaan melainkan kondisi selalu ada. Ia tidak hilang namun berubah menjadi substansi berbeda atau substansi yang sama dengan sifat berbeda. Materi dari Air yang mengering karena suhu panas tidak menghilang namun menjadi sesuatu yang lain yaitu menguap menjadi Gas.

Saat kita memikirkan atau mengalami momentum di dalam kehidupan, atom-atom pikiran kita menempati tempatnya masing-masing dan saat kita memikirkan atau mengalami momentum selanjutnya, atom-atom pikiran kita berpindah tempat dengan menempati tempatnya masing-masing.

Nah saat kita mengingat kembali pikiran akan momentum yang telah dialami sebelumnya, atom-atom pikiran kita kembali menempati tempatnya masing-masing pada saat kita memikirkan momentum tersebut.

"Jadi kesimpulannya adalah ?" Tanya kekasih.

"Aku belum begitu mengerti ?" Jawab Anna pelan.

"Kesimpulannya adalah pikiran yang dilupakan itu dikarenakan atom-atom tidak bisa kembali menempati tempatnya masing-masing  pada saat mengingat pikiran tersebut. Ini menurut Jostein Gaarder."

Setiap orang memiliki kapasitas pikiran akan suatu ingatan. Karena begitu banyaknya memori, sebagian besar ingatan tersimpan di alam bawah sadar kita dan beberapa membutuhkan rangsangan untuk kembali mengingat pikiran-pikiran tersebut. Banyaknya momentum yang kita alami dalam hidup ini membuat pikiran yang terlupakan menjadi pikiran lain yang berbeda. Pikiran lama yang terlupakan (air) menjadi  pikiran yang lain (es).

"Ini menurut aku." Kekasih

"Aku harus memilih yang mana ? Kamu atau Jostein ?" Bisik Anna pelan

"Terserah kamu, dua-duanya saja."

"Baik, aku akan tulis dua-duanya. Jangan pergi dulu aku masih membutuhkan..." tiba-tiba Anna merasa koneksi antara mereka berdua terputus. "Sayang? Sayang? Kamu masih di situ? Sayang?." Bisik Anna kontinuitas dengan nada agak meninggi. Namun, sepertinya kekasihnya sudah pergi meninggalkannya.

"Anna, apa yang sedang kamu pikirkan? bicara sayang-sayang sendiri di ujian filsafat saya."
Anna mendapat teguran dari dosen filsafatnya.

Berharap tidak mendapatkan perhatian lebih, Anna hanya menunduk menghadap lembar jawaban dan tidak mengindahkan teguran dosen berkepala botak yang menurut Anna terlalu sering memikirkan kehidupan daripada menjalaninya.

"Mengenai batu cincin, kita akan bicarakan ini nanti." Bisik Anna pelan berharap kekasihnya masih ada di situ.

:D