Terlalu berbeda dengan kakaknya, Kamarnya sangat bersih. Tak barang sejumput seprei pun muncul dari sela-sela kasur. Bantal dan guling tertata rapi saling melengkapi. Jika dilihat dari dinding yang ditempeli poster-poster dan kalender, sepertinya ia tidak pernah merokok di dalam kamar. Itu bukan kebiasaannya walaupun ia seorang perokok. Peter menggantung ransel yang berderet dengan piyama, baju santai, dan topi yang biasa ia pakai untuk memancing. Setelah itu menarik bangku keluar dari kolong meja kemudian duduk di situ. Sebelah tangannya berdiri di atas meja guna memangku wajah, keningnya berkerut. Di sekolah ia baru saja memasuki bab baru pada pelajaran Sosiologi, "Melangkah Bersama Akal Universal". Jika menghadapi kata bersama tentunya berkaitan dengan kata adaptasi. Gurunya menjelaskan bahwa warga universal memiliki pemahaman-pemahaman berbeda mengenai cara hidup dan salah satu pembahasan yang masih nongkrong alias nyangkut di dalam benaknya yaitu mengenai Fas (Gen), Ras (Skin), dan Humanis (Umat). Sang guru memberi pengandaian kepada semua murid di kelas, "Jika suatu hari nanti kalian menjadi orang berpengaruh yang berguna bagi masyarakat dunia, pemahaman manakah yang akan kalian pilih ?". Dengan cepat jawaban datang bertubi-tubi namun teratur dengan suasana konstan. Hanya peter yang tidak menjawab, dalam diamnya berarti ia belum puas dengan gurunya. Hasratnya masih haus penjelasan lebih. Kelihatan sekali ia tak sabar menunggu gurunya mendapatkan giliran bicara.
Sang guru menunjuk seorang anak lelaki yang duduk di dekat jendela, "Apa alasanmu memilih Ras ?". kemudian murid itu menjawab, "Semua yang ada di dunia ini memiliki cetak biru, yang berarti jika kau memotong sedikit saja buah apel maka dari bagian yang sedikit itu kau akan mengetahui secara menyeluruh tentang buah apel. Itu juga berlaku bagi manusia. Sudah sejak lama sekali para ilmuwan menemukan bahwa jika seseorang yang memiliki sel kulit yang sama dengan seseorang yang lain maka mereka berdua memiliki sel jantung yang sama... itu salah satu alasan yang membuat rasisme bersifat lebih universal daripada fasisme. Terlihat seisi kelas begitu terpesona dengan jawaban itu, kecuali Peter.
Peter berdiri, sehingga membuat angle penglihatannya lebih tinggi dari yang lain. Pandangannya tertuju kepada sang guru alih-alih seisi kelas menaruh perhatian kepadanya. Ia menarik nafas panjang bersamaan dengan dadanya yang naik secara perlahan kemudian turun dengan lembut seiring dengan hembusan nafas, lapang dada. Ia berkata kepada sang guru "Atom-atom yang membentuk dirimu serupa dengan atom-atom yang membentuk diriku. Ledakan cahaya yang membentuk dirimu serupa dengan cahaya yang membentuk diriku. kita adalah anak-anak bintang yang meledak milyaran tahun yang lalu, itu yang membuat alasan mengapa sejahat apapun seseorang tetapi nuraninya akan selalu bersinar jika ia mencoba untuk menemukannya." Peter sangat mengagumi humanisme, karena merekalah yang berhasil menyatukan dunia yang memiliki sejarah peperangan total ke dalam harmoni. salah satu tokoh humanis muda yang ia kagumi adalah Rajeev Singh dari India, menurutnya semua manusia setara tak ada kelas atau golongan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kalaupun ada itu hanyalah sebuah ilusi. Dan jika keadaan ada itu terasa begitu nyata, mereka yang saling merendahkan tak menyadari bahwa ego mereka menyetujui kasta, pemahaman kuno yang sudah tidak penting lagi di zaman yang saling kejar mengejar ide ini.
*****
Dering alarm menyadarkan Peter dari benaknya. Waktu sudah menunjukan jam makan siang. Lantas peter beranjak ke lantai bawah untuk menyantap masakan yang sudah disiapkan bibi. Kedua orang tua Peter adalah tipe orang tua yang sibuk. Mereka berdua berangkat kerja pada pagi hari dan pulang menjelang malam. Namun terkadang ibunya menyempatkan diri untuk pulang cepat ke rumah, sebelum magrib paling cepat. Peter bertatap muka dengan ayahnya hanya pada saat makan malam, itu juga sudah beruntung bagi Peter. Pada satu waktu terkadang Peter merindukan ayahnya.
Peter sudah menyelesaikan sarapan siang. Ia kembali ke kamarnya di lantai atas. Duduk di kursi singgasananya di mana ia bebas tenggelam ke dalam pikirannya, lagi. kali ini benaknya menyelam pada momen gurunya menjelaskan mengenai Kepala, Dada, dan Perut. Gurunya menjelaskan bahwa manusia dibagi menjadi 3 golongan yaitu Kepala (Pikiran), Dada (Hati), dan Perut (Nafsu). "Golongan yang manakah yang mencerminkan dirimu ? "Tanya sang guru. Tanpa menunggu jawaban dari para murid sang guru melanjutkan. "Kepala. Manusia tidak seperti hewan. Manusia mampu merancang pikirannya secara kompleks. Sedangkan hewan ? mampukah hewan berpikir secara rumit ? tidak, hewan hanya mengikuti insting. Bahkan hewan tidak menyadari jika mereka hidup. Singkatnya, jika dunia memang seperti ini adanya maka hewan menerima dunia ini seperti ini adanya. Yah kalau dunia ini sudah begini, jalani aja begini (seperti itulah pikiran hewan). Tidak ada hasrat yang mendorong hewan untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik."
Sang guru meneguk sedikit air putih yang sudah disediakan di meja kemudian melanjutkan "Banyak sumbangsih yang diberikan kepada dunia dari mereka yang termasuk dalam golongan kepala. Contohnya adalah Roller coaster(kau pernah naik itu? jika ya kau pasti mengerti perasaan pada saat menaikinya. Sungguh menyenangkan! kita harus berterima kasih kepada mereka yang menciptakan roller coaster.), Internet (Membuka dan memudahkan komunikasi untuk semua orang di seluruh dunia. Zaman dahulu para musafir harus berkeliling dunia untuk belajar dari pengalaman orang lain, zaman sekarang sebaliknya! Tinggal duduk kalem di depan monitor anda dapat mempelajari pengalaman dari seluruh umat manusia di dunia.) Pesawat terbang (Memudahkan kita untuk bepergian jarak jauh.) dan masih banyak lagi kemajuan yang sudah dibuat umat manusia selama peradaban 4000 tahun ini. Beberapa negara yang termasuk ke dalam negara kepala yaitu Jerman, Prancis, dan India."
"Dada atau Hati..
(Bersambung ah..laper gw)