Peter terjaga dari ketidaksadarannya. Ia ketiduran di meja belajar. Sambil memicingkan matanya yang kabur ke arah jam dinding ia berbisik dalam hati, Jam 1 pagi. aku telah melewati jam makan malam.
Dengan tubuh linglung ia beranjak dari meja belajar. Malam ini aku tidak bertemu dengan ayah lagi. Kemudian menuruni tangga sambil menyender dinding untuk menjaga keseimbangan karena kesadarannya belum fokus dengan sempurna. Belum sampai anak tangga terakhir samar-samar Peter mendengar suara televisi yang masih menyala. Meskipun David (kakak Peter) sudah memiliki kamar pribadi tetapi ia selalu tidur di depan televisi di setiap malam. Setelah Peter dan kakaknya beranjak dewasa, ibu Peter memisahkan privasi mereka berdua dengan cara membuat kamar pribadi masing-masing untuk Peter dan David (kakak Peter) dengan maksud mengajarkan psikologi dasar kepada mereka berdua. Para Psikolog mengerti bahwa pendewasaan diri manusia bukan dilihat dari perilaku dan caranya bicara, namun dari cara manusia mengenali hal-hal yang menurut mereka termasuk dalam kategori pribadi atau tidak. Coba bayangkan manusia yang berumur di atas 17 tahun tetapi tidak memiliki privasi, aneh. Nah, sebelum kita kembali pada kalimat yang menjelaskan bahwa pendewasaan diri manusia bukan dilihat dari cara mereka berperilakusaya ingin bertanya kepada kalian para pembaca. Apakah kalian menyukai anak kecil (yang dimaksud anak kecil di sini adalah balita dan sebelum akhir baligh) ? Apakah kalian tertarik secara intelegen terhadap anak bagaimana anak kecil melihat dunia ? jika ya, kalian tidak perlu pemikiran mendalam untuk memahami apa yang akan saya jabarkan dibawah ini.
Terutama anda yang memiliki bayi balita. Tatap matanya dan lihat bagaimana ia menatap anda, tatap matanya secara mendalam. Jika anda memiliki cukup estetika dan kecerdasan emosional pasti anda akan mengerti bagaimana si bayi memandang dunia. Tatapan mata bayi menunjukkan keheranan yang luas biasa dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Pikiran si bayi bertanya-tanya kepada dirinya sendiri,"apa itu ? apa ini ? kenapa wujudnya sama sepertiku ?" kemudian pikiran itu menghilang begitu saja bagaikan air yang mengalir begitu deras karena pikiran bayi belum bisa mengkonkretisasi apa yang ia pikirkan alias pikiran bayi masih abstrak. Anda sebagai orang dewasa menunjukkan mainan mobil-mobilan kepada bayi yang merespon dengan bertanya-bertanya menggunakkan bahasa abstrak, lalu dengan biasa-biasa saja anda menjelaskan kepadanya bahwa ini adalah mobil-mobilan. Anda mengajak bayi jalan-jalan pagi dengan kereta dorong. Tanpa alasan yang jelas si bayi berceloteh sendiri menunjuk-nunjuk sesuatu yang ada di hadapannya, entah itu kucing atau burung gereja atau apa saja yang bisa menjadi sebuah obyek untuk seorang bayi kemudian dengan sikap meremehkan anda menjelaskan seadanya kepada si bayi atau bahkana anda tidak melihat apa yang si bayi tunjuk. Kejadian-kejadian semacam iniliah yang menghambat bahkan menghilangkan daya inteligen dan kecerdasan emosi pada seorang bayi. Apakah anda ingat bagaimana rasanya pertama kali melihat jerapah ? apakah anda ingat bagaimana rasanya menonton telivisi untuk pertama kali? apakah anda ingat bagaimana rasanya masuk sekolah untuk pertama kali ? apakah anda ingat bagaimana rasanya dipeluk untuk pertama kali? apakah anda ingat bagaimana rasanya bermain bola ? apakah anda ingat bagaimana rasanya dan lain-lain (yang dimaksud pertama kali ini adalah ketika anda sudah meiliki pikiran konkret.) Jika anda sudah lupa bagaimana rasanya itu dikarenakan anda tumbuh besar melalui cara pendewasaan diri yang keliru. Orang dewasa menganggap dunia ini biasa saja. Orang dewasa menanamkan pemikiran acuh mendangkal kepada segalanya yang terdapat di dunia. Orang dewasa membuat indera para anak kecil menjadi tumpul. Apakah anda termasuk kedalam kategori orang dewasa seperti itu ?
******
Sudut pandang mengenai Psikologi dasar yang saya jelaskan di atas sebenarnya adalah sebuah pandangan filosofi yang diambil dari ajaran tionghoa(cina daratan) yang kemudian dikembangkan oleh filosof-filosof dunia sehingga menjadi lebih ilmiah. Anda bisa membayangkan bahwa peradaban barat yang menentukan zaman di seluruh dunia ternyata meniru negara tirai bambu jika mengenai kecerdasan emosional. Alasan utama yang menarik perhatian masyrakat barat adalah Peradaban Tiong hoa (khususnya Cina daratan) mampu menyederhanakan pemikiran yang luar biasa rumit menjadi pemikiran yang mudah dimengerti oleh bahkan anak kecil. Kalian pasti tahu pemikirana yang disebut dengan logika ? tidak perlu dijelaskan bahwa itu adalah jalan pemikiran yang paling sederhana di dunia. Jika kalian tersandung batu, logikanya adalah? berdiri. Sangat sederhana kan ? berbeda dengan pemikiran rumit yang mencari penjelasan kenapa batu itu ada di sana ? bagaimana jika seandainya batu itu tidak ada disana mungkin aku tidak akan terjatuh. Tidak banyak yang tahu jika dasar pemikiran logika diserap dari pemikiran Tiong Hoa.
******
Pandangan mata Peter yang mulai terfokus dengan simultan menemukan remot tv tergeletak di samping David yang sedang asyk mengorok. Peter meraih remot itu kemudian menekan tombol merah power off ke arah tv yang sedang menayangkan pertandingan sepak bola antara Juventus melawan As Roma.Angga pasti sedang menonton saluran yang sama, Peter menyeringai dalam hati. Peter mengerti alasan kenapa kakaknya selalu tidur di depan televisi, David termasuk dalam kategori anak nakal yang tidak mau mendengarkan nasihat orang tua apalagi kepada ayahnya yang bersikap tegas kepada David kapanpun di manapun serta dalam situasi apapun tetapi David juga mempunyai sisi mendalam akan perhatiannya terhadap orang tua. David ingin dekat dan menjaga kedua orang tuanya yang sedang tertidur pulas di malam hari. Diam-diam David senang memandangi wajah kedua orangtuanya yang sedang tertidur pulas. Itu menentramkan hatinya yang memiliki predikat nakal.
Angin dingin menghembus Peter sesaat setelah ia menarik pintu kulkas. Peter merupakan orang yang suka memasak dikarenakan kedua orangtuanya yang jarang berada di rumah karena sibuk bekerja. Walaupun ada bibi yang datang pada saat tertentu untuk mengerjakan pekerjaan rumah namun Peter tidak pernah menyuruh bibi untuk melakukan sesuatu yang Peter inginkan (itu menjadi salah satu alasan kenapa Peter pandai memasak karena Peter tidak pernah menyuruh bibi untuk memasak makanan yang ia inginkan). Juga sifat alami seperti itu yang banyak ditiru oleh peradaban dunia, prinsip hidup atau filosofi dasar masyarakat Cina daratan mengajarkan bahwa jangan pernah meminjam jasa/tenaga dan materi kepada orang lain jika kau masih mampu melakukannya sendiri bahkan jika jasa/materi itu merupakan hakmu (kamu sudah mempekerjakan seseorang jika hal yang bersangkutan mengenai jasa/tenaga). Ajaran Cina darata amat sangat menekankan untuk menghormati orang yang lebih tua khususnya orangtua, paman serta kakek di dalam sebuah keluarga. Jika anda pernah membaca tentang persaudaraan Engkong dari Cina daratan yang telah menyebar ke seluruh dunia, saya tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan kepada anda. Terkadang Peter suka tersenyum sendiri jika sedang sendiri. Ia merasa lucu saja bahwa banyak temannya yang merupakan keturunan Tiong Hoa tetapi ia lebih memahami ajaran nenek moyang mereka daripada mereka sendiri
Hhhmmm.... makanan di meja makan sudah dingin, membuatku tidak bernafsu untuk menyantapnya. Hhhhmmmm.... masak apa yah. Setelah menimbang-nimbang sesaat Peter menyodot tangan kanannanya ke dalam kulkas kemudian mengambil dua butir telur dan sejamput sayur sawi. Hhhmm... malam ini aku cukup kaya akan protein.
Bersambung lagi.
Monday, February 1, 2016
Saturday, January 23, 2016
Peter Sang Penyelam
Terlalu berbeda dengan kakaknya, Kamarnya sangat bersih. Tak barang sejumput seprei pun muncul dari sela-sela kasur. Bantal dan guling tertata rapi saling melengkapi. Jika dilihat dari dinding yang ditempeli poster-poster dan kalender, sepertinya ia tidak pernah merokok di dalam kamar. Itu bukan kebiasaannya walaupun ia seorang perokok. Peter menggantung ransel yang berderet dengan piyama, baju santai, dan topi yang biasa ia pakai untuk memancing. Setelah itu menarik bangku keluar dari kolong meja kemudian duduk di situ. Sebelah tangannya berdiri di atas meja guna memangku wajah, keningnya berkerut. Di sekolah ia baru saja memasuki bab baru pada pelajaran Sosiologi, "Melangkah Bersama Akal Universal". Jika menghadapi kata bersama tentunya berkaitan dengan kata adaptasi. Gurunya menjelaskan bahwa warga universal memiliki pemahaman-pemahaman berbeda mengenai cara hidup dan salah satu pembahasan yang masih nongkrong alias nyangkut di dalam benaknya yaitu mengenai Fas (Gen), Ras (Skin), dan Humanis (Umat). Sang guru memberi pengandaian kepada semua murid di kelas, "Jika suatu hari nanti kalian menjadi orang berpengaruh yang berguna bagi masyarakat dunia, pemahaman manakah yang akan kalian pilih ?". Dengan cepat jawaban datang bertubi-tubi namun teratur dengan suasana konstan. Hanya peter yang tidak menjawab, dalam diamnya berarti ia belum puas dengan gurunya. Hasratnya masih haus penjelasan lebih. Kelihatan sekali ia tak sabar menunggu gurunya mendapatkan giliran bicara.
Sang guru menunjuk seorang anak lelaki yang duduk di dekat jendela, "Apa alasanmu memilih Ras ?". kemudian murid itu menjawab, "Semua yang ada di dunia ini memiliki cetak biru, yang berarti jika kau memotong sedikit saja buah apel maka dari bagian yang sedikit itu kau akan mengetahui secara menyeluruh tentang buah apel. Itu juga berlaku bagi manusia. Sudah sejak lama sekali para ilmuwan menemukan bahwa jika seseorang yang memiliki sel kulit yang sama dengan seseorang yang lain maka mereka berdua memiliki sel jantung yang sama... itu salah satu alasan yang membuat rasisme bersifat lebih universal daripada fasisme. Terlihat seisi kelas begitu terpesona dengan jawaban itu, kecuali Peter.
Peter berdiri, sehingga membuat angle penglihatannya lebih tinggi dari yang lain. Pandangannya tertuju kepada sang guru alih-alih seisi kelas menaruh perhatian kepadanya. Ia menarik nafas panjang bersamaan dengan dadanya yang naik secara perlahan kemudian turun dengan lembut seiring dengan hembusan nafas, lapang dada. Ia berkata kepada sang guru "Atom-atom yang membentuk dirimu serupa dengan atom-atom yang membentuk diriku. Ledakan cahaya yang membentuk dirimu serupa dengan cahaya yang membentuk diriku. kita adalah anak-anak bintang yang meledak milyaran tahun yang lalu, itu yang membuat alasan mengapa sejahat apapun seseorang tetapi nuraninya akan selalu bersinar jika ia mencoba untuk menemukannya." Peter sangat mengagumi humanisme, karena merekalah yang berhasil menyatukan dunia yang memiliki sejarah peperangan total ke dalam harmoni. salah satu tokoh humanis muda yang ia kagumi adalah Rajeev Singh dari India, menurutnya semua manusia setara tak ada kelas atau golongan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kalaupun ada itu hanyalah sebuah ilusi. Dan jika keadaan ada itu terasa begitu nyata, mereka yang saling merendahkan tak menyadari bahwa ego mereka menyetujui kasta, pemahaman kuno yang sudah tidak penting lagi di zaman yang saling kejar mengejar ide ini.
*****
Dering alarm menyadarkan Peter dari benaknya. Waktu sudah menunjukan jam makan siang. Lantas peter beranjak ke lantai bawah untuk menyantap masakan yang sudah disiapkan bibi. Kedua orang tua Peter adalah tipe orang tua yang sibuk. Mereka berdua berangkat kerja pada pagi hari dan pulang menjelang malam. Namun terkadang ibunya menyempatkan diri untuk pulang cepat ke rumah, sebelum magrib paling cepat. Peter bertatap muka dengan ayahnya hanya pada saat makan malam, itu juga sudah beruntung bagi Peter. Pada satu waktu terkadang Peter merindukan ayahnya.
Peter sudah menyelesaikan sarapan siang. Ia kembali ke kamarnya di lantai atas. Duduk di kursi singgasananya di mana ia bebas tenggelam ke dalam pikirannya, lagi. kali ini benaknya menyelam pada momen gurunya menjelaskan mengenai Kepala, Dada, dan Perut. Gurunya menjelaskan bahwa manusia dibagi menjadi 3 golongan yaitu Kepala (Pikiran), Dada (Hati), dan Perut (Nafsu). "Golongan yang manakah yang mencerminkan dirimu ? "Tanya sang guru. Tanpa menunggu jawaban dari para murid sang guru melanjutkan. "Kepala. Manusia tidak seperti hewan. Manusia mampu merancang pikirannya secara kompleks. Sedangkan hewan ? mampukah hewan berpikir secara rumit ? tidak, hewan hanya mengikuti insting. Bahkan hewan tidak menyadari jika mereka hidup. Singkatnya, jika dunia memang seperti ini adanya maka hewan menerima dunia ini seperti ini adanya. Yah kalau dunia ini sudah begini, jalani aja begini (seperti itulah pikiran hewan). Tidak ada hasrat yang mendorong hewan untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik."
Sang guru meneguk sedikit air putih yang sudah disediakan di meja kemudian melanjutkan "Banyak sumbangsih yang diberikan kepada dunia dari mereka yang termasuk dalam golongan kepala. Contohnya adalah Roller coaster(kau pernah naik itu? jika ya kau pasti mengerti perasaan pada saat menaikinya. Sungguh menyenangkan! kita harus berterima kasih kepada mereka yang menciptakan roller coaster.), Internet (Membuka dan memudahkan komunikasi untuk semua orang di seluruh dunia. Zaman dahulu para musafir harus berkeliling dunia untuk belajar dari pengalaman orang lain, zaman sekarang sebaliknya! Tinggal duduk kalem di depan monitor anda dapat mempelajari pengalaman dari seluruh umat manusia di dunia.) Pesawat terbang (Memudahkan kita untuk bepergian jarak jauh.) dan masih banyak lagi kemajuan yang sudah dibuat umat manusia selama peradaban 4000 tahun ini. Beberapa negara yang termasuk ke dalam negara kepala yaitu Jerman, Prancis, dan India."
"Dada atau Hati..
(Bersambung ah..laper gw)
Sang guru menunjuk seorang anak lelaki yang duduk di dekat jendela, "Apa alasanmu memilih Ras ?". kemudian murid itu menjawab, "Semua yang ada di dunia ini memiliki cetak biru, yang berarti jika kau memotong sedikit saja buah apel maka dari bagian yang sedikit itu kau akan mengetahui secara menyeluruh tentang buah apel. Itu juga berlaku bagi manusia. Sudah sejak lama sekali para ilmuwan menemukan bahwa jika seseorang yang memiliki sel kulit yang sama dengan seseorang yang lain maka mereka berdua memiliki sel jantung yang sama... itu salah satu alasan yang membuat rasisme bersifat lebih universal daripada fasisme. Terlihat seisi kelas begitu terpesona dengan jawaban itu, kecuali Peter.
Peter berdiri, sehingga membuat angle penglihatannya lebih tinggi dari yang lain. Pandangannya tertuju kepada sang guru alih-alih seisi kelas menaruh perhatian kepadanya. Ia menarik nafas panjang bersamaan dengan dadanya yang naik secara perlahan kemudian turun dengan lembut seiring dengan hembusan nafas, lapang dada. Ia berkata kepada sang guru "Atom-atom yang membentuk dirimu serupa dengan atom-atom yang membentuk diriku. Ledakan cahaya yang membentuk dirimu serupa dengan cahaya yang membentuk diriku. kita adalah anak-anak bintang yang meledak milyaran tahun yang lalu, itu yang membuat alasan mengapa sejahat apapun seseorang tetapi nuraninya akan selalu bersinar jika ia mencoba untuk menemukannya." Peter sangat mengagumi humanisme, karena merekalah yang berhasil menyatukan dunia yang memiliki sejarah peperangan total ke dalam harmoni. salah satu tokoh humanis muda yang ia kagumi adalah Rajeev Singh dari India, menurutnya semua manusia setara tak ada kelas atau golongan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Kalaupun ada itu hanyalah sebuah ilusi. Dan jika keadaan ada itu terasa begitu nyata, mereka yang saling merendahkan tak menyadari bahwa ego mereka menyetujui kasta, pemahaman kuno yang sudah tidak penting lagi di zaman yang saling kejar mengejar ide ini.
*****
Dering alarm menyadarkan Peter dari benaknya. Waktu sudah menunjukan jam makan siang. Lantas peter beranjak ke lantai bawah untuk menyantap masakan yang sudah disiapkan bibi. Kedua orang tua Peter adalah tipe orang tua yang sibuk. Mereka berdua berangkat kerja pada pagi hari dan pulang menjelang malam. Namun terkadang ibunya menyempatkan diri untuk pulang cepat ke rumah, sebelum magrib paling cepat. Peter bertatap muka dengan ayahnya hanya pada saat makan malam, itu juga sudah beruntung bagi Peter. Pada satu waktu terkadang Peter merindukan ayahnya.
Peter sudah menyelesaikan sarapan siang. Ia kembali ke kamarnya di lantai atas. Duduk di kursi singgasananya di mana ia bebas tenggelam ke dalam pikirannya, lagi. kali ini benaknya menyelam pada momen gurunya menjelaskan mengenai Kepala, Dada, dan Perut. Gurunya menjelaskan bahwa manusia dibagi menjadi 3 golongan yaitu Kepala (Pikiran), Dada (Hati), dan Perut (Nafsu). "Golongan yang manakah yang mencerminkan dirimu ? "Tanya sang guru. Tanpa menunggu jawaban dari para murid sang guru melanjutkan. "Kepala. Manusia tidak seperti hewan. Manusia mampu merancang pikirannya secara kompleks. Sedangkan hewan ? mampukah hewan berpikir secara rumit ? tidak, hewan hanya mengikuti insting. Bahkan hewan tidak menyadari jika mereka hidup. Singkatnya, jika dunia memang seperti ini adanya maka hewan menerima dunia ini seperti ini adanya. Yah kalau dunia ini sudah begini, jalani aja begini (seperti itulah pikiran hewan). Tidak ada hasrat yang mendorong hewan untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik."
Sang guru meneguk sedikit air putih yang sudah disediakan di meja kemudian melanjutkan "Banyak sumbangsih yang diberikan kepada dunia dari mereka yang termasuk dalam golongan kepala. Contohnya adalah Roller coaster(kau pernah naik itu? jika ya kau pasti mengerti perasaan pada saat menaikinya. Sungguh menyenangkan! kita harus berterima kasih kepada mereka yang menciptakan roller coaster.), Internet (Membuka dan memudahkan komunikasi untuk semua orang di seluruh dunia. Zaman dahulu para musafir harus berkeliling dunia untuk belajar dari pengalaman orang lain, zaman sekarang sebaliknya! Tinggal duduk kalem di depan monitor anda dapat mempelajari pengalaman dari seluruh umat manusia di dunia.) Pesawat terbang (Memudahkan kita untuk bepergian jarak jauh.) dan masih banyak lagi kemajuan yang sudah dibuat umat manusia selama peradaban 4000 tahun ini. Beberapa negara yang termasuk ke dalam negara kepala yaitu Jerman, Prancis, dan India."
"Dada atau Hati..
(Bersambung ah..laper gw)
Subscribe to:
Comments (Atom)