Saturday, December 19, 2020

Weak Sense

Antrian huruf-huruf sambung sibuk berjejeran menganyam simulasi alam semesta di atas kertas dimensi. Menunggu giliran tiba untuk menguntai ide menggunakan kata.

Mengekstrak ide dan visual grafis ke dalam kalimat-kalimat, menyusun mereka menjadi sebuah paragraf.

Bak sebuah ekstraktor serba-serbi, segalanya yang tumpah ke dalam kertas dimensi akan berubah menjadi huruf sambung. Entah itu visual kosmik seperti Nebula, uranus, batu, galaksi, bulan, lubang hitam dan sebagainya maupun ide.

Aku sedang mengayam aku.

Sementara fokus sang kreator sedang dialihkan oleh kegiatan kertas dimensi, ia tidak menyadari adanya keganjilan pada jejeran antrian huruf-huruf sambung yang telah jauh dilewati kuas pena.

Mereka (huruf-huruf sambung) bergetar rontak seakan ingin menongolkan diri, mewujudkan entitas mereka yang hanya berupa ide menjadi kenyataan yang bisa disentuh.

Getaran mereka semakin menjadi-jadi namun belum juga menyadarkan perhatian sang kreator.

Diakibatkan oleh getaran continu tersebut sehingga menimbulkan asap kecoklatan diikuti dengan debu emas yang menandakan akan terjadinya kilatan cahaya mini.

Blitz!

Selama sepersekian detik, blitz cahaya menangkap seisi ruang baca sang kreator. Ia tidak terlihat kaget, sepertinya kejadian ini sering terjadi sebelumnya. Ia bahkan masih melakukan aktivitas kertas dimensi tanpa menggubris kehadiran entitas huruf-huruf sambung (ide) yang telah mewujudkan dirinya menjadi nyata.

"Lagi-lagi kau, lelaki bulu. Apa yang kau inginkan dariku." Kata sang kreator sembari menulis tanpa melihat kehadiran sang ide.

"Itu adalah kejadian yang tidak perlu, aku tidak mau terlihat konyol di hadapan para bintang. Kau memang orang yang menyebalkan!" Ketus sang ide dengan nada suara agak tinggi sehingga membuat sang kreator tersenyum sambil menyeringai kecil yang kemudian menghentikan aktivitas kertas dimensi.

Lalu ia (sang kreator) membalikkan pandangannya sehingga sekarang ia berhadapan dengan sang ide.

"Kamu terlihat indah ketika jatuh di langit namun kamu mengerti bahwa kamu tidak benar-benar jatuh karena kamu adalah sebuah bintang."

"Namun tetap saja terasa sakit!" Balas sang ide dengan masih bernada ketus.

"Ya, aku bisa melihatnya di matamu. Tidak ada yang melebihi keindahan dari rasa sakit. Seumpama pizza, saat potongan pertamanya (rasa sakit) menyentuh lidahmu (matamu) akan membuatmu terus melahap potong-potongan berikutnya (rasa sakit berkelanjutan yang semakin menjadi-jadi). Terkadang aku berharap bahwa kamu adalah seorang wanita sehingga aku bisa menikmati rasa sakit itu karena kamu tahu aku tidak bisa menyakiti mereka (wanita)."

Kamu dapat memalsukan semua keindahan di dunia ini namun kamu tidak bisa memalsukan keindahan dari rasa sakit.

"............ " Sang ide tidak membalas.

"Jadi lelaki bulu, tujuanmu mewujudkan diri menjadi nyata hanya untuk komplain masalah saja?" Lanjut sang kreator membuka percakapan lain.

"Tidak juga, aku sedang merasa bosan karena tidak ada yang bisa dikerjakan di angkasa. Semua bintang terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka di langit. Matahari sibuk berpikir untuk memberi kehidupan di planet bumi yang juga sibuk berpikir mengerjakan sisa momentum solar nebula. Bulan juga selalu terlihat sibuk dengan pekerjaan nya terhadap samudera. Saat malam tiba untuk sedikit mengurangi rasa jenuh terkadang aku berkumpul bersama  teman-temanku para bintang, berkerlap-kerlip dan berdansa bersama menghiasi langit malam mengelilingi kegelapan total. Namun aku sudah bosan dengan rutinitas langit yang telah berlangsung selama jutaan tahun itu."

"Lantas, apa yang kamu inginkan dariku?" Tanya sang kreator.

"Ava.. Maafkan logat langitku yang agak cadel maksudku apa aku terlihat seperti seseorang yang menginginkan sesuatu?" Tanya balik sang ide.

"Ya, kau terlihat seperti bintang yang membutuhkan bintang lain untuk dipikirkan."

Sang ide tidak membalas percakapan sang kreator. Diam sesaat dan sedikit berpikir ringan. "Aku masih terbayang dengan kejadian 300 juta tahun yang lalu." Lanjut sang ide.

Sang kreator sedikit terperangah terhadap ucapan bintang muda di hadapannya itu. Ia tidak menyangka bahwa sang ide masih memikirkan kejadian tersebut dan belum melepasnya pergi.

Sang kreator melepas kacamata baca dari wajahnya kemudian ia bangkit berdiri dan berjalan mendekati sang ide.

Ia menaruh telapak tangan dari sebelah tangannya di bahu sang ide. "Kita tidak perlu membicarakannya lagi. Langit telah membuat keputusan bahwa  padamnya gelombang cahaya barat bukan hanya kesalahanmu."

"Jujur, apakah aku orang yang pertama kali menghisap jiwanya?" Tidak ada nada ketus, lebih terdengar seperti bisikan.

Kedua entitas yang terlihat berbeda itu saling bertatapan. Di mata lelaki bulu alias sang ide terlihat rasa ingin tahu sementara di mata sang kreator terlihat keyakinan.

"Gadis itu masih berusia sangat muda, cantik dan energik. Ya, kamu adalah malaikat kematian yang pertama kali merenggut cahaya jiwa dari dalam matanya."

"Aku merasa sangat istimewa."

"Merry Christmas."
Sang kreator.

Artist : Iwan Rheon